x

Jasa Penulis

Iklan

Samudera Berlari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2021

Kamis, 13 April 2023 17:36 WIB

Para Pengepul Naskah Gratis Pencari Untung Berkedok Lomba Menulis

Menurut saya, penyelenggara lomba yang seperti itu tidak bisa menghargai sebuah karya. Mereka hanya melihat karya sebagai sebuah komoditas yang bisa dijual dan mendapat keuntungan. Padahal, nilai dalam sebuah karya lebih tinggi dari sekadar produk bernilai jual. Dalam sebuah karya terdapat perasaan disana, jiwa, dan mungkin sepotong ingatan yang berharga.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sekarang ini, sudah banyak sekali pihak-pihak yang menyelenggarakan lomba kepenulisan, entah itu karya tulis ilmiah, artikel, cerpen, puisi, dongeng, atau lain sebagainya. Hal ini merupakan kemajuan dalam bidang kepenulisan, sebab, dengan banyaknya penyelenggara lomba kepenulisan, berarti semakin banyak orang-orang yang menaruh minat dalam bidang kepenulisan. Pun hal ini berarti minat membaca di Indonesia semakin berkembang dengan baik.

Infomasi tentang lomba kepenulisan juga sangat mudah untuk diakses. Terdapat banyak sekali akun penyedia informasi lomba yang hadir di bermacam media sosial. Lomba yang ditawarkan pun ada bermacam-macam, termasuk lomba yang berbayar dan tidak berbayar. 

Ketika saya sedang mencari info lomba kepenulisan, saya menemukan ada beberapa pihak penyelenggara lomba yang sedikit membuat saya gemas. Mungkin tidak hanya saya yang sering menjumpai hal semacam ini, barangkali kalian juga pernah menjumpainya entah pada media platform mana.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Yang membuat saya sedikit gemas adalah beberapa pihak penyelenggara lomba yang berkata akan membukukan naskah, entah itu beberapa naskah terbaik atau semua naskah yang masuk, dan tidak ada unsur royalti disana. Menurut saya, yang paling mendapat keuntungan adalah penyelenggara. Coba bayangkan, buku yang terbit itu dijual, mayoritas pembelinya tentu saja para peserta lomba itu sendiri. Penyelenggara dapat uang, lantas, penulisnya? Para penulis (peserta lomba) justru mengeluarkan uang untuk membeli buku yang berisi naskah mereka di dalamnya. Para penulis malah membeli karya mereka sendiri.

Kalau uang hasil pembelian buku untuk disumbangkan, saya masih bisa meng-iya-kan, karena serupa dengan kegiatan untuk beramal. Namun, jika tidak ada unsur royalti dan ketidak jelasan keuntungan yang didapat penulis, penyelenggara lomba tak ubahnya para pengepul naskah gratis pencari untung berkedok lomba.

Peningkatan dalam ranah kepenulisan, banyaknya orang yang mulai tertarik untuk membaca lebih banyak dan mulai menulis, adalah hal yang baik. Namun, orang-orang juga perlu untuk meningkatkan perasaan menghargai sebuah karya.

Menurut saya, penyelenggara lomba yang seperti itu tidak bisa menghargai sebuah karya. Mereka hanya melihat karya sebagai sebuah komoditas yang bisa dijual dan mendapat keuntungan. Padahal, nilai dalam sebuah karya lebih tinggi dari sekadar produk bernilai jual. Dalam sebuah karya terdapat perasaan disana, jiwa, dan mungkin sepotong ingatan yang berharga.

"Kan lombanya bersifat gratis. Cover buku, layout, biaya percetakan, kan, menjadi tanggung jawab penyelenggara. Buku yang terbit juga kan bisa membuat nama penulis dikenal oleh pembaca buku. Kan, dengan adanya buku cetak juga bisa dijadikan kenang-kenangan."

Apa itu sepadan? Bagi saya, itu tidak sepadan. Sebuah karya memiliki nilai. Karya itu mahal, sebuah karya lahir dari buah pikir dan perasaan yang tertuang. Dalam menciptakan sebuah karya, dibutuhkan waktu yang relatif panjang. Seseorang pada akhirnya bisa menulis sebuah cerpen, melalui tahun-tahun yang panjang, ia membaca banyak buku, berlatih menulis berulang kali, hingga akhirnya mampu menyelesaikan sebuah karya. Bagus atau tidaknya itu relatif, namun jika karya dibuat dengan jujur dan sungguh-sungguh, saya percaya pasti ada orang diluar sana yang mampu menikmatinya.

Rata-rata yang mengikuti lomba jenis ini adalah para penulis baru, orang-orang yang baru mulai menulis, atau belum lama berkecimpung di dunia kepenulisan. Saya sendiri pernah mengalaminya dan ternyata tidak hanya saya. Dulu, saya pernah mengikuti lomba menulis puisi, beberapa karya yang terpilih dijadikan antologi puisi. Banyak yang membelinya, pembeli rata-rata penulis atau orang terdekat penulis. Buku itu dijual dengan sistem PO, bukan buku yang akan kalian jumpai di rak toko buku. Tidak ada unsur royalti, siapa yang mendapat keuntungannya? Sedangkan para penulis yang karyanya terpilih hanya mendapat selembar sertifikat (jujur saja, sampai sekarang saya tidak tahu apa kehebatan sertifikat yang saya dapat. Mungkin ada yang bisa memberi tahu saya?)

Dulu, saat awal berkecimpung di dunia kepenulisan, saya akui bahwa saya penulis baru yang naif. Saya memutuskan mengikuti lomba gratis yang naskah terpilihnya akan dibukukan tanpa memikirkan hal-hal lainnya. Saat itu, saya berpikir, "ini kan lomba gratis, dibukukan dengan penulis lain. Ini kesempatan bagus, sebuah batu loncatan untuk memulainya, langkah awal untuk memperkenalkan nama saya. Saya juga akan memiliki buku antologi dengan karya saya sebagai kenang-kenangan."

Sekarang, saya tidak lagi berpikir bahwa itu batu loncatan yang bagus. Saya masih merasa buku itu kenang-kenangan, berisi kenangan betapa naifnya saya dulu.

Ikuti tulisan menarik Samudera Berlari lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu