Kebahagian yang Sementara - Analisis - www.indonesiana.id
x

Miri pariyas

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2021

Sabtu, 17 September 2022 07:14 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kebahagian yang Sementara

    Kita memang sering menyambut bulan Agustus dengan penuh semangat yang membara hingga berapi-api. Tak ada muka murung adanya tawa yang mengelegar.  Namun, pasca itu banyak orang yang terjebak pada rutinitas yang melelahkan. Sedangkan, tak ada ajaran bagaimana kebahagian itu menjadi hal yang terus menurus terjadi. Kemerdekaan pun hanya sebatas perayaan, setelah itu tak ada nilai perayaan yang sesungguhnya. Dan September ini,  jadi perayaan yang teramat sulit bagi kami.

    Dibaca : 398 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Usailah perayaan tujuh belasan yang digelar meriah diberbagai pelosok desa hingga kota. Menggelar lomba hingga mengundang tawa yang tak pernah usai. Saling bertepuk tangan dan saling bersorak, tak kenal muda dan tua semua penuh dengan kebahagiaan.

    Lomba itu buat orang makin empati, makin erat kekeluarganya, mau bekerjasama, hingga menimbulkan banyak inovasi yang luar biasa, baik panitia ataupun peserta lomba. Seperti, kemerdekaan memang benar-benar ada.

    Kesimpulannya, Agustus memang bulan yang dinanti-nanti oleh semua kalangan. Sebab, bulannya bikin orang bahagia. Sama halnya dengan Doni—seorang—pelajar SMP yang mengagumi bulan itu.

    “Kemarin, Agustus itu penuh dengan kebahagian ya, kak,” imbuh Doni

     “Iya, memang,” imbuh si kakak, yang bernama Alex

    “Tetangga rumah kita yang jarang keluar saja juga ikut nimbrung,  saling sorak gembira hingga tawa ditambah dengan alunan lagu, sungguh meriah bulan kemarin,” kata si Doni

    “Iya, memang,” singkat jawab si Alex

    “Apalagi ketika pembagian hadiah, ketika kita makan bersama dengan tetangga, suasana menjadi indah dan langkah, ya kakak,”

    “Iya, memang,”

    “Lah, kakak kok ya memang dari tadi,” kesal lah Doni dengan jawaban Alex.

    Harapan Doni, sebenaranya hanya ingin saling bertukar cerita. Akan tetapi, Alex merespon dengan tak acuh. Mereka tak lagi bercerita, namun beberapa waktu kemudian Alex mengajak Doni untuk keluar rumah.

    “Ayo ikut aku,” ajak Alex

    “Kemana?” tanya Doni

    “Sudahlah ayo!!!!”

    Alex mengendarai motornya bersama Doni. Menuju jalan Abdul Muis, suasana sangat ramai. Tak ada kalimat yang dapat diceritakan di atas kendaraan, sebab Doni sudah kecewa dengan peristiwa tadi. Padahal dia amat binggung dengan ajakan kakaknya itu. Beberapa jam tibalah mereka di sebuah SPBU-Jakarta Abdul Muis.

    “Kakak kalau mau beli bensin di eceran aja, ini ngantre sekali,”

    “Sudah sampai, sabar saja!”

    “Kakak yang ngantre, aku duduk di sana,”

    “Oke,”

    Hampir tiga puluh menit mengantre, barulah si Alex mendapat bahan bakar tersebut.

    “Terus kita kemana?”

    “Pulang,”

    “Kak, kalau cuma ngajak aku ke sana buat beli bensin, ya mending aku main game di rumah. Di samping rumah toh juga ada warung kelontong tinggal beli bensin di sana gak usah jauh-jauh ke sini.”

    Tapi, Alex tak menanggapi gerutu adeknya.

    ***

    Pagi harinya, Alex sengaja mengajak Doni untuk berolahraga bersama selesai menjalani ibadah sholat subuh.

    “Ayo, ikut aku, olahraga,”

    “Kakak, sendiri aku ngantuk gara-gara ngantre di pom bensin kemarin,” ketus si adek

    “Alah lebay, baru cuma tiga puluh menit saja, sudah menggerutu. Nanti, aku belikan sesuatu untuk kamu. Ayolah ikut!” paksanya

    “Beneran ya, awas kalau bohong!” dengan tatapan sinis.

    Ketika berlari santai di perempat jalan sekitar rumah mereka. Terlihat seorang lelaki rentan, berbadan kurus, berambut putih, sambil memegang karung berwarna putih dengan melelah tong sampah.

    “Eh, jangan lihat begitu,”

    “kasihan ya, si kakek itu, ya kakak.”

    Sekitar 30 menit kembali, mereka pun dapati seorang perempuan yang juga berbadan kurus, memakai kerudung, dan menjajakan dagangannya berupa sayuran dengan mendorong gerobok.

    “Kakak, bukannya itu perempuan yang sering lewat di depan rumah ya, kakak?”

    “Iya,”

    “Setiap berangkat sekolah, aku lihat ibu sering membeli dagangannya,”

    “Iya, benar.”

    Sekian jam telah dilalui dengan keringat yang mengguyur badan, mereka memutuskan untuk beristirahat di samping jalan. Tiba-tiba Alex memulai percakapan.

    “Apa yang kamu lihat selama kita berolahraga,”

    “Banyak kakak, kakek tua, ibu pedagang sayur, jalan yang masih sepi, dan udara yang segar,”

    “Apakah kamu bersyukur?”

    “Iya, kakak,”

    Tiba-tiba seseorang pria tua dengan pakaian lusuh dan compang-camping menghampiri mereka sambil menyodorkan sebuah mangkuk yang berisikan uang recehan. Doni melihatnya dan menampilkan senyum tulus dan memberikan uang kepada pria itu.

    “Ini, ya pak,”

    “Terima kasih, nak,”

    “Kakak, kita enak makan di sini. Tapi, kakek itu masih mencari uang untuk sesuap nasi,”

    “Iya, benar. Don, sewaktu diriku mengajak kamu pergi ke SPBU, sebenarnya tidak hanya sekadar membeli bensin, tapi ada hal yang ingin ku beri tahu, ketika kamu bercerita kegembiraanmu soal perayaan hari kemerdekaan.”

    Lalu, cepatlah dipotong oleh Doni dengan penuh rasa heran dan bertanya-tanya

    “Maksudnya?”

    “Sebenarnya, kemerdekaan Indonesia masih belum ada, Don. Coba kamu lihat berita hari ini negera sedang menaikkan BBM, katanya untuk rakyat, sih. Tapi, kamu lihat sendiri bagaimana fenomena yang sesungguhnya, masih ada pemulung, masih ada pengemis, dan masih ada perempuan yang menjajakan dagangannya di pagi hari. Di mana yang lainnya sedang terlelap tidur dengan penuh kenyamanannya ataupun masih melakukan aktivitas pekerjaan rumah tangga. Akan tetapi, mereka harus pagi-pagi hari meninggalkan suasana itu atau bisa jadi dia akan lebih pagi mengerjakan hal itu. Artinya, mereka sejak pagi hari sudah mengabdikan dirinya untuk bekerja, tapi!!!?

    “Tapi, apa kakak?”

    “Tapi, mereka tetap saja tak merdeka, bahkan kalau pun mereka bekerja dari pagi sampai malam. Belum tentu pula mengubah nasib mereka. Sedangkan, kalau pun dinaikkan BBM hari ini lalu disumbangkan ke mereka, itu belum juga mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka,”

    “Kok, bisa, kakak?”

    “Sebab, semua kebutuhan semua naik, Don. Selain itu, Agustus kemarin itu hanya kebahagian sementara, sedangkan kita September ini, penguasa seenaknya saja menaikan tanpa melihat bagaimana hal tersebut terjadi,”

    “Ternyata, ceritaku kemarin malam itu hanya kebahagian semantara ya,”

    “Ya.”

    Kita memang sering menyambut bulan Agustus dengan penuh semangat yang membara hingga berapi-api. Tak ada muka murung adanya tawa yang mengelegar.  Namun, pasca itu banyak orang yang terjebak pada rutinitas yang melelahkan. Sedangkan, tak ada ajaran bagaimana kebahagian itu menjadi hal yang terus menurus terjadi. Kemerdekaan pun hanya sebatas perayaan, setelah itu tak ada nilai perayaan yang sesungguhnya. Dan September ini,  jadi perayaan yang teramat sulit bagi kami.

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Miri pariyas lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.