x

Situasi kepadatan dalam perayaan Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, 29 Oktober 2022. Foto: Alland Dharmawan

Iklan

trimanto ngaderi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 September 2022

Selasa, 1 November 2022 18:56 WIB

Halloween: Ketika Pesta Berubah Menjadi Duka

Amat disayangkan apabila sebuah perayaan berubah menjadi malapetaka. Sebuah pesta sukacita berubah menjadi pesta dukacita. Padahal tujuan diadakannya sebuah perayaan atau pesta adalah mendapatkan hiburan, kesenangan, dan kebahagiaan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Setelah tragedi Kanjuruhan, kini masyarakat dunia dikejutkan dengan tragedi perayaan Halloween, di Itaewon, Korea Selatan pada Sabtu, 29 Oktober 2022. Setidaknya ada 154 orang korban meninggal yang rata-rata masih berusia remaja, termasuk ratusan lainnya yang mengalami luka-luka dan yang dinyatakan hilang.  Ribuan massa yang berkerumum di sebuah jalan sempit membuat mereka berdesak-desakan dan kemudian terinjak-injak sehingga menyebabkan henti jantung (cardiac arrest).

Secara singkat, festival Halloween berasal dari tradisi bangsa Celtic kuno Samhain, di kawasan Britania Raya, ketika orang-orang menyalakan api unggun dan mengenakan kostum khusus untuk mengusir hantu. Tradisi ini terjadi sekitar abad ke-8, di mana perayaan dilaksanakan tanggal 1 November.

Mereka yang merayakan festival tersebut percaya bahwa pada malam hari sebelum perayaan, yakni tanggal 31 Oktober, roh orang-orang yang sudah meninggal akan berkunjung kembali ke rumah mereka. Ketika itu, banyak orang yang percaya bahwa roh-roh jahat akan muncul kembali ke dunia untuk mengganggu bangsa Celtic. Guna menakuti para roh jahat tersebut, orang-orang Celtic kemudian melakukan sebuah ritual di puncak bukit dengan cara menyalakan api unggun dan mengenakan kostum.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Perayaan Halloween pada mulanya adalah tradisi kaum pagan, kemudian berubah menjadi tradisi keagamaan (Kristen), dan kini menjadi sebuah perayaan yang bersifat global yang dilakukan baik dalam lingkup keluarga maupun secara massal. Perayaan Halloween terus mengalami perubahan seiring dengan perubahan nilai dan perubahan sosial di masyarakat.

Namun amat disayangkan apabila sebuah perayaan berubah menjadi malapetaka. Sebuah pesta sukacita berubah menjadi pesta dukacita. Padahal tujuan diadakannya sebuah perayaan atau pesta adalah mendapatkan hiburan, kesenangan, dan kebahagiaan.

Lalu bagaimana jika yang diperoleh adalah sebaliknya: dukacita, kesedihan, dan kepiluan? Setidaknya ada 4 hal yang menjadi penyebab sebuah pesta berubah menjadi duka, yaitu:

  1. Berpikir Tak Logis

Tidak sedikit para peserta perayaan Halloween yang hanya sekedar ikut-ikutan, euforia, tren, atau apalah itu. Mereka tak tahu persis untuk apa merayakan Halloween, apa manfaatnya, dan seberapa pentingkah mengikuti event tersebut.

Karena kebanyakan mereka masih berusia remaja, mereka jarang sekali menggunakan logika dalam melakukan sebuah tindakan tertentu. Mereka lebih mengandalkan gejolak jiwa remaja yang sedang dalam pencarian identitas. Akhirnya mereka mudah sekali terbawa arus mainstream, terombang-ambing, dan labil.

 

  1. Lupa Diri

Dalam suasana hiruk-pikuk pesta, euforia perayaan, dan gegap-gempita kemeriahan; membuat mereka ada yang menari, menyanyi, berteriak-teriak, histeria, maupun berkata dan bertingkah laku yang aneh dan tak wajar.

Semua situasi tersebut akan membuat mereka menjadi lupa diri. Lupa siapa dirinya yang sesungguhnya, lupa waktu, tidak sadar akan situasi di sekeliling, mengabaikan aturan, dll.

 

  1. Emosi Tak Terkontrol

Selain emosi-emosi yang terkait dengan kegembiraan, kesenangan, sukacita, gairah, semangat, dan semacamnya; mereka pun memiliki luapan-luapan emosi negatif, yang sekiranya tak terkendali akan bisa mengakibatkan malapetaka.

Emosi-emosi negatif itu di antaranya kebencian, iri-hati, kemarahan, dendam, dll. Hal ini bisa memicu tindakan anarkis seperti tawuran, perkelahian, perusakan fasilitas umum, hingga perbuatan kriminal.

 

  1. Penggunaan NAPZA

Sebuah pesta atau perayaan besar selalu identik dengan penggunaan narkotika, miras, maupun zat adiktif lainnya. Sebagian ada yang meyakini bahwa tidak sah rasanya sebuah pesta jika tidak disertai dengan mabuk-mabukan, mengonsumsi narkoba, atau yang lainnya.

Aktivitas tersebut tentu akan membuat pelakunya berpikir tak logis, lupa diri, atau emosi tak terkontrol yang bisa memicu tindakan-tindakan negatif lainnya. Mereka akan memiliki kecenderungan untuk berbuat dan berperilaku yang merugikan dan membahayakan orang lain.

 

Halloween di Indonesia

Indonesia pun pada dasarnya tidak menganggap Halloween sebagai hari raya. Bahkan, dengan berbagai takhayul dan sejarah kelam yang melingkupinya, Indonesia menolak perayaan tradisional tersebut dan mencapnya sebagai salah satu hari "pemujaan setan"! Namun, dalam beberapa tahun terakhir, beberapa titik di Indonesia nampak menggunakan tema Halloween sebagai keseruan liburan menjelang akhir tahun.

Akhir kata, sebagai orang yang beriman, tentu kita dianjurkan untuk memilih dan memilah mana kegiatan yang positif dan mana kegiatan yang negatif. Mampu untuk membedakan mana acara yang bermanfaat dan mana acara yang mudharat. Adalah tugas bagi para orang tua untuk mengarahkan putra-putri mereka yang masih remaja agar senantiasa berbuat dan berperilaku yang baik dan benar.

 

Orang yang menonton pertandingan sepak bola di Stadion Kanjuruhan adalah ingin memperoleh kenikmatan dan kesenangan. Mereka yang ikut perayaan Halloween di Itaewon juga ingin mendapatkan kegembiraan dan kemeriahaan.

Jangan sampai pesta berubah menjadi duka!

 

 

Ikuti tulisan menarik trimanto ngaderi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler