Nasib Sejarah Bangsa yang Kian Berjarak dengan Generasi Muda

Rabu, 14 Desember 2022 05:45 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Generasi muda saat ini sering dicap ahistoris alias buta sejarah. Generasi muda sekarang dinilai lebih hafal nama artis Korea, selebgram dan YouTuber dibandingkan nama-nama pahlawan nasional. Lebih suka joget TikTok dan selfie-selfie cantik untuk kemudian diunggah ke Instagram dibandingkan mengakses konten-konten yang menambah pengetahuan. Apa yang salah dalam hal ini? Benarkah generasi muda sebegitu abainya pada sejarah bangsa sendiri?

Selain matematika, sejarah adalah pelajaran yang paling tidak disukai oleh kebanyakan anak sekolah. Alasannya, apalagi kalau bukan karena metode pengajarannya yang membosankan dan tidak kuat menghafal tanggal-tanggal terjadi peristiwa bersejarah serta tokoh-tokohnya.

Bagi mereka, mengetahui informasi sejarah hanya berguna untuk menjawab soal ujian dan tidak ada pengaruhnya dalam kehidupan. Itu pun setelah ujian selesai, apa yang dipelajari dan dihafal sudah menguap dan tak menyisakan apapun untuk diingat. 

Generasi muda saat ini sering dicap ahistoris alias buta sejarah. Generasi muda sekarang dinilai lebih hafal nama artis Korea, selebgram dan YouTuber dibandingkan nama-nama pahlawan nasional. Lebih suka joget TikTok dan selfie-selfie cantik untuk kemudian diunggah ke Instagram dibandingkan mengakses konten-konten yang menambah pengetahuan. Apa yang salah dalam hal ini? Benarkah generasi muda sebegitu abainya pada sejarah bangsa sendiri? 

Kurang bijak rasanya apabila secara sepihak kita hanya menyalahkan generasi muda. Kita juga perlu menengok bagaimana pengajaran sejarah dijalankan di institusi pendidikan selama ini. Selama sekolah dari SD sampai SMA, pelajaran sejarah yang saya terima hanya diulang-ulang tanpa ada pengetahuan baru yang lebih mendalam tentang suatu peristiwa bersejarah. 

Misalnya, sejarah tentang peristiwa Rengasdengklok yang terjadi sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan. Dari SD sampai SMA yang saya ketahui tentang peristiwa itu hanya sebatas “penculikan” Soekarno Hatta oleh golongan muda. Golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Mengingat Jepang telah kalah dalam Perang Pasifik yang ditandai dengan jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. 

Siapa sangka kalau “penculikan” tersebut terjadi akibat hoaks yang disampaikan oleh Sukarni bahwa Jakarta akan dibumi hanguskan sehingga tokoh dwitunggal itu harus menyingkir dan dibawalah ke sebuah tempat yang bernama Rengasdengklok. Padahal situasi di Jakarta saat itu aman-aman saja. Akibat “penculikan” itu, para pemimpin pergerakan sampai bingung ke mana perginya Bung Karno dan Bung Hatta. Setelah mengakui kebohongannya, sempat-sempatnya Sukarni meminjam baju bersih kepada Bung Hatta untuk dikenakan pada hari Proklamasi Kemerdekaan. 

Informasi inilah yang barangkali tak banyak (untuk tidak mengatakan tak ada) diceritakan baik dalam buku teks maupun oleh guru sejarah. Pun tak semua punya privilese berupa akses pengetahuan yang sama dan menumbuhkan rasa ingin tahu mereka. 

Saya yang lahir empat tahun sebelum reformasi, tentu tidak memahami bagaimana rasanya hidup di bawah rezim Orde Baru (Orba). Saya masih terlalu hijau untuk memahami gejolak sosial-politik di tahun-tahun menjelang senjakala kekuasaan “The Smiling General”. Namun, karena saya doyan membaca, ayah pencinta sastra dan sejarah, saya mendapat pengetahuan tentang sejarah 1965 dan 1998 lewat buku-buku, koran-koran dan majalah-majalah milik ayah. Sekarang saya juga mempelajarinya dari konten-konten digital, seperti artikel dan video-video YouTube. 

Dari situlah saya tahu bahwa di masa Orba banyak sejarah bangsa kita yang ditutup-tutupi dan dikaburkan. Sejarah seakan menjadi monopoli satu pihak, yaitu penguasa. Sudut pandang kita pun tunggal dan terbatas. Sayangnya, setelah Orba tumbang lebih dari dua dekade lalu, pengajaran sejarah tak juga mengalami perubahan. Informasi di buku teks terbatas pada pembabakan zaman dan kejayaan, sedangkan guru hanya menjelaskan yang ada di buku tanpa memberi wawasan baru yang mampu memantik keingintahuan siswa. 

Coba sekarang bayangkan, adakah yang memahami (bahkan meneladani) laku hidup anti korupsi para petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI)? Berapa banyak anak muda yang mengetahui fakta atau sisi lain di balik Tragedi 1965 selain dari versi pemerintah? Berapa banyak milenials dan gen Z yang dapat menyebutkan tragedi kemanusiaan apa saja yang pernah terjadi selama 32 tahun Orba berkuasa? 

Selama ini kita lebih sering diberitahu bahwa PKI itu ingin mengubah ideologi Pancasila jadi komunis. Tokoh-tokoh kiri digambarkan tidak lebih sebagai orang yang tidak bermoral, pemberontak dan bikin rusuh negara. Tak pernah kita diajarkan untuk menengok sisi lain dari kehidupan, pemikiran, sikap dan kontribusi tokoh-tokoh kiri bagi Indonesia.

Pandangan kita mengenai segala sesuatu yang bernuansa ‘kiri’ menjadi sangat hitam putih. Hal ini diperparah dengan propaganda pemerintah Orba melalui film Pengkhianatan G30S PKI yang saat itu menjadi tontonan wajib setiap tanggal akhir September. Entah mengapa film ‘cuci otak’ ini masih saja diputar di zaman sekarang. 

Jadilah sejarah yang kita ketahui selama ini hanya dari perspektif tunggal. Ketika ditawarkan perspektif lain, sebagian orang bersikap sinis, berprasangka buruk tanpa mau susah-susah melihat dan memikirkan konteks. 

Padahal hal yang penting dari pelajaran sejarah bukan hafalannya, melainkan apa yang dapat dikritisi atau dijadikan contoh dari pemikiran dan sikap para tokoh serta hikmah yang dapat diambil dari setiap peristiwa bersejarah. Siswa pun akan lebih terlatih untuk berpikir kritis dan analitis. Hal ini bisa terjadi kalau pengajaran sejarah dilakukan secara dua arah, bukan hanya dengan ceramah satu arah yang justru membuat murid-murid mengantuk dan bosan.  

Di luar negeri, pelajaran sejarah bisa begitu mengasyikkan. Mengutip dari idntimes.com, alih-alih hanya disuruh menghafal, murid-murid di luar negeri belajar sejarah dengan membuat drama, membuat video, mewawancarai orang-orang tentang sejarah bangsa mereka, kunjungan ke museum dan sebagainya. 

Sejarah sering dianggap hanya peristiwa masa lalu yang tidak ada gunanya untuk diingat-ingat lagi. Padahal mempelajari sejarah adalah cara untuk mengenal identitas diri kita sebagai sebuah bangsa. Tanpa mengenal sejarah bangsa sendiri, kita akan menjadi generasi yang rentan terjebak dan mengulang kesalahan masa lalu untuk kesekian kali. 






Bagikan Artikel Ini
img-content
Luna Septalisa

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Menulis Sejarah Perempuan

Selasa, 8 Agustus 2023 15:53 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler