Gegar Budaya, Baik dan Buruknya Perbedaan Budaya - Analisis - www.indonesiana.id
x

Perbedaan Budaya selalu memberikan kejutan bagi yang mengalaminya, ia seperrti dua sisi mata uang, satu sisi memberikan kita beberapa masalah akan tetapi disisi yang lain ada banyak simbol-simbol baru sebagai pengetahuan,

MUHAMMAD UMAR KHADAFI

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 Oktober 2022

Minggu, 13 November 2022 07:33 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Gegar Budaya, Baik dan Buruknya Perbedaan Budaya

    Perbedaan Budaya selalu memberikan banyak kejutan kepada siapa saja yang berjalan dalam realitasnya, ia seperti dua sisi mata uang. satu sisi kita akan mendapatkan banyak ketidaknyamanan akan tetapi disisi yang lain ada banyak makna yang dapat kita pelajari. Simbol-simbol baru tersebut menjadikan kita kaya akan pengetahuan

    Dibaca : 559 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sastra sebagai Sumber Pemahaman Antarbudaya

    Perbedaan budaya memberi kesan tersendiri bagi orang-orang yang mengalaminya, kesan mengagetkan tentu saja karena banyak Tindakan, sikap, tutur kata, cara berpakaian, Bahasa yang sangat berbeda dengan kegiatan yang sebelumnya seringkali menjadi rutinitas kita sehari-hari. Semua simbol-simbol itu berinteraksi dengan latar belakang yang berbeda-beda dan dengan cara mereka masing-masing.

    Mungkin ada yang masih banyak yang belum mengetahui lebih jauh artian dari culture shock atau penulis menyebutnya Efek Kejut dari perbedaan Budaya. Kalvero Oberg dalam Dedy Mulyana dan Jaluddin Rakhmat ia menyebut culture shock dengan sebutan Gegar Budaya. Yang menurutnya itu merupakan sebuah “penyakit” yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatan yang diderita oleh orang-orang yang ketika secara tiba-tiba mendapat tugas di tempat baru.

    Kenapa culture shock disimbolkan sebagai sebuah penyakit, apakah hal ini dikarenakan perubahan sikap dan prilaku yang tidak wajar bagi orang yang mengalaminya? Artinya jika hal ini benar maka pastilah terdapat tanda-tanda yang bisa kita pahami untuk melihat penyakit tersebut. Kata Kalvero Oberg tanda-tanda dari Gegar Budaya itu adalah buang air kecil, minum,makan dan tidur yang berlebihan kemudian takut untuk kontak fisik secara langsung dengan orang lain, tatapan mata yang kosong kemudian perasaan tidak berdaya dan keinginan untuk terus bergantung dengan kawan satu daerah. Sejauh itu ketakutan yang dirasakan ketika kita masuk kedalam budaya baru.

    Meminjam perkataan Richard E. Porter dan Larry A. Samovar dalam Dedy Mulyana dan Jaluddin Rakhmat bahwa budaya itu akan selalu berkenaan dengan cara hidup manusia. Manusia itu belajar berfikir, merasakan, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budaya masing-masing. Budaya akan selalu lekat dengan komunikasi sulit juga untukk dipisahkan karena budaya itu bukan sebatas menentukan siapa yang berbicara dengan siapa  perihal apa, dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang dimiliki pesan tersebut dan kondisi-kondisi dalam mengirim serta memperhatikan dan menafsirkan pesan. Artinya ketika ada budaya maka pasti disana juga akan ada komunikasi di seperti dua mata uang cukup berbeda namun bersebelahan dan berdampingan.

    Menurut Richard E. Porter dan Larry A. Samovar adanya kemiripan budaya dalam sebuah persepsi akan juga meberikan makna yang mirip pula terhadap sebuah objek atau peristiwa yang sedang berlangsung. Proses kita berkomunikasi, keadaan-keadaan komunikasi kita, Bahasa dan gaya Bahasa yang selalu kita gunakan maupun juga tindakan-tindakan nonverbal kita, semuanya merupakan respon dan funsgi dari budaya kita. Komunikasi pasti selalu akan terikat dengan budaya.

    Proses komunikasi yang terjadi antara dua budaya akan selalu melibatkan berbagai bentuk komunikasi seperti komunikasi Verbal atau secara lisan (langsung) dan komunikasi Nonverbal dengan menambahkan tanda-tanda atau Gerakan yang biasanya akan menyusul pesan yang disampaikan Bahasa Verbal. Dalam diskursus perbedaan budaya interkasi yang terjadi pasti akan melibatkan komunikasi Verbal dan Non Verbal bagi seorang yang pendatang dengan penduduk asli setempat ataupun juga seorang pendatang yang sudah lama menetap. Akan tetapi lebih jauh dari itu perbedaan budaya akan selalu seperti dua sisi mata uang, akan selalu ada potensi masalah ditemukan namun ada banyak manfaat yang bisa dirasakan dampak dari perbedaan budaya yang ditemukan dalam kehidupan bermasayarakat.

    Masalah dalam perbedaan Budaya

    Perbedaan budaya acap kali mengguak beberapa masalah, yang paling sering timbul pertanyaa ketika berada dalam suasana baru yaitu bagaimana menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.? Hal tersebut tidak lepas karena banyaknya perbedaan mulai dari yang paling ringan sekalipun sampai yang berat beberapa contoh yang sering menjadi masalah adalah perbedaan makanan, perbedaan cara bersikap, beda Bahasa, perbedaan gaya hidup, banyaknya tanda-tanda non verbal (symbol) yang berbeda dan masih banyak lagi. Masalah tersebut menimbulkan tanda-tanda gegar budaya yang signifikan seperti yang dikatakan oleh Kalvero Oberg diatas. Setiap komponen tersebut hematnya tidak ingin dirasakan oleh kita, namun kita tidak bisa juga pungkiri bahwa perbedaan budaya itu memang akan kita rasakan ketika berpindah ketempat baru.

    Perumpaan dan tanda-tanda tersebut diatas mungkin sejalan dengan perilaku dan tindakan-tindakan penulis yang mengalami Culture Shock  ketika pertama kali berangkat dari Kota Bengkulu menuju Kota Yogyakarta atau Jogja bahwa efek kejut dari perbedaan budaya tersebut memang sangat terasa. Jogja yang memiliki karakter masyarakat begitu lembut dalam tutur kata, santun dalam tingkah sangat berbeda dengan orang-orang dari Pulau Sumatera dengan suara yang tinggi dan sikap yang agak “nyeleneh” dalam artian baik. Namun itu bukan patokan utama ya dalam menilai orang lain tetapi hal tersebut yang dirasakan oleh penulis. Selain itu makanan pun juga memberikan Efek Kejut bagi penulis, makanan didaerah Jogja memiliki dominasi rasa yang cenderung manis sementara di daerah Sumatera hamper merata didominasi makanan yang kaya rempah, rasa yang beragam dan pedas.

    Akan tetapi Culture Shock Tidak hanya sebatas itu lebih luas meliputi juga kegiatan-kegiatan lain misalnya saja akademis. Teringat yang disampaikan kawan sejawat dari Provinsi Jambi beberapa waktu lalu, ia berseloroh bahwa kita itu Sumatera dan Jawa bukan saja masalah bahasa, suku dan seterunya. yang berbeda tapi lebih jauh dari itu dalam pendidikan atau proses pembelajaran perkuliahan pun terdapat ketimpangan yang cukup jauh, di Sumatera pada Umumnya kita mempunyai tenaga pendidik kurang sesuai dengan kompetensi dasar mata kuliah, fasilitas yang kurang baik, akses internet juga kurang, kemudian juga proses pembelajaran yang diterapkan. Sementara Kampus PTKIN di Sumatera kebanyakan lebih ke praktisi, ini mungkin tidak buruk juga, namun seharusnya mesti berimbang antara kompetensi Membaca, Memahami, Praktik dan Menulis. Rata rata mahasiswa dari Sumatera mengutarakan nada yang sama artinya secara sadar tidak dari hal ini mahasiswa Sumatera juga telah mengalami Culture Shock dalam sisi Pendidikan yang sedang mereka lakukan.

    Manfaat dalam Perbedaan Budaya

    Lebih jauh dari masalah yang kita dapat dari adanya perbedaan budaya, ada begitu banyak hal-hal baik yang dapat kita pelajari. Diskursus mengenai perbedaan budaya manfaat yang kita dapatkan sungguh tidak dapat terbayarkan dengan apapun. Apa saja manfaat itu? Pertama, kita mengenali budaya yang lebih menarik dari tempat kita tinggali sebelumnya. Perbedaan budaya tentu akan membawa kita mengenal banyak tentang perihal baru contohnya ada banyak orang-orang berkata bahwa Jogja itu orangnya lemah lembut, ketika kita hadir langsung disana kita dapat membenarkan kalau orang Jogja itu memang benar lemah lembut. Kemudian kota yang tertata rapi dan bersih, makanan yang beragam, kita belajar bagaimana begitu lemah lembutnya orang di darah Jawa dan banyak kebudayaan yang dapat kita lihat, bermacam-macam bahasa bisa kita jumpai yang menjadikan kita kaya pengetahuan akan bahasa daerah. Kemudian juga perbedaan budaya akan memperkaya simbol-simbol dalam diri kita, semuanya tentu dari setiap tanda-tanda baru yang kita dapatkan dari orang lain.

    Terakhir Menjadikan diri kita lebih toleransi dengan perbedaan, kita harus sadari bahwa perbedaan tidak selalu memberikan dampak yang buruk, tetapi juga membuat diri kita menjadi lebih mudah memahami orang lain. Sebagai seorang pelajar kita akan mampu mengkomparasi perbedaan seperti contoh yang disebutkan tadi misalnya antara pendidikan di Jawa dengan Pendidikan di Sumatera dan dari hal tersebut dapat memberikan masukan-masukan yang positif kepada pendidikan di tempat kita berasal

    Pada akhirnya perbedaan budaya akan selalu memberikan kejutan kepada siapa saja yang melepaskan diri dari budaya kebiasaan di tempat mereka tinggal, akan ada hal -hal buruk yang akan didapatkan namun juga banyak hal-hal baik yang akan kita terima setelahnya. Perbedaan budaya membuat kita sadar betul bahwa bangsa Indonesia ini memang dipenuhi dengan banyaknya suku, bahasa, dan kebudayaan dan membuat kita semua menyampingkan perbedaan untuk sebuah persatuan.

    Ikuti tulisan menarik MUHAMMAD UMAR KHADAFI lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.