Mensyukuri Semua Pemberian dan Kegagalan - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 5 September 2022 14:05 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Mensyukuri Semua Pemberian dan Kegagalan

    Kita bersyukur ketika berhasil mendapat sesuatu. Itu lazimnya. Tapi sebaiknya kita juga bersyukur atas apa yang lolos. Mengapa demikian?

    Dibaca : 746 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mensyukuri Semua Pemberian dan Kegagalan

     

    Bambang Udoyono, penulis buku

     

    Kemarin saya mendapatkan terjemahan quote Shams Tabrizi yang sangat menarik, tidak kalah menarik dari quotes Rumi.   Tidak heran karena Shams Tabrizi adalah seorang yang sangat berpengaruh kepada Rumi. Dengan kata lain dia sesunguhnya gurunya Rumi.  Sayang karya Tabrizi malah kalah mashur tapi namanya tetap dikenang sampai sekarang.  Mari kita tengok quote sang maestro ini.

     

    Lengkapnya demikian.  Be thankful! It is easy to be grateful when all is well.  a Sufi is thankful not only for what he has been given but also for all that he has been denied. (Bersyukurlah.  Mudah saja bersyukur ketika semuanya baik.  Seorang sufi bersyukur tidak hanya atas apa yang sudah diberikan padanya  tapi juga atas apa yang tidak diberikan kepadanya)

    Mensyukuri apa yang lolos

     

    Kalimat terakhirnya itu sangat spesial.  Biasanya kita bersyukur atas pemberian Tuhan.  Saya yakin tidak banyak orang yang bersyukur atas apa yang tidak diberikan Tuhan kepadanya.  Biasanya jika kita mengalami kegagalan lantas merasa kecewa, sedih, bahkan ada yang sampai stress. Sebenarnya wajar saja kita memiliki perasaan seperti itu.  Semua orang pasti  memiliki keinginan dan cita cita.  Apabila dia sudah berupaya maksimal lalu gagal ya wajar saja kecewa.  Tapi yang penting kita cepat pulih dari emosi negatif itu.  Kita harus berupaya mengatasi, menguasai rasa kecewa itu agar jangan sampai mendominasi.  Tujuannya agar jangan sampai kita rugi sendiri kalau didominasi perasaan itu.

     

    Dulu pernah ada sekelompok pelajar SMA yang sangat akrab.  Mereka sering belajar bersama terutama ketika menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi negeri.  Setelah lulus SMA mereka tidak memiliki kegiatan lagi sehingga mereka sering berkumpul di rumah salah seorang anggota kelompok untuk belajar.  Setiap pagi mereka berlatih  mengerjakan soal  ujian masuk perguruan tinggi negeri.  Ketika pendaftaran kuliah dibuka mereka juga bersama sama mendaftar dan ikut ujian masuk.  Beberapa bulan kemudian ketika hasil ujian diumumkan mereka semua diterima di perguruan tinggi negeri kecuali satu orang.  Dia tentu saja sangat kecewa.  Saking kecewanya dia menjauhkan diri dari teman teman lamanya.

     

    Masih banyak lagi contoh lain. Saya yakin Anda pernah melihat seseorang yang sangat kecewa dengan kegagalannya. Kemudian dia bertindak negatif berdasar kegagalannya tersebut. Sesungguhnya dia sedang merugikan dirinya sendiri.

    Allah menyelamatkan dan memberi yang lebih baik

     

    Shams Tabrizi sudah melihat potensi kerugian orang yang didominasi rasa kecewa berlebihan.  Maka dia menganjurkan kita menguasainya. Sejatinya ada hikmah di balik semua kejadian.  Ketika Allah tidak mengijinkan kita mendapat sesuatu sesungguhnya Allah sedang memberi yang lebih baik untuk kita. Mungkin juga Allah sedang menyelamatkan kita dari sesuatu keburukan.  Memang belum tentu sekolah A itu buruk tapi ada yang dampaknya lebih baik untuk kita.   Maka Allah memberikan yang lebih baik itu untuk kita.

     

    Demikian juga ketika kita tidak diterima bekerja di sebuah instansi atau perusahaan tertentu.  Sejatinya Allah sedang memberikan sesuatu yang dampaknya lebih baik untuk kita.   Yang perlu saya garis bawahi adalah  akibatnya atau kecocokannya untuk kita, bukan instansi atau perusahaan itu. 

     

    Dalam artikel berjudul “Cara Menyikapi Lebih Penting Dari yang Terjadi” saya sudah memaparkan bahwa keadaan baik bisa berdampak buruk. Jadi kalau kita gagal mencapai sesuatu sejatinya Allah sedang menyelamatkan kita dari dampak buruknya. Dan Allah sedang memberi kita sesuatu yang lebih baik dampaknya. Meskipun bisa saja sekilas sesuatu itu kalah mentereng atau kalah moncer.

     

    Demikian jalan hidup kita.  Kadang awalnya kita menginginkan lewat karir tertentu tapi ternyata kita melewati jalur lain.  Sering jalan hidup kita dibelokkan.  Semuanya adalah Allah yang mengatur.   Kita harus rido menerima semua keputusan Allah.  Jangan sekali sekali grenengan (menggerutu).

    Benang merah

     

    Keadaan baik bisa berdampak buruk. Keadaan buruk bisa berdampak baik. Jadi ketika kita tidak diterima kuliah di Universitas idaman dan diterima di universitas yang kalah nama besarnya, bersyukurlah.  Tatkala kita gagal masuk instansi atau perusahaan idaman, bersyukurlah. Ketika order yang hampir didapat lolos dari genggaman, bersyukurlah. Semuanya pasti ada hikmahnya. Sejatinya Allah sedang menyelamatkan dari sesuatu keburukan dan memberi yang lebih baik. Sudahkah Anda bersyukur atas apa yang lolos?  Mari kita syukuri semuanya agar Allah melipatgandakan karuniaNya.   

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Dien Matina

    3 hari lalu

    Antre

    Dibaca : 215 kali