Samita - Novel Berlatar Belakang Kunjungan Cheng Ho ke Majapahit - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Samita

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 1 September 2022 12:30 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Samita - Novel Berlatar Belakang Kunjungan Cheng Ho ke Majapahit

    Samita karya Tasaro adalah novel berlatar belakang kunjungan Cheng Ho ke Majapahit. Novel yang disajikan ala ceita silat ini menggambarkan Tiongkok sebagai negara yang cinta damai dan selalu mengupayakan persahabatan. Tiongkok juga digambarkan sebagai negara yang tidak memusuhi Islam.

    Dibaca : 1.020 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Samita

    Penulis: Tasaro

    Tahun Terbit: 2008 (Cetakan kedua)

    Penerbit: DAR! Mizan

    Tebal: 208

    ISBN: 979-752-093-5

     

    Novel “Samita” karya Tasaro mengisahkan seorang perempuan tionghoa di jaman Majapahit. Perempuan tersebut bernama Hui Sing. Hui Sing digambarkan sebagai murid, sekaligus anak angkat dari Laksamana Cheng Ho. Hui Sing bersama dengan dua murid Cheng Ho lainnya ikut pelayaran Cheng Ho ke Majapahit. Tokoh Hui Sing digambarkan sebagai gadis ceria, cerdas dan mempunyai kemampuan beladiri yang tinggi. Selain Hui Sing, kedua murid Cheng Ho lainnya adalah Sien Feng dan Juen Sui.

    Perjalanan rombongan Cheng Ho terhambat karena salah satu anggotanya, yaitu Wang Jin Hong mengalami sakit cacar. Cheng Ho dan rombongannya memutuskan untuk singgah di Simongan (Semarang) untuk mengobati Wang Jin Hong. Di Simongan rombongan Cheng Ho bertemu dengan Ki Legowo, seorang mantan anggota Bhayangkara Majapahit yang telah mengundurkan diri. Rombongan Cheng ho diterima dengan baik oleh masyarakat Simongan. Kehadiran rombongan Cheng Ho membuat masyarakat Simongan menjadi lebih sejahtera karena mereka diajari bertani.

    Kisah berlanjut dengan kondisi Majapahit yang semakin lemah. Majapahit melemah karena Wikramawardana – Sang Raja, bersifat lemah. Kelemahan Wikramawardana ini menyembabkan banyak intrik di kalangan pejabat keraton. Intrik yang terjadi menimbulkan ketidakpuasan berbagai pihak dan memicu berbagai pemberontakan. Salah satunya adalah pemberontakan Blambangan.

    Tasaro membumbui kisahnya dengan tokoh-tokoh penuh nafsu, kelicikan, pengkhianatan dan cinta. Penuturan disajikan ala cerita silat Kho Ping Ho yang detail dengan penggambaran jurus-jurus sakti saat perkelahian. Tasaro juga melengkapi novelnya dengan tokoh-tokoh yang lazim muncul dalam komik silat seperti Ki Singo Ireng, Kolo Ireng, Lowo Ijo, Dewi Kecapi Maut dan sebagainya. Penuturan dan nama tokoh semacam ini adalah meliteralkan gambar komikal.

    Meski ringat untuk dibaca – karena alur ceritanya tidak berbelit dan tidak bercabang-cabang, namun Tasaro membekali novel ini dengan pesan-pesan nilai. Yang menarik bagi saya penggambaran rombongan Cheng Ho yang mewakili Dinasti Ming (Tiongkok) yang Islami, tegas, penuh welas asih dan selalu mengupayakan persahabatan.

    Penggambaran rombongan Cheng Ho seperti di atas menjadi sangat menarik di era hubungan Indonesia – Tiongkok yang makin mesra. Melalui penggambaran tersebut, Tasaro seakan mau menyampaikan bahwa Tiongkok bukan musuh Islam.

    Kehidupan Islami rombongan Cheng Ho sangat toleran kepada kehidupan beragama lain. Dalam novel ini digambarkan di beberapa halaman Hui Sing dan Cheng Ho melaksanakan shalat dengan tertib. Cheng Ho dan rombongannya tidak semuanya Islam. Ada beberapa anggota rombongan yang beragama Budha. Namun kehidupan rombongan ini penuh dengan sikap saling menghargai. Perjumpaan Cheng Ho dengan Ki Legowo di Simongan dan Hui Sin dengan Respati, Kepala Pasukan Bhayangkara Majapahit digunakan oleh Tasaro untuk menggambarkan damainya perjumpaan Islam dengan Hindu. Ki Legowo dan Respati beragama Hindu.

    Sebagai duta Dinasti Ming, Cheng Ho digambarkan sangat tegas. Cheng Ho tidak mau bertoleransi terhadap aturan-aturan yang harus ditaati. Contohnya adalah saat menangani kasus penyerangan rombongannya yang sedang beristirahat di Simongan oleh tentara Majapahit yang dipimpin oleh Turonggo Petak. Setelah berhasil mengalahkan sang penyerang, Cheng Ho membahas kasus ini dengan Wikramawardhana. Cheng Ho secara tegas bahwa Majapahit harus membayar denda karena kasus tersebut. Meski tegas, Cheng Ho penuh welas asih. Dalam pertempuran Cheng Ho dan pasukannya berusaha untuk tidak membunuh. Melainkan hanya melumpuhkan lawannya.

    Ketegasan dan welas asih juga ditunjukkan saat Cheng Ho mengemban tugas meringkus Chen Zhuyi, bromocorah asal Chaozhou yang membuat kekacauan di Palembang. Meski Chen Zhuyi sangat kejam dan sangat bernafsu untuk membunuh, namun Cheng Ho hanya menangkapnya dan membawanya ke Tiongkok.

    Nilai kedua yang saya dapat dari novel ini adalah tentang lemahnya pemimpin itu berbahaya. Wikramawardhana yang digambarkan sebagai Raja yang lemah dalam kepemimpinan adalah biang kerok semua masalah di Majapahit. Ketidaktegasan dan lambatnya dalam mengambil keputusan membuat orang-orang jahat yang berada di lingkaran dalam keraton mengambil kesempatan untuk mengambil keuntungan. Para oportunis ini tidak peduli dengan keutuhan dan kejayaan Majapahit. Mereka menggunakan politik kotor yang secara keji mengorbankan koleganya.

    Kelemahan kecil dari novel ini adalah kurangtelitinya Tasaro. Contohnya adalah nama raja Singasari yang memotong telinga utusan  Tiongkok yang disebut sebagai Jayanegara. Nama raja yang benar adalah Kertanegara. Jayanegara sendiri adalah raja kedua Majapahit anak dari Raden Wijaya. 699

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.