x

Tata Krama

Iklan

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 23 Februari 2023 19:17 WIB

Bila Ujung Tombaknya Fair Play

LFP IJSL U-14 menjadi satu-satunya ajang di Indonesia untuk belajar tentang fair play, maka khususnya para pribadi yang ada di WAG LFP IJSL 2023, lebih dahulu wajib lulus dari teori dan praktik fair play. Kemudian menjadi ujung tombak bagi pendidikan fair play baik teori dan praktiknya untuk semua anggota timnya, tidak terkecuali.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jelang pekan ke-4 Liga Fair Play (LFP) IJSL U-14, di Lapangan Ayo Arena, Sentul City, Bogor, Minggu, 25 Februari 2023, semoga semua laga akan dapat tersaji dengan Fair Play (kesatria, jujur, wajar, dan adil).

Kesatria, berani dalam hal kebenaran dan berani mengakui kesalahan. Jujur, tidak tidak culas, tidak berbuat manipulatif. Wajar, bersikap sesuai kondisi dan aturan, tidak melebihkan, tidak mengurangi. Dan adil, tidak berat sebelah, tidak mencari menang dan untung sendiri.

Itulah sekurangnya pemahaman di antara beribu pengertian tentang fair play yang di dalamnya ada sportivitas (kesatria dan jujur), serta fair play sendiri yang maknanya wajar dan adil.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Manusia atau orang yang dapat melakukan fair play, pastilah manusia/orang yang cerdas intelegensi (otak) dan cerdas personality (Kepribadian: attitude, emosi, etika, santun, rendah hati, tahu diri, dll).

Manusia/orang yang cerdas intelegensi dan personality, juga dapat dipastikan sebagai manusia/orang yang terdidik dengan benar dan baik di lingkungan keluarga, sekolah/kampus/tempat kerja dll, dan di tengah masyarakat.

Manusia/orang yang cerdas intelegensi dan personality, memiliki standar kecakapan, kompetensi dalam hal kognisi (otak), afektif (sikap-kepribadian), dan motorik (gerak langkah yang benar, baik, posotif). Mereka tentu tahu dan paham teori kognisi, afektif, dan motorik, maka mumpuni dalam mempraktikkan, mengaplikasikan, mengimplementasikan di dunia nyata, termasuk permainan sepak bola.

Manusia/orang yang paham teori tentang fair play, lalu cerdas karena terdidik dengan benar dan baik, tentu akan kompeten mempraktikkan, mengaplikasikan, mengimplementasikan perbuatan fair play dalam kehidupan nyata. Apalagi sekadar untuk permainan sepak bola.

Banyak yang bunuh diri

Dalam kontestasi Liga FP IJSL U-14, berdasarkan pengamatan saya hingga pekan ke-3, semisal dalam Grup LFP, ternyata memang masih banyak individu yang belum layak ikut bersanding di LFP. Salah satu tolok ukurnya: 1. Sebelum LFP digulirkan, setiap tim tentu sudah mendapatkan Regulasi LFP dan apa itu Fair Play. Namun, praktiknya, sampai pekan ke-3 tindakan tidak fair play masih terjadi.

Sewajibnya, yang ada dalam WhasApp Grup (WAG) LFP, adalah pribadi yang sudah lulus tentang fair play baik secara teori mau pun praktik untuk dirinya. Menjadi ujung tombak untuk merasukkan fair play kepada bagian dari timnya (pengurus, pelatih, orangtua, siswa, dll).

Namun, faktanya, jangankan untuk anggota tim lainnya, untuk para pribadi yang dimasukkan dalam WAG LFP oleh panitia saja masih banyak yang belum paham teori dan praktik fair play. Mungkin karena pendidikannya rendah atau berpendidikan tetapi tidak berkarakter benar dan baik.

Sehingga, tidak dapat menjadi ujung tombak untuk dirinya. Apalagi bagi anggota timnya.

2. Malas membaca, sok tahu. Hal malas membaca dan sok tahu, biasanya dilakukan oleh manusia/orang yang tidak atau belum terdidik. Sudah tidak tahu dan paham teori, praktik pun pasti akan berantakan.

Untuk hal ini, saya dapat merasakan sendiri. Sebab, saya sampai menantang semua yang ada di WAG LFP, yang sudah membaca dan paham tentang artikel fair play yang saya tulis, boleh menjapri.saya untuk berdiskusi. Apa yang saya dapat? Hanya satu dua orang yang memiliki keberanian untuk berdiskusi setelah paham dan membaca artikel fair play yang saya tulis.

Karenanya, bila di pekan ketiga, Panitia sampai mengeluarkan peringatan keras kepada Tunas Muda dan M-Private yang berlaga dengan tidak fair play, sampai garansi diskualifukasi dari Liga, pasti tidak dapat dihindari.

Panitia pun menyadari, tujuan LFP ini memang untuk melatih, mendidik, dan membina, agar seluruh bagian dalam setiap tim peserta LFP dapat memahami dan tahu hingga mendarah daging apa itu fair play. Pun dapat mempraktikkan fair play, minimal dalam LFP IJSL U-14 2023, dulu.

Belajar dari LFP IJSL U-14 pekan 1 s.d. 3, nyatanya masih banyak bagian tim peserta yang "bunuh diri" menunjukkan ketidak pahaman teori dan praktik fair play dan belum cerdas intelegensi-personality, malas membaca, dan malas belajar.

Indentifikasi provokasi

Kejadian yang tidak fair play tersebut, bila dianalisis, akar masalahnya adalah laga tensi tinggi, lalu ada benturan plus provokasi. Kata kunci kejadian tidak terjadi fair play adalah PROVOKASI.

Harus dipahami, apa itu provokasi. Siapa pelaku provokasi. Mengapa terjadi provikasi. Apa akibat provokasi. Bila ini dipahami, maka siapa pun akan malu melakukan dan berbuat provokasi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) makna provokasi adalah perbuatan yang membangkitkan kemarahan, tindakan menghasut, penghasutan, pancingan.

Artinya, bila dikaitkan dengan teori dan praktik fair play, kecerdasan intelegensi serta personality, maka pelaku provokasi jelas belum lulus teori dan praktik fair play. Lalu, dasarnya dalam pribadinya juga belum cerdas intelegensi dan personality.

Yang sangat disayangkan dan cukup MENGERIKAN adalah, adanya manusia/orang yang tidak terdidik, tidak cerdas intelegensi dan personality, tidak tahu pedagogi, tetapi berani-beraninya terlibat dan dilibatkan dalam olah raga sepak bola, yang obyeknya adalah manusia/orang usia muda.

Generasi usia muda U-14, rata-rata di sekolah formal masih menempuh pendidikan di level Sekolah Menengah Pertama (SMP). Lihatlah, para pendidik level SMP yang lulus kualifikasi dan kompetensi (Minimal Sarjana, memiliki SIM Sertifikasi guru) saja masih banyak yang gagal menjadi guru SMP, dengan fakta, hasil pendidikan Indonesia, masih terus tercecer di Asia Tenggara, Asia, dan Dunia.

Bagaimana dengan manusia/orang yang tidak memiliki kualifikasi dan kompetensi mendidik, tidak punya Sertifikasi mendidik, tetapi menjadi pelatih sepak bola untuk usia 14 tahun? Bekalnya hanya tahu tentang teknik dan fisik yang terbatas, plus lisensi pelatih sepak bola, D/C/B/A, yang paling lama ditempuh hanya dalam waktu satu bulan. Apa isi materinya? Saya sangat paham, dan tidak cukup untuk bekal mendidik anak usia dini dan muda.

Lebih parah, ada yang tidak terdidik/tidak berpendidikan, tidak memiliki lisensi pelatih bola, tapi sok-sok an menjadi pelatih sepak bola. Hasilnya, ada segudang catatan dalam artikel yang sudah saya tulis. Memprihatinkan dan terus menjadi benang kusut bagi sepak bola akar rumput Indonesia yang tidak pernah diurus oleh PSSI.

LFP sarana terdidik

Atas fakta-fakta yang realis tersebut, sebab LFP IJSL U-14 menjadi satu-satunya ajang di Indonesia untuk belajar tentang fair play, maka khususnya para pribadi yang ada di WAG LFP IJSL 2023, lebih dahulu wajib lulus dari teori dan praktik fair play. Kemudian menjadi ujung tombak bagi pendidikan fair play baik teori dan praktiknya untuk semua anggota timnya, tidak terkecuali.

Berikutnya, kita lihat, bagaimana hasilnya panggung LFP IJSL U-14 di pekan ke-4, Minggu, 25 Februari 2023.

Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler