Lato-Lato dan Pengaruhnya pada Pergaulan Anak - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

lato

Hendra Darmawan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Januari 2023

Sabtu, 14 Januari 2023 08:15 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Lato-Lato dan Pengaruhnya pada Pergaulan Anak

    Penelitian menjelaskan bahwa lato-lato bermanfaat bagi sistem saraf yang mengarah pada pembelajaran. Aktivitas otot, terutama aktivitas yang terkoordinasi, dapat merangsang produksi neurotropin. Zat alami ini merangsang pertumbuhan sel saraf dan meningkatkan jumlah sambungan saraf di otak, sehingga berdampak positif pada pembelajaran.

    Dibaca : 720 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Tek-tek-tek” ya, itu bunyi dari salah satu permainan yang akan kita bahas kali ini, Lato-lato, siapa sih yang tidak mengenal salah satu permainan yang sedang viral ini? Belakangan ini permainan lato-lato naik daun di kalangan masyarakat terutama anak-anak. Itu terjadi setelah viralnya perlombaan lato-lato yang berlangsung selama 4 jam. Hingga saat ini bunyi dari permainan ini terdengar di hampir seluruh tempat.

    Tentang fenomena lato-lato, kata Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari, profesor dari program studi Ilmu Sejarah di Universitas Airlangga (Unair), orang-orang berperilaku sebagai homo ludens, atau makhluk yang suka bermain. Umat manusia selalu memiliki permainan yang trendi di setiap zamannya. Dalam hal ini tren permainan untuk anak dan dewasa mengikuti perkembangan ekonomi dan waktu.

    “Masing-masing zaman atau era selalu punya zeitgest atau yang kita sebut sebagai jiwa zaman. Kebetulan, sekarang permainan lato-lato. Siapa yang menyebabkan permainan tersebut populer, salah satunya produsen media permainan anak, dan saya kira hal ini akan berulang pada waktu mendatang,” tulisnya dilansir dari laman resmi Unair pada Kamis, 5 Januari 2022.

    Tahukah kamu bahwa sebenarnya permainan ini bukanlah berasal dari negara kita. Awal mulanya, lato-lato berasal dari Amerika Serikat. Di negara asalnya, permainan ini telah populer pada era tahun 1960-an dan kemudian tersebar ke berbagai penjuru dunia. Layo-layo masuk ke Indonesia pada tahun 1990-an. Di negara asalnya, mainan ini memiliki sebutan clackers, click-clacks, atau knockers. Sedangkan nama lato-lato yang kita kenal saat ini, berasal dari Bahasa Bugis.

    Lato-lato terdiri dari dua buah bandul yang diikat pada tali dengan cincin atau pegangan kecil di bagian tengah. Cincin itu berfungsi untuk membuat kedua bandul saling mengadu dan bersuara. Saat ini bandul dari lato-lato yang kita tau terbuat dari bahan plastik, namun mulanya bandul tersebut terbuat dari bahan kaca tempered glass hingga sempat dianggap berbahaya. Pasalnya, bandul yang terbuat dari kaca itu bisa pecah saat diadu. Bukan tak mungkin pecahan kaca tersebut bisa mengenai bagian tubuh terutama mata orang yang memainkannya.

    Tak cuma itu, gerakan dua bandul yang cepat saat diadu juga bisa mengenai bagian-bagian tubuh dan menimbulkan memar. Pada 1966, Food and Drug Administration, lembaga yang awalnya juga mengatur keamanan mainan di Amerika Serikat sempat mengeluarkan peringatan bahaya clackers. Mengutip Groovy History, kasus tersebut kemudian mendorong perubahan bahan dasar kaca pada lato-lato menjadi plastik. Namun, lato-lato yang terbuat dari plastik juga rupanya berpotensi untuk pecah. Berdasarkan laporan New York Times pada tahun 1971, tercatat setidaknya empat kasus cedera yang terjadi akibat bermain lato-lato. Akhirnya di tahun 1990-an, lato-lato dibuat lebih aman dengan bahan akrilik untuk menjadi mainan.

    Meskipun memiliki bentuk yang sederhana, permainan ini memiliki nilai positif. Beberapa diantaranya, permainan ini tak mengenal usia. Lato-lato dapat dimainkan segala kalangan, dari anak usia balita hingga lansia. Permainan ini menguji konsentrasi dan ketangkasan serta kesabaran pemainnya untuk dapat menjaga agar kedua bandul tetap beradu dalam durasi waktu tertentu. Tak jarang pula banyak anak-anak berkumpul bersama untuk saling mengadu ketangkasan dalam bermain permainan ini.

    Selain memiliki sisi positif tak menutup kemungkinan juga memiliki sisi negatif. Sejak lato-lato kembali viral, banyak anak-anak yang memainkannya hingga membuat orang lain di sekitarnya merasa kesal karena merasa terganggu oleh bunyinya. Namun demikian, bunyi lato-lato masih dapat kita temui hampir di seluruh tempat, seperti di kedai kopi, pinggiran jalan, gang pemukiman, hingga kantor. Tak jarang pula ada orang tua yang dengan acuh membiarkan anaknya bermain lato-lato di ruang tunggu rumah sakit sehingga menggangu para pasien yang sedang berobat.

    Hingga saat ini sudah terdapat beberapa kasus kecelakaan saat bermain lato-lato, seperti luka lebam di area tubuh dan wajah. Selain itu, seperti yang sedang viral beberapa hari terakhir, ada seorang bocah SD mengalami kebutaan setelah bandul lato-lato yang ia mainkan menghantam bola matanya hingga pecah.

    Berbagai teori konspirasi terkait permainan yang sedang viral ini pun bermunculan. Seperti pada sebuat thread di laman media sosial Facebook yang mengkaitkan permainan ini dengan simbol segitiga bermata satu atau sering disebut dengan segitiga ilumintati. Pada thread lain pun disebutkan bahwa nama dari permainan ini, lato-lato, memiliki arti “aku Yahudi”. Tentu saja semua teori konspirasi yang tersebar tersebut tidak ada satupun yang benar.

    Saat ini, banyak imbauan dari dinas pendidikan setempat kepada warga sekolah baik itu tenaga kependidikan maupun siswa untuk tidak membawa permainan lato-lato ke sekolah. Padahal, tidak ada dasar hukum atau akademis tentang aturan untuk tidak membawa lato-lato ke sekolah. Alasannya terkesan mengada-ada, yaitu karena lato-lato bukan media atau alat pengajaran, bisa mengganggu konsentrasi  siswa karena berisik dan alasan lainnya adalah faktor keamanan.

    Padahal di sisi lain, alat ini bisa menjadi selingan kegiatan pembelajaran  agar proses belajar mengajar tidak monoton. Misalnya, gerakan permainan lato-lato juga dikatakan sebagai pemicu yang merangsang fungsi motorik anak. Saat memainkan lato-lato, pemain harus menggerakkan tangan secara seimbang untuk mencapai permainan yang baik. Ketika gerakan ini terjadi, setidaknya ada fungsi koordinasi antara kemampuan kognitif dan motorik anak, yang berpengaruh baik pada perkembangannya.

    Penelitian terbaru membantu menjelaskan bagaimana olahraga secara langsung bermanfaat bagi sistem saraf, yang mengarah pada pembelajaran. Aktivitas otot, terutama aktivitas yang terkoordinasi, dapat merangsang produksi neurotropin, yaitu zat alami yang merangsang pertumbuhan sel saraf dan meningkatkan jumlah sambungan saraf di otak, sehingga berdampak positif pada pembelajaran (Jalaluddin, 2010).

    Bermain lato-lato juga dapat meningkatkan perkembangan sosio-emosional anak. Biasanya permainan lato-lato dimainkan secara bersamaan dan bersamaan dengan beberapa pemain lainnya. Apalagi saat ini, setelah proses pembatasan sosial di masa pandemi Covid-19, kita harus menjaga perkembangan sosial anak. Kehadiran permainan lato-lato kembali menciptakan persatuan sosial bagi anak melalui bermain. Dalam hal ini, keterampilan sosial anak meningkat bersama banyak anak lainnya.

    Tentunya kita juga harus memperhatikan faktor kenyamanan dan keamanan anak yang memainkan permainan tersebut. Meskipun bermain lato-lato saat ini memiliki keuntungan bagi tumbuh kembang anak, namun kedua faktor tersebut harus terus sangat diperhatikan agar tidak menjadi alasan untuk melarang anak bermain.

    Apapun itu, kita patut bersyukur atas kepopuleran lato-lato yang dapat menjauhkan anak-anak dari gawai untuk sementara waktu. Hal ini setidaknya menjadi tanda bahwa permainan tradisional masih dapat mencuri perhatian anak jika para orang tua mau mengenalkan mereka dengan permainan tradisional dan memberi mereka ruang untuk mengeksplorasinya.

     

    Hendra Dharmawan/2022021153/UPJ/MNJ

    Ikuti tulisan menarik Hendra Darmawan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.