x

Menjelajah wilayah tak bertuan

Iklan

Waode Nurmuhaemin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Februari 2023

Rabu, 15 Februari 2023 06:44 WIB

Negara-negara Lain Sudah Melirik Ekonomi Luar Angkasa; Sedang Kita?

Negara-negara maju berlomba memberdayakan ekonomi bulan. Eksplorasi besar-besaran potensi luar angkasa tengah menjadi primadona. Ketika negara lain sibuk melakukan lompatan-lompatan besar, kita kemudian sibuk klarifikasi fenomena pendidikan kita yang terdegradasi . Sudah saatnya membenahi pendidikan dengan serius,sehingga kita tidak berada dimasalah-masalah klasik yang tidak berujung

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Negara-negara maju berlomba memberdayakan ekonomi bulan. Eksplorasi besar-besaran potensi luar angkasa tengah menjadi primadona. Arab Saudi menjadi negara yang gencar mengembangkan sumberdaya ruang angkasa. Lompatan besar dilakukan dalam rencana mengirim astronot wanita ke ruang angkasa pada akhir 2023 ini. Adalah Rayyana Barnawi yang akan bergabung dengan misi Space X Dragon bersama rekan senegaranya Al Qarni.

Amerika lain lagi, negara adidaya itu melancarkan misi Artemis pesawat ruang angkasa untuk mendarat di bulan. Amerika ingin mengulang kembali kejayaan 53 tahun lalu ketika manusia mendarat di bulan untuk pertama kali. Misi Amerika ini, bukan main-main yang akan membangun semacam pangkalan di bulan sehingga manusia berkesinambungan mengunjungi bulan.

Negara-negara maju memamg tengah bergairah memajukan ekonomi luar angkasa. Jepang, Korea selatan, bahkan India telah melancarkan berbagai misi ke ruang angkasa. Menurut data yang beredar di media-media, pada tahun 2010 ada sekitar 100-an satelit yang diluncurkan. Jumlah itu kemudian meningkat pesat pada tahun 2021 yang mencapai lebih dari 1.800 satelit

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Nilai ekonomi luar angkasa pada 2021, seperti dilaporkan The Space, mencapai angka hingga 447 miliar dollar AS (Rp 6.700 triliun). Sampai saat ini, Indonesia belum memiliki program jangka panjang ruang angkasa. Kehidupan di bumi Indonesia lebih menarik ketimbang ruang angkasa yang sunyi senyap. Riuh, itulah yang terjadi di Indonesia.

Sebelum berbicara jauh tentang ekonomi bulan dan segala tetek bengeknya yang menunjukan tingkat kemajuan manusia yang canggih, perlulah kiranya kita semua memantapkan komitmen cetak biru pendidkan. Negara-negara maju tersebut sudah menduduki rangking-rangking kampus bereputasi dunia. Sementara nun jauh dibumi Indonesia, kita masih sibuk bertengkar dan bersangkarut soal joki jurnal ilmiah. Persoalan akademik yang tidak pernah mati gaya ini menjadi masalah laten yang yang berlarut-larut.

Panas, itulah kata yang bisa menggambarkan persoalan joki akademik ini. Bagaimana tidak, insan-insan yang bahkan bergelar tinggi karya akademiknya bahkan dibuatkan oleh mereka-mereka yang cuma tamatan S1 dan mungkin juga tamatan S3 secara terbatas. Menjadi ironi, ketika kita dibumi sibuk menelisik tentang joki akademik, negara -negara maju sibuk mereka-reka kehidupan diluar angkasa dan segala pernak-perniknya yang hanya bisa kita saksikan dari kejauhan bersinar-sinar dimalan hari. Pendidikan kita memang masih menyisakan beragam persoalan. 

Cetak biru amat diperlukan guna mewujudkan pendidikan berkualitas. Tidak banyak yang bisa dilakukan dengan model pendidkan yang dijalankan separuh-separuh dan tidak utuh dalam kurun waktu tertentu. Kita hanya akan sibuk beradaptasi dengan kurikulum baru yang memakan begitu banyak waktu.

Ketika negara lain sibuk membicarakan bulan, ruang angkasa dan potensi ekonominya. Kita masih mencari-cari model kurikulum yang tepat. Ketika negara lain sibuk melakukan lompatan-lompatan besar, kita kemudian sibuk klarifikasi fenomena pendidikan kita yang terdegradasi . Sudah saatnya membenahi pendidikan dengan serius,sehingga kita tidak berada dimasalah-masalah itu saja.

Tidak adanya cetak biru pendidikan akan membuat kita kehilangan pijakan dan panduan dalam mencapai visi misi pendidikan. Hingar bingar ekonomi bulan, terasa sepi di negara kita diganti dengan gegap gempitanya pembahasan joki akademik. Pendidkan kita seharusnya sudah kokoh di 77 tahun kita merdeka, memiliki visi dan misi yang jelas, dan cetak biru yang terang benderang sehingga bisa membawa negara ini menjadi negara maju.

Ikuti tulisan menarik Waode Nurmuhaemin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler