x

Iklan

Vira Berliana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 Desember 2022

Senin, 19 Desember 2022 19:08 WIB

Stop Bilang Jangan ke Anak; Bisa Jadi Kamu Toxic Parent

Artikel ini membahas tentang pola pengasuhan orang tua terhadap anak yang salah dan tidak boleh dilakukan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Apa itu Toxic Parenting?

Toxic parent adalah pola pengasuhan orang tua pada anak yang salah. Sebagaimana yang kita tahu bahwa pengasuhan yang buruk akan membuat anak menjadi buruk pula bahkan dapat mengalami gangguan kesehatan mental. Pengasuhan yang buruk pada anak akan berdampak pada perkembangannya menuju dewasa.

Banyak orang tua yang masih menggunakan pola pengasuhan yang salah, orang tua akan memperlakukan anaknya semaunya sendiri dan anak harus menurut serta selalu memerintah, memarahi, terlalu melindungi, mengatur, dan mengkritik apapun yang anaknya lakukan. Selain itu, bahkan ada orang tua yang mengabaikan anaknya sendiri, cenderung cuek (Rianti dan Dahlan, 2022).

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Seorang anak yang mempunyai sifat penurut akan mendengarkan orang tuanya dan berusaha menyenangkan mereka, sedangkan seorang anak pemberontak akan memberontak melawan mereka. Kondisi ini dapat membuat anak merasa tidak aman dan terbatas. Bahkan, tidak jarang anak menyalahkan diri sendiri dan tumbuh dengan harga diri yang rendah. Oleh karena itu, orang tua beracun adalah orang tua yang gagal memenuhi kebutuhan fisik, psikologis, dan emosional anak mereka, yang dapat mempersulit perkembangan anak mereka.

The Controller Parents

"Kontrol" tidak selalu bermakna buruk, saat seorang anak yang berusia 3 tahun berlari ke jalanan, seorang ibu akan melindunginya dan itu bukan kontrol yang salah, ia justru disebut bijaksana. Namun, saat anak sudah berusia 10 tahun dan sudah bisa menyebrang sendiri, tapi tetap dikontrol untuk tidak boleh melakukannya. Ini disebut dengan overcontrol dan ini tidak baik untuk perkembangan sang anak (Forward dan Buck, 1989).

Anak yang dikontrol oleh orang tuanya adalah salah satu contoh dari toxic parenting. Anak tidak diperbolehkan untuk menentukan yang mereka mau, padahal itu adalah hak anak sebagai manusia. Anak harus dibiasakan untuk menentukan jalannya sendiri, tidak boleh ditentukan oleh orang tua. Efek dari pengontrolan orang tua terhadap anak ialah anak akan labil saat memilih pilihan dan tidak bisa mengambil keputusan karena selalu merasa takut kalau pilihannya akan salah.

Saat orang tua selalu mencekoki anak dengan kata 'jangan', itu akan selalu berbekas di pikirannya dan membuatnya menjadi takut untuk mengambil risiko yang akan menyebabkan anak sulit berkembang menjadi dewasa. Anak harus dibiasakan untuk mengeksplorasi, mencoba, dan memenuhi rasa penasarannya akan sesuatu.

Saat anak melakukan kesalahan, usahakan tidak mengatakan 'jangan', melainkan mengatakan hal yang bermakna positif dan tidak mengandung unsur pelarangan. Seperti contoh, seorang anak yang akan memecahkan gelas maka sebagai orang tua sebaiknya mengatakan, "Taruh gelasnya ya, Nak. Nanti kalau pecah akan bahaya, sayang."

Menjadi Orang Tua yang Sehat

Menjadi orang tua memang tidak mudah, menjadi orang tua pertama kali memang sulit. Namun, seorang anak tidak bersalah atas lahirnya mereka ke dunia ini. Sebelum anak dihadirkan oleh orang tua yang menginginkan mereka, ada baiknya orang tua mengetahui dan mempelajari ilmu parenting yang sangat penting. Menjadi orang tua yang baik juga suatu ilmu yang harus dipelajari oleh seorang ayah dan ibu. Jangan biarkan anak mempunyai gangguan mental karena pola pengasuhan yang tidak baik, jangan biarkan toxic parenting ini terus menerus terjadi dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Ada beberapa macam pengasuhan yang harus diberikan orang tua kepada anaknya dilangsir dari Rianti dan Dahlan (2022), yaitu sebagai berikut.

  1. Pengasuhan jasmani mencakup semua kegiatan anak-anak agar mereka dapat bertahan hidup dengan perawatan yang tepat. Kondisi fisik seorang anak ditentukan oleh pihak keluarga, termasuk makanan, minuman, kebersihan, dan istirahat sebelum tidur. Keterampilan dasar seorang anak akan berkembang jika kebutuhan fisiologis anak terpenuhi.
  2. Pengasuhan jiwa anak, yaitu pengasuhan psikis dan emosional anak. Dalam jenis ini, anak harus merasa dihargai, dicintai, memiliki kesempatan dalam memilih pilihan serta mengetahui risiko saat melakukan sesuatu.
  3. Pengasuhan sosial, yang pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang berinteraksi dengan masyarakat. Pola ini sangat penting Anak-anak, agar anak-anak dapat terhubung dengan baik dengan teman dan komunitasnya. Pengawasan ini sangat penting untuk mengembangkan keterampilan interpersonal dan intra-personal anak. 

Ikuti tulisan menarik Vira Berliana lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu