PAN Cemas Berharap pada Ganjar, KIB Bisa Bubar? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 1 November 2022 13:23 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • PAN Cemas Berharap pada Ganjar, KIB Bisa Bubar?

    PPP dan PAN sedang harap-harap cemas, sebab cemas berharap pada Ganjar Pranowo agar mau dicapreskan melalui koalisi KIB. Golkar mungkin akan bilang: memangnya Airlangga Hatarto mau dikemanakan?

    Dibaca : 2.038 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Mungkinkah usia Koalisi Indonesia Bersatu [KIB] tidak akan panjang? Pertanyaan ini muncul lantaran PAN dan PPP sedang asyik memanas-manasi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo agar mau dicapreskan oleh kedua partai politik. Bahkan, elite PAN sudah menyebut nama yang layak disandingkan bersama Ganjar, yaitu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

    Kedua elite partai politik seakan tidak peduli dengan kenyataan bahwa Ganjar itu masih kadernya PDI-P. Sedangkan partai ini, tentu saja maksudnya Megawati, belum menentukan siapa yang akan diusung oleh PDI-P, apakah benar Puan Maharani atau malah Ganjar. Tampaknya, nama Ganjar akan dimainkan sebagai kartu As oleh PDI-P, yang akan dikeluarkan pada waktu yang tepat.

    Karena itu, meski dianggap kurang sopan kok berani menyatakan siap jadi capres saat ditanya jurnalis, Ganjar mendapat sanksi lebih ringan daripada FX Rudy, yang menyatakan mendukung jika Ganjar maju nyapres. Andaikan Ganjar dipecat saat ini gegara pernyataan tersebut, PAN dan PPP mungkin saja akan langsung menarik Ganjar.

    Saat ini, dalam lingkup KIB, belum ada kesepakatan mengenai siapa yang akan dicapreskan oleh koalisi ini. Golkar sendiri menginginkan Airlangga Hatarto maju sebagai capres, tapi dua partai sekoalisinya kelihatannya kurang sreg walaupun pimpinan PAN dan PPP belum menyatakan secara formal. Meski begitu, dengan menyebut-nyebut nama Ganjar dan Ridwan Kamil, boleh jadi ini juga isyarat kedua partai bahwa mereka pesimis bila mengusung Airlangga. Kurang populernya Arilangga dalam berbagai survei kelihatannya membuat elite PPP dan PAN ragu-ragu.

    Soalnya kemudian bagaimana Golkar menyikapi perkembangan situasi ini. Jika kedua partai sekoalisi betul-betul tidak setuju mengusung Airlangga, sedangkan di saat yang sama tidak alternatif lain dari dalam koalisi, akankah Golkar setuju mencapreskan Ganjar? Itupun jika Ganjar setuju dan tidak dicalonkan oleh PDI-P atau memilih keluar dari PDI-P. Akankah situasi ini yang akan terjadi?

    Sebagai partai besar sejak zaman Orde Baru, sanggupkah Golkar lagi-lagi mengusung capres dari partai lain, bahkan kader partai yang jadi kompetitornya sejak lama? Mampukah Golkar menghadapi realitas politik tidak mampu mengusung capres dari internal Golkar sendiri? Ataukah Golkar pada akhirnya memilih bersikap pragmatis, seperti halnya PPP dan PAN, yang terpenting adalah mengusung capres yang berpeluang besar untuk menang?

    Ataukah Golkar akan mengambil opsi lain, yaitu berkoalisi dengan PDI-P dan menduetkan Airlangga dengan Puan tanpa mempedulikan popularitas Ganjar? Atau akhirnya PDI-P mengusung Ganjar dan menggandeng Airlangga—sebab toh PDI-P butuh sekutu, sedangkan Puan diberi peran sebagai ketua umum partai. Bila kemudian opsi ini yang dipilih, PPP dan PAN tak punya pilihan lain kecuali ikut dalam barisan PDI-P dan Golkar. Yang penting, peluang memenangi kontestansi capres semakin besar.

    Bila itu yang terjadi, maka ada tiga capres dalam pilpres mendatang: Puan-Airlangga, Prabowo-Muhaimin, lalu Anies-dan cawapresnya. Bila kemudian pasangan Puan-Airlangga memenangkan pilpres, maka keberhasilan ini lebih dikarenakan kerja mesin organisasi partai. Walaupun kedua figur ini tidak populer dalam survei-survei, kerja mesin organisasi bisa jadi akan berhasil membujuk rakyat untuk memberi suara pada kedua politikus ini.

    Sekali lagi, bila itu yang terjadi, mungkin saja Gerindra dan PKB kembali ke pelukan PDI-P dan lain-lain itu, dan mengulang kembali membentuk gerbong pemerintahan seperti yang sekarang. Jadi, skenario status quo akhirnya terwujud?

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.