Tiga Hal yang Dikhawatirkan atas Viralnya Konten Zavilda TV - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Luna Septalisa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Agustus 2022

Jumat, 9 September 2022 19:40 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Tiga Hal yang Dikhawatirkan atas Viralnya Konten Zavilda TV

    Viralnya konten Zavilda TV menimbulkan keresahan dan kekhawatiran akan konten-konten sejenis yang menjual agama demi uang dan popularitas. Setidaknya ada tiga hal serius yang dikhawatirkan sekaligus menjadi catatan penting atas konten-konten Zavilda TV. Simak tulisan berikut.

    Dibaca : 608 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Baru-baru ini kanal YouTube Zavilda TV panen kritik dan hujatan dari warganet gara-gara kontennya yang memaksa perempuan untuk berjilbab. Desakan kepada pihak Zavilda TV agar men-takedown semua video di semua media publikasi telah memunculkan petisi daring di change.org demi mengawal kasus ini. 

    Konten yang diklaim sebagai eksperimen sosial itu kerap menyasar perempuan-perempuan di ruang publik yang kedapatan tidak berjilbab dan berpakaian terbuka dengan dalih “berdakwah”. Warganet menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh pihak Zavilda TV tidak menghargai perbedaan dan keberagaman di Indonesia. Tindakannya ini juga pernah mendapat teguran dari @lombokinfluencer, manajemen yang menaungi Zavilda TV, agar berhati-hati dalam pembuatan konten yang menyinggung SARA. 

    Singkat cerita, setelah ramai diserang warganet, salah seorang talent yang diajak berpartisipasi dalam salah satu konten Zavilda TV mengaku kalau itu atas kemauannya sendiri, bukan dipaksa. Namun, tidak sedikit juga perempuan yang mengaku sebaliknya. 

    Ada yang mengaku kalau sebenarnya tidak memberi izin videonya dipublikasikan, tapi nyatanya tetap tayang. Ada yang meminta agar videonya di-takedown tapi ditolak dengan alasan viewers-nya sudah banyak. Pengakuan mereka bisa disimak di akun instagram @perempuanberkisah. 

    Viralnya konten Zavilda TV memang menimbulkan keresahan dan kekhawatiran akan konten-konten sejenis yang menjual agama demi uang dan popularitas. Setidaknya ada tiga hal serius yang dikhawatirkan sekaligus menjadi catatan penting atas konten-konten Zavilda TV. 

    1. Objektifikasi Tubuh Perempuan

    Selain bermasalah dari segi konten, judul dan thumbnail-nya pun terkesan mengobjektifikasi perempuan.

    Meski Zavilda mengaku kalau pihaknya sudah mendapat persetujuan dari talent yang dipaksa memakai jilbab, itu tetap tidak mengubah fakta bahwa nilai seorang perempuan telah direduksi sekadar soal tubuhnya saja. Tubuh perempuan diperlakukan sebagai objek atau komoditas untuk mendulang viewers dan cuan dengan pemberian judul yang provokatif dan thumbnail yang menampilkan kemolekan tubuh perempuan. 

    Salah satu perempuan yang buka suara kepada @perempuanberkisah menuturkan bahwa ia diminta untuk memakai pakaian yang lebih terbuka agar viewers-nya naik dan viral. Adapun korban lainnya yang mengaku pernah diminta untuk buka jilbab dan merokok. 

    Ada pandangan patriarkis yang kental dalam konten-kontennya, di mana perempuan diposisikan sebagai penjaga moral. Tubuh perempuan dipandang sebagai sumber godaan sehingga cara berpakaian, berdandan, berjalan, berbicara dan berperilaku diatur menurut pandangan patriarki. Seolah-olah tubuh perempuan bukan otoritasnya sendiri. 

    Akibatnya, selalu saja ada stereotipe bahwa perempuan yang berpakaian terbuka adalah perempuan nakal, murahan, penggoda sehingga kalau mereka diganggu atau dijadikan objek fantasi seksual oleh laki-laki itu wajar. Dan solusi yang ditawarkan adalah tubuh mereka harus ditutup rapat. 

    2. Melanggengkan stereotipe negatif perempuan bercadar

    Selain perempuan yang berpakaian terbuka, perempuan bercadar juga kerap mendapat anggapan-anggapan miring, seperti radikal, konservatif, intoleran dan antek teroris. Sayangnya, konten-konten Zavilda TV, bukannya melawan dengan menampilkan sisi perempuan bercadar yang lebih toleran dan cinta damai, malah secara tidak langsung ikut mengamini pandangan tersebut. 

    Dampaknya adalah di lingkungan di mana muslim menjadi minoritas, perempuan berjilbab dan bercadar tak jarang mengalami diskriminasi dan persekusi akibat stereotipe-stereotipe tentang mereka yang terlanjur diyakini sebagai kebenaran.

    Gara-gara setiap ada berita tentang aksi terorisme atau gerakan-gerakan konservatisme dan radikalisme selalu menampilkan perempuan bercadar, jadilah semua perempuan yang bercadar dianggap demikian. 

    Selain merusak citra perempuan bercadar, lebih luas lagi, ia telah merusak citra umat dan agama Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Ibarat peribahasa, “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. 

    3. Berpotensi memicu RTS (Religious Trauma Syndrome

    Mengutip dari perspectivesholistictherapy.com, RTS merujuk pada masalah psikologis yang diakibatkan oleh pengalaman, pesan, doktrin dan pengajaran keagamaan.

    RTS (ada juga yang menyebutnya trauma spiritual) bisa terjadi akibat seseorang pernah mengalami kekerasan yang dilakukan oleh tokoh agama/spiritual atau tumbuh di lingkungan yang memiliki pemahaman dan interpretasi keagamaan atau spiritualitas yang konservatif dan toksik. 

    Contohnya, kasus pemaksaan jilbab terhadap siswi SMAN 1 Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta yang membuat siswi tersebut depresi. Meski ia seorang muslimah dan dengan alasan apapun gurunya melakukan hal tersebut, yang namanya intimidasi dan pemaksaan hanya akan membuat orang takut dan tidak nyaman. 

    Coba bayangkan, bagaimana jika di antara para korban (baik yang sudah bersuara maupun yang belum) ada yang pernah mengalami RTS atau trauma spiritual di masa lalunya? Bukankah kejadian serupa bisa men-trigger traumanya? Tidak ada yang tahu persis kan, bagaimana pengalaman atau kondisi psikis mereka, selain diri mereka sendiri? 

    Kalau pun dilakukan dengan dalih "mengingatkan sebagai saudara sesama muslim", pendekatannya pun terkesan lancang dan ugal-ugalan.

    Mengapa?

    Pertama, Zavilda tidak mengenal mereka, tapi sudah menghakimi macam-macam.

    Harus diakui bahwa tidak semua orang suka diingatkan atau dinasihati tanpa diminta. Jangankan kepada orang yang tidak dikenal, kepada yang sudah kenal dekat saja, mereka bisa uring-uringan. 

    Kedua, pengalaman, perjalanan dan ekspresi keagamaan/spiritualitas seseorang berbeda-beda sehingga harus dihormati.

    Bagi Zavilda atau para muslimah lain yang sudah bisa istikamah dalam berjilbab itu bagus. Namun, bukan berarti kita boleh merasa lebih suci, kemudian menghina dan menghakimi perempuan yang tidak berjilbab dengan pandangan-pandangan negatif. Kita tidak benar-benar tahu mengapa mereka belum mau berjilbab atau apakah di kemudian hari mereka akan mengenakannya atau tidak. 

    Mau dilabeli dengan embel-embel dakwah pun rasanya konten Zavilda TV seperti kehilangan esensi dari dakwah yang ramah-bukan marah-marah, mengajak-bukan mengejek, merangkul-bukan memukul dan menggembirakan-bukan menebar ketakutan. 







    Ikuti tulisan menarik Luna Septalisa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.