x

Kompilasi ftv karya Eko Hartono

Iklan

Novia Rahimah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 April 2023

Rabu, 12 April 2023 19:38 WIB

Persoalan Pertelevisian Tak Kunjung Usai

Televisi sebagai sarana edukasi dan media informasi bagi masyarakat kini teralihkan oleh program televisi yang kurang bermanfaat. Program hiburan FTV dan sinetron yang dianggap tidak bermutu menuai banyak pertentangan, sehingga menyebabkan berkurangnya minat untuk menonton siaran televisi sekarang ini. Kualitas pertelevisian Indonesia yang makin hari semakin merosot menjadi sorotan banyak orang dan menimbulkan pertanyaan, "Kapan Pertelevisian Indonesia akan maju?".

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Televisi merupakan salah satu bentuk media massa dan telah menjadi bagian penting dari budaya populer serta memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Televisi dapat menghadirkan beragam program siaran, mulai dari acara berita, hiburan, olahraga, pendidikan, dan sebagainya. Hal ini dianggap positif karena memberikan pilihan yang lebih luas untuk memilih program yang sesuai dengan minat dan prioritas bagi pemirsa.

Hingga sekarang pertelevisian Indonesia terus beradaptasi dengan perkembangan media digital, seperti streaming online, dan platform media sosial. Perkembangan teknologi telah mengubah cara orang mengakses konten media, termasuk televisi. Terkait hal itu, televisi Indonesia perlu berinovasi agar tetap relevan dan memenuhi kebutuhan pemirsa yang semakin beragam dan menawarkan program siaran yang lebih bervariasi.

Namun, kualitas program yang ditawarkan stasiun televisi Indonesia kian hari kian menurun dan masih perlu melakukan banyak peningkatan. Beberapa program dianggap kurang mendalam, rendahnya kualitas produksi, atau terlalu banyak mengandalkan konten sensasional untuk meningkatkan rating. Beberapa stasiun televisi di Indonesia mungkin cenderung menghadirkan konten dengan kualitas yang rendah, di mana terlalu banyak tayangan yang didominasi oleh acara realitas, gosip selebriti, dan berita sensasional yang kurang bernilai edukatif atau informatif, sehingga menurunkan minat penonton.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tak hanya itu, program hiburan FTV dan sinetron kerap dianggap kurang berbobot dan tidak bernilai edukatif ataupun informatif. Siaran FTV dan sinetron memperoleh banyak kritik dan tanggapan, pasalnya siaran tersebut dianggap memperburuk kualitas program televisi Indonesia di mata dunia. Sinetron dan FTV sering kali menghadirkan cerita dan karakter yang tidak realistis, konflik yang berlebihan, kisah cinta yang dramatis, dan gaya hidup glamor.

Pada zaman dulu serial televisi berkualitas tinggi dan memiliki nilai moral yang dapat di ambil, bukan hanya sekedar untuk hiburan semata. Seperti tayangan Dunia Tanpa Koma yang berisi kritikan terhadap pemerintahan, tayangan Dul di Anak Betawi yang memotivasi anak muda untuk berjuang hingga sukses, tayangan Warkop DKI bertemakan komedi yang banyak mengarah kepada kritik untuk orde baru, dan tayangan-tayangan lainnya yang lebih berbobot di bandingkan dengan siaran FTV dan sinetron zaman sekarang.

Seperti FTV Azab yang terlalu mengada-ada dan sangat mustahil terjadi di dunia nyata. Episode yang sudah terlalu banyak dan diulang-ulang, menjadikan siarannya terasa membosankan dan dengan ending yang gampang di tebak. Juga alur cerita yang asal-asalan dan terkadang malah membagongkan. Belum lagi sinetron-sinetron yang membahas mengenai mertua jahat, suami kasar, bahkan istri yang terobsesi TikTok/k-pop sekalipun.

Sebelum mengalami kemunduran seperti sekarang, tayangan televisi zaman dulu lebih mengajarkan kita untuk memilih pilihan hidup, berpetualang untuk mencari jati diri, dan sebagainya. Berbeda dengan FTV dan sinetron sekarang yang sangat mengedepankan seputar kekerasan, perkawinan, dan rumah tangga yang rusak. Bukannya maju, malah jadi semakin buruk.

Persoalan ini menjadi pokok utama yang harus segera diperbaiki dari pertelevisian Indonesia. Permasalahan yang sama dari dulu hingga sekarang yang tak kunjung usai, menimbulkan pertanyaan “Kapan pertelevisian Indonesia akan maju?”. Jika terus begini, maka minat masyarakat untuk menonton televisi akan semakin menurun. Seharusnya, di Tahun 2023 ini stasiun televisi Indonesia berevolusi dengan menciptakan kualitas program televisi yang lebih mengedukatif, informatif, dan positif. Dan bagi penonton, untuk memilah terlebih dahulu siaran apa yang akan dikonsumsi, dan lebih bijak menerima siaran yang disuguhkan televisi.

Ikuti tulisan menarik Novia Rahimah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini