x

Iklan

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Selasa, 13 Desember 2022 20:38 WIB

⏃⌇⌇⏃⎍⌰⏁⟒⍀

Di balik anyaman jerami yang tersusun, seseorang hanya menatap dari balik celah-celah kepangan pandan sambil menunggu sosok bayangan datang dan menghampirinya. Kaso, begitu yang dia ingat tentang namanya, duduk di atas alas terpal, menyimpan tanda tanya yang terlampau padat. Tatkala dirinya bertanya-tanya tentang kelengkapan misteri kesadaran, sendirian, memperhatikan tubuhnya membujur dalam senyum manis.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bagian I

 

Di daratan yang ditinggalkan, tanpa air selain butir-butir pasir, berlomba badai dari sisa lautan yang terperas. Ranum mengisi kolom kenangan di ranting menuju pusara berawan. Dan berjalan; wajah kelubung timah berkarat.

Aku yang lelah sebab kesedihan diantara pedihnya perpisahan dan yang demikian menganga, gugur”. Suara itu terus menggerus lamunannya tentang kolase. Gelombang menjelma kapas bagai lautan, alfa saat kepastian apa-apa, bahkan tidak menyampaikan betapa liarnya pengetahuan paling purba pernah ada.

Di balik anyaman jerami yang tersusun, seseorang hanya menatap dari balik celah-celah kepangan pandan sambil menunggu sosok bayangan datang dan menghampirinya. Kaso, begitu yang dia ingat tentang namanya, duduk di atas alas terpal, menyimpan tanda tanya yang terlampau padat. Tatkala dirinya bertanya-tanya tentang kelengkapan misteri kesadaran, sendirian, memperhatikan tubuhnya membujur dalam senyum manis.

Mahluk lain, bermil-mil cahaya, menjatuhkan mimpinya di ribuan malam.

Penyerang membutuhkan objek baru, namun, semua telah menjadi rentan terhadap serangan.

Lagi-lagi, daratan yang kosong, membuat seluruh mahluk menjadi puing-puing dahaga. Ini tidaklah dapat dibenarkan, sesaat kekosongan pun mengendus, kekacauan terbaru masih rentan tersentuh. Tiba-tiba terdengar deru mesih-mesin yang menyerupai kepik jangkrik, dan sesekali dentum yang lebih mirip gong seekor katak di got-got yang tertutup impian ruang sunyi.

Di tepi cakrawala nila, guratan yang menyerupai sirip ikan-ikan listrik, menampar hamparan pasir dan mengukir beberapa simbol yang menyerupai kaligrafi tua.

Tunggu, apakah itu gencatan senjata yang terjadi di masa lalu?”

Tidak juga, tidak terlihat replika manusia berjalan menyebar dan membentuk formasi yang konkrit. Tapi ini tidak terkesan sesuatu yang asing. Kaso hanya tidak memahmi kebutaannya, dan pikirannya terlalu rusak untuk melihat kolase masa lalu dari pengalamannya sendiri. Ada sisi dirinya yang terus mengunci apapun seakan serangan hebat akan menikamnya dari berbagai arah.

⌿⌰⏃☍⏃⏁ itu berdiri kokoh di atas lantai yang goyah.

Kaso kehilangan akal kegilaannya. Diri membabi buta pada sesuatu yang enggan tiada. Kemarahan, serta dendam telah menyelimuti diri sendiri, menjadi bayang-bayang hidup yang menuntut. Otaknya tidak pernah menerima penawaran apapun, selain penolakan, juga perlawanan. Menyerang dengan adrenalin imajiner hingga kehabisan helium; dan oksigen bukanlah keutamaan.

Di ruang yang lengkap dengan mewah perangkat monitor, tubuhnya masih membujur terikat. Kaso tidak pernah menyadari, bahwa tubuhnya telah berubah bentuk sebagai “homoscriptic”; alien yang menyusun ingatannya dari rangkuman peradaban manusia, yang tidak pernah dikenal dan laluinya.

 

 

- Jakarta, 13 Desember 2022

BERSAMBUNG

Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler