Bandiet-Bandiet van Siantar - Analisis - www.indonesiana.id
x

cover buku Bandiet Bandiet van Siantar

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 23 November 2022 07:41 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bandiet-Bandiet van Siantar

    Kisah kejahatan-kejahatan kriminal, korporasi dan penjajah yang terjadi di wilayah perkebunan di Simalungun, Sumatra Utara.

    Dibaca : 382 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Bandiet-Bandiet van Siantar

    Penulis: Abram Christopher Sinaga

    Tahun Terbit: 2022

    Penerbit: Obelia

    Tebal: xii + 236

    ISBN: 978-623-6639-32-0

     

    “Bandiet-bandiet van Siantar” karya Abram Christoper Sinaga (ACS) adalah sebuah novel dengan latar belakang wilayah perkebunan di Simalungun, Sumatra Utara. Wilayah perkebunan di utara Pulau Sumatra ini memang sudah beberapa kali dipakai sebagai latar sebuah karya fiksi. Diantaranya adalah oleh seorang penulis perempuan asal Belanda yang bernama Madelon Hermine Szekely-Lulofs.

    Jika Szekely-Lulofs menceritakan nasib pasangan muda Belanda yang mencoba memperbaiki nasibnya di perbebunan (“Berpacu Nasib di Kebun Karet”) dan sanip para kuli dari Jawa (“Koeli”), ACS lebih membahas sisi gelap perkebunan di Sumatra Utara ini. Ia mengungkapkan para bandit.

    Ada beberapa kisah kejahatan sadis yang dikisahkan dalam novel ini. Para pelaku kejahatan menjadi kriminal karena lingkungannya. Perkebunan sebagai sebuah alat kapitalisme memang menjanjikan sesuatu yang manis. Tetapi pada kenyataannya hanya sedikit saja yang mendapatkannya, yaitu mereka yang ada di puncak. Sementara mereka yang ada di bawah ditekan sedemikian rupa sehingga tak bisa beranjak dari kemiskinan. Tak heran jika mereka banyak yang frustasi dan menjadi bandit.

    ACS membuka kisahnya dengan menceritakan dua pekerja kebun yang menjadi bandit. Mereka adalah A Moeng, seorang pemuda asal Tiongkok dan Salim seorang pemuda dari Banten. Kedua orang ini menjadi pembunuh. Bedanya, A Moeng membunuh keluarga pribumi sehingga dia tak sampai dihukum mati. Sementara Salim membunuh seorang perempuan Belanda sehingga hidup Salim berakhir di tiang gantungan.

    A Moeng adalah seorang pemuda asal Tiongkok yang mengadu nasip di perkebunan di Simalungun. Ia sama sekali tidak bisa berbahasa Melayu, yang lazim digunakan di perkebunan. Ia hanya bisa berbahasa Hokkien.  Sebagai seorang pemuda yang nafsu birahinya sedang tinggi-tingginya, ia jatuh cinta kepada Jarwani, seorang janda mantan gundik tuan Belanda. Kegagalannya mendapatkan Jarwani membuatnya mendendam dan kemudian membunuh Jarwani dan keluarganya Ia menggunakan gerombolan Laosan untuk membunuh dan membakar mayat Jarnawi sekeluarga.

    Salim adalah pemuda asal Banten. Ia pemuda yang baik. Ia menikahi Nesti, gadis yang ditemui di sebuah afdeling. Ia merasa kasihan kepada Nesti, gadis asal Jawa yang kebingungan karena baru sampai di perkebunan. 

    Pernikahan Salim dengan Nesti awalnya penuh kebahagiaan, sampai Salim terlibat dalam perjudian. Kesukaannya akan judi membuat ia tidak memperhatikan Nesti. Kesetiaan Nesti ada batasnya. Nesti akhirnya memilih untuk menikah dengan pria lain.

    Upaya Salim untuk merebut kembali istrinya tidak pernah berhasil. Ia bahkan mendapat hinaan dari Tuan Landzaat. Salim dihina oleh Tuan Landzaat sebagai lelaki tak berguna karena tak mampu menafkai istrinya. Karena tidak berani berhadapan langsung dengan Tuan Landzaar yang berbadan besar dan punya pistol, Salim melampiaskan dendamnya kepada istri Tuan Landzaat.

    Peristiwa ini sebenarnya sederhana, yaitu pembunuhan murni karena dendam. Namun proses pengadilannya dihubungkan dengan tema besar, yaitu pemberontakan orang-orang kiri kepada Pemerintah Belanda. Dalam hal ini ACS berhasil menggambarkan betapa paranoidnya orang Belanda terhadap gerakan orang-orang kiri yang menuntut kemerdekaan.

    Novel ini akan menjadi novel yang kurang bermutu jika selesai hanya pada dua kisah buruh perkebunan yang melakukan pembunuhan. Novel ini menjadi menarik karena ACS masuk ke definisi bandit dalam arti lain. Bandit berdasi!

    Melalui tokoh Jan, ACS membangun kisah baru tentang bagaimana para elite perkebunan dan orang-orang Pemerintah Hindia Belanda berperilaku sebagai bandit. Jan adalah seorang pemuda etnis Simalungun yang sempat bersekolah di sekolah Belanda. Melalui penuturan Jan inilah ACS menggambarkan betapa rakusnya Belanda dalam menghancurkan hutan dan satwa di Simalungun hanya demi mengeruk keuntungan dari perkebunan. Jan juga menjadi saksi perilaku partai-partai politik Belanda terhadap ketakutan kepada orang-orang pribumi dan upaya-upaya orang pribumi untuk menuntut kemerdekaan. Sayang sekali bandit tipe ini hanya sekilas diulas oleh ACS.

    Novel ini juga menarik karena ACS mendeskripsikan lokasi-lokasi  Kota Siantar dan sekitarnya di jaman perkebunan. Sebagai seorang lulusan planologi ITB, ACS sangat peduli dengan tempat-tempat, nama-nama jalan di Simalungun dan Kota Siantar saat itu. Sajian nama jalan dan tempat-tempat penting di Siantar membuat novel ini menjadi sebuah karya yang menyimpan sejarah masa lalu Kota Siantar dan Kabupaten Simalungun.

    Sayang sekali ACS tergiur untuk membanjiri novel ini dengan pengetahuan luas yang ia miliki. Informasi tentang adat dan kepercayaan Simalungun, informasi tentang sejarah Eropa dan sejarah dunia, tentang gereja dan lainnya membuat fokus dari novel ini menjadi terhambur. Bagian akhir novel ini menjadi seperti kehilangan alur karena sarat memuat pengetahuan sang penulis yang menjejal dalam tuturan. 716

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.