Perbedaan Diskusi dengan Eyel-eyelan - Humaniora - www.indonesiana.id
x

ilustr: distractify

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 7 November 2022 20:22 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Perbedaan Diskusi dengan Eyel-eyelan

    Perbedaan utama, kalau dalam diskusi yang memakai nalar sehat dasarnya sikap terbuka dulu. Tujuannya adalah mencari kebenaran, bukan kemenangan.  Jadi belum ada kesimpulan yang ditarik di awal. Kalau eyel eyelan, masing-maisng pihak sejak awal sudah ada kesimpulan, opini, asumsi yang tidak akan diuubah. Tujuannya adalah mencari kemenangan, mengalahkan lawan dengan menyerang asumsi, opini dan pendapat lawan.

    Dibaca : 1.191 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Di zaman saya sekolah dulu ada frasa waton suloyo yang suka disingkat wts.  Ini frasa dari bahasa Jawa yang artinya asal beda.  Ketika ada seseorang yang punya suatu pendapat atau pandangan atau opini lantas ada orang lain yang menyanggah tapi tanpa data akurat, tanpa penalaran yang kuat, apalagi landasan teori.  Jadi hanya asal  beda pendapat saja maka dia dikatakan wts – waton suloyo, alias asal beda.  Dasarnya hanya asal asalan saja.  Landasan sesungguhnya adalah ketidaktahuan, kemalasan belajar, kemalasan mempertanyakan asumsi yang sudah memfosil, emosi, kecurigaan, rasisme dsb.

    Dalam era demokrasi ini ketika keran kebebasan dibuka lebar lebar terbukalah peluang buat para wts jenis ini. Mereka boleh omong dan nulis apa saja kapan saja, sak karepe dewe alias semaunya sendiri.

    Jadi sikap wts ini hanya akan mengarah pada debat kusir atau dalam bahasa Jawanya eyel-eyelen. Alias adu eyelan.

    Bukankah di era demokrasi boleh saja berdiskusi?  Tentu saja boleh.  Tapi ada perbedaan substansial antara diskusi dengan eyel eyelan.  Apakah bedanya diskusi berbobot dengan eyel-eyelan? 

    Perbedaan utama, kalau dalam diskusi yang memakai nalar sehat dasarnya sikap terbuka dulu. Tujuannya adalah mencari kebenaran, bukan kemenangan.  Jadi belum ada kesimpulan yang ditarik di awal.  Setelah semua pihak memaparkan pikirannya lalu dibahas, dipikir barulah ditarik kesimpulan.  Sejatinya tidak ada pemenang dan tidak ada pecundang.  Lawan berdiskusi adalah teman berpikir.  Itulah prinsipnya.  Jadi semua pihak belajar. Lagipula ada adab. Bahasa yang dipakai adalah bahasa sopan. Saling menghormati. Tidak ada serangan kepada pribadi. 

    Bagaimana dengan eyel eyelan?  Di sini sejak awal sudah ada kesimpulan, opini, asumsi yang tidak akan dirubah.  Tujuannya adalah mencari kemenangan, mengalahkan lawan dengan menyerang asumsi, opini dan pendapat lawan, bahkan menyerang pribadi lawan diskusi, adu ngeyel. Tujuan menghalalkan segala cara. Cara apapun dianggap benar asal lawan kalah.   Kata kata kasar dan makian juga dipakai. Tidak ada adab yang diterapkan.

    Eyel eyelan alias wts ini tidak ada manfaatnya sama sekali.  Itulah sebabnya eyel eyelan ini tidak dianjurkan dalam Islam.  Muslim bahkan diperintahkan untuk menghindarinya.  Beda dengan belajar. Kalau itu muslim malah sangat dianjurkan.

    Bahkan ada iming iming hadiah untuk muslim yang bersedia meninggalkan debat kusir. Hadiahnya tidak tanggung tanggung yaitu surga. Hal ini ada dalam hadits berikut ini.

    "Siapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga." (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Anas bin Malik). 

    Pilihannya sudah sangat jelas.  Silahkan pilih mana. Diskusi atau eyel eyelan, alias wts. Monggo.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.