Pedagogi Kaum Terkunci; Kegilaan dan Kebutaan dalam Modernitas Pendidikan - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Fajrianto Rahardjo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Januari 2022

Jumat, 30 Desember 2022 18:54 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Pedagogi Kaum Terkunci; Kegilaan dan Kebutaan dalam Modernitas Pendidikan

    Artikel ini merupakan resensi dari gugatan Dr. Ardhie Raditya terhadap sistem pendidikan di Indonesia yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul “Pedagogi Kaum Terkunci; Kegilaan dan Kebutaan dalam Modernitas Pendidikan”.

    Dibaca : 830 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul Buku: Pedagogi Kaum Terkunci; Kegilaan dan Kebutaan dalam Modernitas Pendidikan”
    Penulis: Dr. Ardhie Raditya
    Penerbit: Inara Publisher
    Tebal: 370 hlm
    ISBN: 978-623-98877-2-8
    Tahun Terbit: 2021

    “Negara harus bebaskan biaya pendidikan. Biar kita pandai mengarungi samudra hidup. Biar kita tak mudah dibodohi dan ditipu. Itulah gunanya negara. Itulah artinya negara”.

    Sebait lirik lagu Iwan Fals diatas menggambarkan tentang pentingnya kedudukan pendidikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan dipandang sebagai episentrum peradaban dan menjadi jalan utama untuk mencapai kemerdekaan manusia yang seutuhnya. Tidak heran, negara Indonesia menempatkan pendidikan sebagai pilar fundamental dalam cita-cita kenegaraan. Alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945) menyatakan bahwa salah satu tujuan terbentuknya negara adalah untuk “mencedaskan kehidupan bangsa”. Tujuan ini tentunya tidak dapat dipisahkan dari urgensi keberadaan pendidikan.

    Seiring perkembangan zaman yang di ikuti oleh modernitas kehidupan, potret pendidikan  di Indonesia terlihat tidak lagi se-indah hakikat dan tujuannya. Alih-alih memerdekakan dan mencerdaskan manusia, pendidikan justru terlihat menindas dan memenjarakan. Institusi pendidikan saat ini tidak lagi hanya menjadi wadah belajar dan laboratorium ilmu pengetahuan, melainkan juga telah menjadi alat penjinakan yang menggerakkan mekenisme pasar tenaga kerja sebagai penyuplai kebutuhan Industrial. Doktrinisme yang dibangun sejak pendidikan usia dini yang umumnya berbunyi “anak-anak harus belajar tekun agar pandai dan bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi hingga akhirnya bekerja di korporasi ternama” adalah salah satu bentuknya. Institusi pendidikan lagaknya seperti industri yang bertugas memproduksi pengetahuan dan tenaga kerja layak jual.

    Potret kondisi pendidikan inilah yang hendak digugat oleh akademisi sosiologi Universitas Negeri Surabaya Dr. Ardhie Raditya di dalam bukunya yang berjudul “Pedagogi Kaum Terkunci; Kegilaan dan Kebutaan dalam Modernitas Pendidikan”. Adagium buku ini layaknya gugatan lahir bukan tanpa sebab. Kajiannya yang berisi kritik tajam yang didasari fakta dan analisis ilmiah bagaikan gugatan yang menuntut perubahan. Selain itu, kata-kata unik dan sesekali sarkas yang penulis gunakan dalam menerangkan realitas pendidikan menambah gairah tersindiri bagi pembaca untuk terus membacanya.

    Bab pertama buku ini berjudul “pedagogi kaum terkunci”. Dalam pembahasan awal bab ini, penulis mengawali diskursus dengan menggambarkan realitas institusi pendidikan. “Penjara” dan “penguncian” adalah kata yang dipakai oleh penulis untuk merepresentasikan kondisi institusi pendidikan di Indonesia saat ini. Potret pemenjaraan dan penguncian tersebut dapat dilihat dari kuatnya pengawasan, maraknya hukuman dan tingginya akumulasi beban kerja yang dilakukan kepada peserta didik. Disisi lain, pembatasan relasi sosial dan pembungkaman kritik yang mengancam ideologi kelas dominan juga sering terjadi. Layaknya budaya penjara, siapa saja yang terintegrasi ke dalam institusi pendidikan dianggap kelompok yang harus dijinakkan, ditundukkan, dan dibatasi fitrah kebebasannya, agar menjadi “narapidana” maupun sipir penjara teladan, sehingga sistem kemasyarakatan tidak terganggu kinerjanya.

    Kritik tajam terhadap eksistensi pendidikan berlanjut dalam pembahasan bab dua buku ini yang berjudul “kanibalisasi pendidikan”. Menurut penulis, ditengah modernitas saat ini, institusi pendidikan mensosialisasikan secara negatif tiga hal utama. Yakni, menginternalisasi kepasifan dan ketundukan peserta didik terhadap ketimpangan kelas sosial dan kultur kelas dominan melalui kurikulum formal atau kurikulum terselubung; meligitimasi ideologi kelas dominan seperti feodalisme, teknokratisme hingga kapitalisme melalui transfer pengetahuan yang ditopang oleh aktor intelektual seperti guru dan dosen; serta menciptakan suasana persaingan dan kompetisi dalam keberlangsungan pembelajaran seperti pengisian jabatan di dunia kerja melalui cara pengasingan dan penyingkiran peserta didik yang terbelakang dalam penilaian prestasi mata pelajaran.

    Potret dehumanisasi pendidikan yang dibingkai dengan satire digambarkan secara gamlang oleh Dr. Ardhie Raditya dalam karyanya. Bab ketiga buku ini berjudul “pendidikan yang hampa”, dan mengulik tentang kehampaan globalisasi pendidikan. Bab keempat berjudul “intelektual terkunci dalam brankas modernitas”. Salah satu topik menarik yang diulas dalam bab ini yaitu kegilaan intelektual kampus terhadap guru besar. Kemudian pada bab kelima sebagai penutup, penulis mengakhirinya dengan mengurai tentang fenomena “literasi dunia hitam dan zombie pendidikan.”

    Buku “Pedagogi Kaum Terkunci: Kegilaan dan Kebutaan dalam Modernitas Pendidikan” memberikan sumbangsih dan referensi ilmiah bagi perbaikan pendidikan ke depan. Terlebih lagi kajian didalamya memuat sejumlah hasil penelitian empiris dan teori pendidikan kritis seperti karya Paulo Freire, Ivan Illich, dan Henry Giroux. Penulis juga menebar optimisme disetiap bagian kesimpulan bab buku sebagai dorongan untuk menciptakan pendidikan yang memanusiakan manusia; pendidikan yang membebaskan dari belenggu keterasingan; dan pendidikan yang membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

    Buku ini sangat direkomendasikan untuk menjadi salah satu literatur utama bagi setiap insan yang bergerak di dunia pendidikan. Baik guru, dosen maupun pemerintah sebagai pemangku kebijakan dan organisasi masyarakat yang konsen di dunia pendidikan. Catatan kritis yang termuat dalam buku in dapat dijadikan refleksi lalu memperbaikinya bersama-sama.

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Fajrianto Rahardjo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.