Candi Sewu, Saksi Kisah Cinta Dua Sejoli - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Foto Candi Prambanan yang saya ambil saat mengikuti kegiatan kuliah kerja lapangan

Abdalla Firdaus

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 Desember 2022

Rabu, 28 Desember 2022 06:11 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Candi Sewu, Saksi Kisah Cinta Dua Sejoli

    Artikel ini membahas mengenai Candi Prambanan, Candi Sewu dan mitos cinta dua sejoli, Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso.

    Dibaca : 791 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Yogyakarta tidak hanya dikenal dengan wisata alamnya yang indah. Namun, ada wisata sejarah yang masih digemari hingga saat ini. Jika biasanya pengunjung menuju Candi Prambanan untuk berwisata, tak salahnya mampir ke candi yang berada di utara Candi Prambanan, yaitu Candi Sewu. Candi Sewu menyimpan banyak sejarah dan juga legenda Roro Jonggrang yang dikenal banyak orang.

    Candi Sewu terletak di Kompleks Candi Prambanan, tepatnya di Jalan Raya Solo KM. 16 Klurakbaru, Tlogo, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Sewu berada 800 meter di utara Candi Prambanan. Tidak ada salahnya jika berkunjung ke Candi Prambanan, juga melihat keelokkan Candi Sewu.

    Candi Sewu namanya, di Yogyakarta letaknya. Dalam bahasa Jawa, sewu berarti seribu. Namun, itu hanya sebagai ungkapan banyaknya jumlah candi di komplek Candi Sewu, bukan jumlah candi sebenarnya. Berdasarkan prasasti yang ditemukan, nama asli candi ini adalah Prasada Vajrasana Manjusrigrha. Candi ini menjadi saksi kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

    Letak candi ini berdampingan dengan Candi Prambanan, sekitar 800 meter jauhnya. Ada 4 buah pintu yang ada di candi ini, masing-masing 1 pintu dari segala arah mata angin. Pada setiap pintu masuk terdapat sepasang Dwarapala, yaitu sosok penjaga. Penataan candi ini terlihat cukup menarik, karena merupakan akulturasi budaya Hindu dan Budha.

    Candi Sewu memang dibangun sebagai pusat peribadahan umat Budha, namun untuk bangunannya masih berpadu dengan candi Hindu. Hal ini dikarenakan Candi Sewu didirikan pada masa Kerajaan Mataram Kuno, yang saat itu dikuasai Dinasti Sanjaya dan dipimpin oleh Rakai Pikatan, yang beragama Hindu. Kemudian Rakai Pikatan menikahi anak dari Dinasti Syailendra, Pramordhawardhani yang beragama Budha. Dari pernikahan itu, lahir akulturasi di beberapa hasil kebudayaan dari raja yang beragama Hindu dan ratu yang beragama Budha.

    Keunikan Candi Sewu tidak berhenti sampai disitu. Selain kisah cinta Rakai Pikatan dan Pramordhawardhani yang berujung bahagia, ada kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang yang berakhir begitu saja. Kisah bermula dari invasi Prabu Baka ke Kerajaan Pengging. Bandung Bondowoso sebagai putra Kerajaan Pengging marah besar saat tahu kerajaannya diserang. Ia pun mengerahkan pasukannya untuk menghadapi serdadu milik Prabu Baka. Ditengah berlangsungnya pertempuran, Bandung Bondowoso berkesempatan untuk berduel langsung dengan Prabu Baka. Pada akhirnya Bandung Bondowoso berhasil mengakhiri hidup Prabu Baka. Namun ia belum puas walaupun Prabu Baka sudah berhasil dikalahkan. Bandung Bondowoso memerintahkan pasukannya untuk tetap mengejar pasukan Prabu Baka hingga ke kerajaan mereka. Akhirnya, seluruh pasukan Prabu Baka berhasil dikalahkan.

    Saat Bandung Bondowoso berhasil menduduki Istana Prabu Baka, ia terkejut melihat wanita cantik, yang tidak lain dan tidak bukan ialah Roro Jonggrang, putra Prabu Baka. Ia tidak menyangka Prabu Baka memiliki putri secantik Roro Jonggrang. Tak butuh waktu lama, Bandung Bondowoso pun jatuh cinta pada Roro Jonggrang. Bandung Bondowoso tidak bisa berhenti memikirkan kecantikan Roro Jonggrang. Bahkan, ia sampai tidak bisa tidur karena ia sangat ingin meminang Roro Jonggrang. Keesokan harinya, Bandung Bondowoso pun memberanikan diri bertanya pada Roro Jonggrang untuk memperistrinya. Roro Jonggrang terkejut dengan ajakan nikah Bandung Bondowoso. Dilain sisi, ia adalah orang yang membunuh ayahnya. Roro Jonggrang pun memikirkan segala cara supaya Bandung Bondowoso tidak bisa mempersuntingnya.

    Ia pun memberi tantangan pada Bandung Bondowoso untuk membuat sumur dan membangun 1000 candi hanya dalam 1 malam. Bandung Bondowoso menyanggupi syarat itu, ia tahu membangun 1000 candi dalam 1 malam merupakan hal yang tidak mungkin. Ia meminta bantuan para makhluk halus untuk membantunya membuat candi. Roro Jonggrang gelisah melihat 999 candi berhasil didirikan. Ia pun berinisiatif membangunkan para perempuan di desa untuk membantunya menumbuk lesung, yang membuat kesan fajar telah menyingsing. Suara ayam pun mulai berkokok, seiring dengan perginya makhluk halus karena waktu sudah pagi. Bandung Bondowoso sangat marah dan kesal karena sudah ditipu oleh Roro Jonggrang. Bandung Bondowoso pun tidak bisa menahan amarahnya. Dengan emosi yang sudah tidak bisa dibendung lagi, Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi sebuah batu dan memasukkannya ke dalam candi. Akhirnya, sudah genap candi yang diminta Roro Jonggrang menjadi 1.000.

    Seperti yang kita ketahui, kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso ini hanyalah kisah fiktif semata. Fakta yang sebenarnya terjadi adalah candi ini dibangun pada abad 8 Masehi pada masa Kerajaan Mataram Kuno, yang saat itu dikuasai Dinasti Syailendra dan dipimpin oleh Rakai Pikatan. Sedangkan untuk kisah cinta Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso hanyalah sebuah mitos atau legenda, sebagai bumbu supaya kisah dibalik gagahnya Candi Sewu terlihat lebih menarik.  Selain itu, dikarenakan letaknya yang berdekatan dengan Candi Prambanan yang bercorak Hindu, sedangkan Candi Sewu yang merupakan candi Budha. Ada pelajaran yang bisa kita ambil, bagaimana pada masa itu masyarakat yang berbeda kepercayaan bisa bertoleransi, saling membaur, hidup bersama dengan damai.

    Ikuti tulisan menarik Abdalla Firdaus lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.