Target Dua Tahun Lagi Indonesia Stop Impor Aspal, Keputusan Result Oriented, atau Process Oriented ? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ketegasan Jokowi

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Rabu, 5 Oktober 2022 07:10 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Target Dua Tahun Lagi Indonesia Stop Impor Aspal, Keputusan Result Oriented, atau Process Oriented ?

    Pak Jokowi menegaskan target 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal. Ini merupakan gaya kepemimpinan Pak Jokowi yang “Result Oriented”. Pak Jokowi fokus kepada hasil akhir. Pak Jokowi juga sudah pernah mengatakan bahwa yang ada hanyalah “visi dan misi” Presiden. Hilirisasi aspal Buton adalah visi dan misi Presiden. Kelihatannya sekarang para Menteri terkait merasa kebingungan. Bagaimana cara mewujudkan target Pak Jokowi dalam 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal?. Padahal selama 8 tahun pemerintahan Pak Jokowi, pemerintah sudah berhasil membangun ribuan kilo meter jalan-jalan Tol di seluruh wilayah Indonesia. Masak membangun 6 buah pabrik ekstraksi aspal Buton saja, pemerintah tidak bisa? Tidak heran kalau Pak Jokowi sering marah-marah terus, karena hilirisasi aspal Buton tak kunjung terwujud.

    Dibaca : 635 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Baru-baru ini Presiden Joko Widodo telah datang mengunjungi Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Pak Jokowi melakukan peninjauan ke Pabrik Aspal PT Wika Bitumen di Kabupaten Buton. Dalam kunjungannya itu, Pak Jokowi menemukan “harta karun” aspal yang jumlahnya sangat besar. Berikut 4 faktanya:

    1. Harta Karun berupa 662 juta ton aspal.
    2. RI impor 5 ton aspal per tahun.
    3. Pak Jokowi targetkan 2 tahun lagi stop impor aspal.
    4. Asing maupun BUMN dipersilahkan garap.

    Atas dasar 4 fakta di atas, Pak Jokowi merasa mantap dan percaya diri bahwa 2 tahun lagi Indonesia akan stop impor aspal. Pak Jokowi berharap dengan distopnya impor aspal 2 tahun lagi, maka semua jajaran Kementerian-kementerian terkait, perusahaan-perusahaan BUMN, dan perusahan-perusahaan swasta nasional dan asing akan meningkatkan upaya-upayanya agar target Pak Jokowi, 2 tahun lagi stop aspal impor akan dapat terwujud.

    Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa Indonesia sudah mengimpor aspal selama 42 tahun lebih. Jadi kalau Pak Jokowi menargetkan 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal, maka diperlukan upaya-upaya yang sangat luar biasa besarnya atau biasa disebut juga sebagai “unsusual business”. Jadi kalau dihitung 2 tahun mulai dari sekarang, maka pada tanggal 1 Oktober 2024, Indonesia harus sudah bisa stop impor aspal. Dan menggantikannya dengan aspal Buton. Karena pada tanggal 20 Oktober 2024, masa jabatan Pak Jokowi sebagai RI 1 akan berakhir. Dan Pak Jokowi akan digantikan oleh Presiden Republik Indonesia yang baru. Apakah mungkin Pak Jokowi akan mampu memenuhi targetnya?

    Menurut perhitungan secara matematika, target 2 tahun Indonesia stop impor aspal adalah tidak mungkin. Mengapa ? Karena untuk mengsubstitusi aspal impor sebesar 1,5 juta ton per tahun dengan aspal Buton diperlukan pabrik ekstraksi aspal Buton sebanyak 6 buah dengan kapasitas masing-masing pabrik sebesar 250.000 ton per tahun. Sedangkan untuk membangun pabrik-pabrik ekstraksi aspal Buton tersebut memerlukan waktu minimal 2 tahun, dengan asumsi pabrik-pabrik ekstraksi aspal Buton tersebut wajib sudah harus dimulai pembangunannya pada hari ini juga.

    Yang menarik dari keputusan Pak Jokowi agar 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal adalah untuk dapat kita mencermati bersama, bagaimana gaya kepemimpinan Pak Jokowi sebenarnya. Apakah “Result Oriented” atau “Process Oriented”?

    Result Oriented:

    Gaya kepemimpinan Pak Jokowi ini cenderung fokus pada hasil akhir (2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal). Meskipun juga memikirkan proses, Pak Jokowi kerap kali memusatkan perhatian pada target-target. Hal ini tentu sangat baik. Karena dengan fokus kepada “Target”, maka para Menteri-menteri terkait akan berusaha dan berupaya semaksimal mungkin untuk dapat mencapai “Target” tersebut. Para Menteri akan mencari jalan bagaimanapun caranya agar “Target” dapat tercapai. Sehingga dengan demikian jajaran Kementerian-kementerian terkait akan bisa lebih produktif, inovatif, dan lebih cepat menyelesaikan tugas-tugasnya.

    Yang perlu menjadi perhatian adalah jika tidak hati-hati, gaya kepemimpinan yang ”Result Oriented” ini berpeluang mau melakukan apapun juga demi mencapai tujuan. Hal ini mencakup prosedur yang kurang baik, kompetisi yang kurang sehat, serta proses-proses lainnya yang serupa.

    Process Oriented:

    Gaya kepemimpinan “Process Oriented” fokus pada proses dan langkah-langkah. Meski begitu, mereka juga memikirkan target-target. Mereka selalu mengutamakan, apakah proses telah dijalankan dengan baik? Apakah jika ada langkah-langkah yang dilakukan berbeda, maka kesuksesan ini akan bisa lebih besar, atau malah akan menjadi lebih kecil?

    Hal ini tentu sangat baik. Bagaimanapun, pekerjaan tertentu harus punya prosedur dan etika yang tidak boleh dilanggar. Gaya kepemimpinan seperti ini dianggap terlihat terlalu kaku, bahkan perfeksionis. Karena semua langkah-langkah harus mereka jalani sesuai dengan prosedur yang berlaku.

    Apabila kita mau membandingkan gaya-gaya kepemimpinan mana yang lebih baik, antara “Result Oriented” dengan “Process Oriented”? Kedua gaya kepemimpinan ini adalah sama-sama baiknya. Sekarang tinggal bagaimana kita akan menggunakannya sesuai dengan situasi dan kondisi persoalan yang sedang dihadapi.

    Mengingat masa pemerintahan Pak Jokowi tinggal tersisa 2 tahun lagi, maka keputusan Pak Jokowi untuk menargetkan 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal adalah sudah tepat dan benar. Pak Jokowi paham benar dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapinya pada saat ini. Ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa: “Waktu adalah musuh terbesar”. Dan musuh terbesar Pak Jokowi pada saat ini adalah pada akhir tahun 2024, masa pemerintahan Pak Jokowi akan berakhir. Dan Pak Jokowi ingin memberikan hadiah yang paling berharga dan indah untuk seluruh rakyat Indonesia di akhir masa pemerintahannya. Yaitu dengan stop impor aspal, dan menggantikannya dengan aspal Buton.

    Target 2 tahun lagi Indonesia stop aspal jangan di maknai sebagai arti dari kata per kata atau tersurat, tetapi harus dimaknai sebagai apa yang tersirat dari kalimat tersebut. Yang tersirat dari kalimat tersebut adalah bahwa ekspresi Pak Jokowi betul-betul marah, jengkel, dan geram melihat fakta bahwa selama ini Indonesia mengimpor aspal dalam jumlah sangat besar sekali (5 juta ton per tahun?). Sedangkan di Pulau Buton terdapat deposit aspal alam yang jumlahnya sangat melimpah. Mungkin Pak Jokowi juga merasa kesal dan malu dengan dirinya sendiri. Karena selama 8 tahun pemerintahannya beliau tidak menerima informasi dan data-data yang lengkap dan akurat dari para Menterinya mengenai perkembangan hilirisasi aspal Buon.

    Setelah Pak Jokowi menargetkan 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal, maka apa langkah-langkah selanjutnya?. Apakah masalah hilirisasi aspal Buton ini akan stop sampai di sini saja?. Atau masih harus menunggu instruksi Pak Jokowi selanjutnya?. Pak Jokowi sudah pernah mengatakan bahwa yang ada hanyalah “visi dan misi Presiden”. Sekarang Pak Jokowi sudah menegaskan bahwa visi dan misi Presiden adalah 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal. Sekarang bagaimana cara semua jajaran Kementerian-kementerian terkait untuk menyikapi dan menindak lanjuti instruksi Pak Jokowi ini?.

    Instruksi Pak Jokowi agar 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal, bukanlah untuk pertama kali Pak Jokowi mengucapkannya. Pada awal tahun 2015, Pak Jokowi sudah pernah menginstruksikan kepada semua jajaran Kementerian-kementerian terkait agar aspal impor digantikan oleh aspal Buton. Tetapi mirisnya, sampai saat ini instruksi tersebut masih belum juga terwujud. Jadi bagaimana dengan instruksi Pak Jokowi agar 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal? Apakah akan dapat terwujud 2 tahun lagi?.

    Mungkin gaya kepemimpinan “Result Oriented” Pak Jokowi harus didukung oleh gaya kepemimpinan “Process Oriented” dari pada Menteri-menterinya. Langkah-langkah yang harus dilakukan selanjutnya oleh para Menterinya, sejatinya adalah sangat mudah dan sederhana. Pemerintah harus membangun Pabrik Ekstraksi Aspal Buton. Kalau pemerintah selama ini telah mampu membangun ribuan kilo meter jalan-jalan Tol di seluruh wilayah Indonesia, masak membangun 6 buah pabrik ekstraksi aspal Buton saja tidak bisa? Tidak heran kalau Pak Jokowi selama ini sering marah-marah terus, karena hilirisasi aspal Buton tak kunjung terwujud.     

    Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.