Sayup-sayup Cerita Tentang Jombang dari Kacamata Kolonial

Kamis, 29 September 2022 07:37 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Daratan Jombang yang terdiri dari endapan kuarter dan endapan alluvial sungai membuat kota ini sejajar dengan Mojokerto dan Sidoarjo sebagai sentra gula di Jawa Timur. Kota gula ini tidaklah terlalu banyak diceritakan oleh orang-orang Eropa. Maka dari itu, cerita tentang Jombang cukuplah sayup-sayup terdengar.

Jombang sebagai heart of East Java menyimpan sebuah kisah tentang sebuah kota di masa kolonial. Lahirnya Jombang sebagai kota tidak terlepas dari dampak kebijakan liberalisasi ekonomi yang diterapkan di Hindia-Belanda sejak terbitnya Undang-Undang Gula tahun 1870. Berdirinya dua belas industri gula di Jombang menyebabkan kota ini semakin penuh sesak oleh aktivitas penduduk. Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie (8/9/1909) berupaya memberikan gambaran mengenai Djombang (ejaan lama) sebagai kabupaten yang sulit dikendalikan. Dampaknya tak main-main, kriminalitas semakin merajalela di penjuru kota. Pernyataan itu merujuk pada berbagai surat kabar yang memberitakan mengenai kriminalitas di Jombang.

De Courant (22/1/1903) memberitakan tewasnya Tuan Birkenholz, seorang administrator Kali Djarak dengan luka tembak dikepala. Dugaan surat kabar itu ia tewas akibat tembakan senapan flobert 6 mm yang ditemukan di samping mayatnya. Berbeda dengan Het Nieus van den dag voor Nederlandsch-Indie (22/9/1909) memberitakan mengenai hukuman satu tahun terhadap Frits Jansen atas pembunuhan kepada Kasmin, sopir gerobak di Pabrik Gula Tjoekir. Kriminalitas yang semakin marak di Jombang membuat asisten residen kelabakan. Berkaca dari itu, Pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk mengeluarkan Indische Staatblad no.553 mengenai SK Gubernur Jenderal Hindia-Belanda tentang pemisahan Mojokerto menjadi dua afdeeling, yaitu Mojokerto dan Jombang.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Jombang Ala Belanda

Sesuai dengan Indische Staatblad no. 172 tahun 1887, Jombang beribukota di Djombang (dengan nama yang sama). Batas-batas wilayah ibukota Djombang, yaitu: Kaliwoengoe, Kepandjen, Djoembatan, Djombang, Kaoeman, Denanjar, Wersah, Sidobajan, Sengon, Kepatihan, Toegoe, dan Poelo. Nama-nama itu masih dijumpai di wilayah seputaran Jombang Kota (julukan ‘ibukota Jombang’). Merajalelanya kriminalitas di Jombang tidak sebanding dengan banyaknya penduduk kota ‘kecil’ ini. Jumlah penduduk per 1905 sebanyak 421.000 penduduk. Maka dari itu, kabupaten ini terbilang sepi. Lahan-lahan di sepanjang kabupaten ini lebih banyak digunakan sebagai lahan perkebunan, beberapa diantaranya lahan persawahan dan perkebunan tebu. Tak ayal, industri utama di Jombang adalah pabrik gulanya yang dapat dijumpai apabila berkeliling dengan spoor (kereta api).

Indische Staatblad no. 299 tahun 1928 menuliskan mengenai zelfstanding gemeenschap Kabupaten Jombang menjadi empat distrik, yaitu Distrik Jombang, Distrik Ploso, Distrik Mojoagung, dan Distrik Ngoro. Keempat distrik itu masih dijumpai dengan nama yang sama. Jombang bagian selatan berada dilembah utara Gunung Arjuno dan Anjasmoro serta barat Gunung Pinanggungan (Penanggungan). Dataran tanah ini cukup subur dengan tanah lumpur berwarna merah. Catatan kolonial juga memberikan gambaran mengenai tanah Jombang yang terdiri dari endapan kuarter dan endapan alluvial sungai (Nijhoff, 1939: 29-30). Hampir sama dengan saat ini, apabila ingin berkunjung ke Jombang, cukup dengan menggunakan transportasi kereta api dengan jalur Surabaya-Modjokerto-Djombang yang terhubung menuju Batavia dan Anjer (Anyer).

 

Kota Gula ‘Mati’

Jombang sebagai kota berbasis gula atau kota gula membuktikan dirinya sebagai kota mati akibat kejayaan gula yang telah berakhir pada tahun 1939. Willem Walraven menceritakan mengenai kosongnya soos. Soos merupakan kependekan dari societeit yang merupakan tempat mejeng-nya orang-orang Belanda. Catatan perjalanan Modjokerto in de Motregen karya Willem Walraven mencoba mengkisahkan tidak dihancurkannya soos. Harapannya adalah agar suatu saat nanti opera lengkap dengan orkestra kembali manggung di Jombang. Tetapi kenyataannya tak seindah ekspektasi mereka.. Tiga tahun pasca lesunya industri gula akibat krisis malaise, Hindia-Belanda jatuh ke pangkuan Jepang.

 

Akhir

Kata sayup-sayup tampaknya cocok untuk menggambarkan Jombang sebagai sebuah kota. Sumber-sumber primer tentang Jombang tidaklah terlalu banyak. Old Town tidak akan pernah anda ditemukan Jombang. Bangunan-bangunan lawas telah punah atau sudah hancur akibat Perang Revolusi 1945-1949 yang menyeruak di Jawa Timur. Benar kata orang mengenai ‘Jombang punya apa?’ Hal inilah yang tampaknya cocok untuk menggambarkan kabupaten kecil ini. Salahsatu sumber berbahasa Belanda menyebutkan ‘Jombang sebagai sebuah kota tidak memiliki sesuatu yang menarik’. Imej Jombang sebagai kota yang tidak menarik sampai saat ini dipertahankan oleh kota ini.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Dimas Bagus Aditya

Jadikan Jiwa Mudamu Mengukir Sejarah!

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler