Tangan Jenius Erick Thohir di Balik Piala Presiden - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Erick

Ahmad

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2022

Senin, 28 November 2022 13:00 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Tangan Jenius Erick Thohir di Balik Piala Presiden

    Di balik keberhasilan Piala Presiden yang pertama kali dimulai pada tahun 2015, ada Erick Thohir sebagai promotor utama dari kompetisi tersebut. Sporitifitas dan profesionalitas itulah kuncinya.

    Dibaca : 1.570 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tahun 2015 yang lalu, pernah bergulir suatu kompetisi sepak bola di tengah kekosongan kompetisi liga. Saat itu, PSSI sedang dibekukan. Berikut kompetisi liganya ikut tak jalan. Di tengah suasana kekosongan itu, Piala Presiden menjadi salah satu tontonan yang menghibur para pecinta sepak bola tanah air. Dan kompetisi itu bukan hanya menghadirkan hiburan, tapi juga menjadi salah satu kompetisi yang menarik para pemangku sepak bola tanah air. Bahkan Piala Presiden tersebut menjadi ajang pramusim yang terus dijalankan hingga saat ini.

    Operator utama penyelenggara turnamen Piala Presiden adalah Mahaka Sports and Entertainment di bawah Erick Thohir selaku Presiden Komisaris saat itu. Apa yang mendorong Erick Thohir menggelar turnamen sepak bola saat itu dilatarbelakangi oleh kondisi ‘vakumnya’ sepak bola tanah air. Ia sadar bahwa turnamen sepak bola merupakan salah ajang olah raga yang digemari sejumlah besar publik Indonesia. Sebab itu, Piala Presiden yang dihadirkannya merupakan wujud kontribusi demi semarakkan persepakbolaan Indonesia.

    Dikelola Profesional, Jauh dari Kepentingan Politik

    Yang menarik dari Piala Presiden, sebagai salah satu kompetisi di luar kompetisi resmi PSSI, adalah turnamen ini dikelola jauh dari kepentingan politik. Mahaka Sports dan Entertainment-nya Erick Thohir benar-benar menghadirkan turnamen ini sebagai ajang untuk menghadirkan kompetisi sepak bola tanah air yang sehat, dikelola secara profesional, dan jauh dari ajang kepentingan politik. Dengan kata lain saat itu, Erick benar-benar menghadirkan turnamen sepak bola yang benar-benar sejalan dengan prinsip ‘sportifitas’.

    Tentu ada latar belakang yang kuat mengapa Erick bersama Mahaka Sports and Entertainment-nya saat itu menghadirkan kompetisi yang sportif? Hal ini sebagai respon terhadap kondisi PSSI saat itu yang dibekukan oleh PSSI. Sanksi FIFA pada PSSI yang jatuh pada 30 Mei 2015 berdampak pada tiga hal. Pertama, FIFA mencabut keanggotaan PSSI selaku federasi sepak bola Indonesia. Kedua, FIFA melarang timnas maupun klub Indonesia mengikuti kompetisi internasional di bawah naungan FIFA dan AFC. Ketiga, setiap anggota dan ofisial PSSI tidak bisa mengikuti program pengembangan, kursus atau latihan dari FIFA dan AFC selama sanksi belum dicabut.

    Berlarut-larutnya pembekuan itu semuanya berakar dari persoalan-persoalan yang tak jauh-jauh dari soal tiadanya profesionalitas di dalam pengelolaan. Ada intervensi terhadap tata kelola di tubuh PSSI. Sehingga berdampak pada kurang sehatnya pengelolaan kompetisi sepak bola di bawah PSSI. Hadirnya Piala Presiden jadi semacam ‘pelecut’ bahwa kompetisi yang baik dan menarik itu yang dijalankan dengan prinsip sportifitas, mengedepankan pengelolaan yang sehat, berorientasi pada prestasi. Dan itulah yang dihadirkan oleh Erick Thohir saat itu dengan Piala Presidennya.

    Prestasi Mencuat, Ekonomi Olahraga Sehat

    Penyelenggaraan turnamen Piala Presiden membawa hasil positif baik untuk kemajuan prestasi sepak bola di Indonesia sebagai tujuan utamanya dan sekaligus menjadi nilai tambah bagi perolehan ekonomi di bidang olah raga. Salah satu kunci penting dari keberhasilan ini adalah tak lain karena turnamen ini diselenggarakan secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab.

    Dari sisi ‘pelecut’ prestasi, keberhasilan penyelenggaraan Piala Presiden akhirnya membuat sepak bola kita ‘terlecut’ untuk kembali digelar dengan catatan dikelola lebih sportif, sehat dan jauh dari sekedar kepentingan politik. Bahkan Presiden Jokowi saat itu senang dengan keberhasilan dari gelaran turnamen tersebut. Hingga muncul desas-desus bahwa mungkinkah Erick Thohir akan menjadi operator utama kompetisi Liga Indonesia di bawah PSSI.

    Selain itu dari sisi keuangan. Dalam laporan yang disampaikan Erick, total dana yang dibutuhkan sekitar Rp 40 miliar. Pemenang dengan juara satu memperoleh 3 miliar, juara dua dua miliar dan juara tiga satu miliar. Bahkan setiap klub yang ikut juga diberikan uang operasional.

    Keuangan turnamen Piala Presiden ini dikelola dengan sangat baik dan diaudit secara profesional oleh auditor Pricewaterhouse Cooper, dengan penilaian Wajar Tanpa Pengecualian. Bahkan saat itu, ada dana sisa sebesar Rp1,5 miliar dari total pemasukan kurang lebih sebesar Rp45 miliar. Itu pun juga sudah termasuk bayar pajak penghasilan dan PPN kurang lebih hampir Rp 6 miliar.

    Dengan demikian, Piala Presiden yang dikelola dengan sportif dan profesional dari segi ekonomi telah memberikan masukan finansial bagi klub, membantu menyehatkan keuangan klub di satu sisi dan di sisi lain memperoleh pemasukan untuk negara. Belum lagi kita berbicara dampak ekonomi dari turnamen ini bagi masyarakat sekitarnya. Apa yang dilakukan oleh Erick Thohir dengan gelaran turnamen Piala Presiden ini ibarat ungkapan: sekali mendayung satu dua tiga pulau terlampaui. Artinya, satu gelaran turnamen telah melecut sepak bola tanah air untuk maju dan sekaligus menghadirkan pemasukan bagi negara dan masyarakat.

    Ikuti tulisan menarik Ahmad lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.