x

Sangat Penting dan Wajib Diketahui Bagi Anak Perempuan

Iklan

Fatimatuz Zahra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Oktober 2020

Sabtu, 15 April 2023 21:04 WIB

Ada Romantisasi Toxic Parenting dalam Lagu Saat Kau Tlah Mengerti

Lagu-lagu Virgoun memang cenderung mudah diterima berbagai kalangan karena diksinya yang gampang dicerna dan dihafal. Selain itu juga relate dengan kondisi masyarakat yang menjadi sasarannya. Tapi ada yang berbeda pada lagu terbarunya. Ada nuansa romantisasi toxic di sana. Inilah bedah tipis-tipis lariik lagu tersevut.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya



Lagu-lagu Virgoun memang cenderung mudah diterima oleh berbagai kalangan karena diksinya yang mudah dicerna dan dihafal. Juga karena hampir selalu berhasil untuk relate dengan kondisi masyarakat yang menjadi sasaran pasarnya.

Lagu Surat Cinta untuk Starla yang dirilis tahun 2016 misalnya, sempat viral dan diputar di berbagai cafe guna menemani suasana kasmaran masyarakat usia remaja-dewasa saat itu. Lagu ini juga cukup sering di-cover ataupun dijadikan bahan gombalan untuk para gebetan.

Lagu lain, Selamat Tinggal yang ada 4 chapter itu juga nggak kalah booming. Sobat ambyar pada masanya turut larut dalam lagu yang berkisah tentang mengikhlaskan mantan tersebut.

Baru-baru ini, Virgoun kembali merilis sebuah lagu berjudul Saat Kau Tlah Mengerti. Sependek penangkapan saya, lagu ini berupaya menyampaika pesan orang tua kepada anaknya yang disampaikan saat sang anak sudah beranjak dewasa.

Laiknya lagu Virgoun lainnya, lagu ini pun kembali menemani keseharian masyarakat, khusunya untuk keperluan ngonten tertang hubungan anak dan orang tua. Tapi, sejak pertama mendengar aku merasa ada yang salah dengan lagu yang bagian reff-nya sliweran di TikTok untuk jadi backsound konten ini.

Menurutku, ada nuansa romantisasi toxic parenting dalam bait reff dan sejumlah bait lainnya. Mari kita coba untuk mengamati bait reff lagu ini lebih dekat. Berikut liriknya :

Bila bentakan kecilku patahkan hatimu
Lebih keras dari itu, dunia 'kan menghakimimu
Kubentuk dirimu menjadi engkau hari ini
Kau harus kuat, kau harus hebat
Permata hatiku

Lihat bagaimana bait ini mencoba untuk mengelak dari kesalahan sang orang tua yang tak mampu berkomunikasi secara asertif kepada anak. Sudahlah ngebentak, alih-alih meminta maaf, tapi malah ngeles dan cenderung bersikap manipulatif dengan bilang "Jangan cengeng kalau dibentak dikit, kehiupan dunia akan menghajarmu lebih kejam dari ini."

Nih ya, pak bu dan parents wannabe semuanya. Kalau tahu bahwa dunia akan lebih kejam kepada anakmu, bukankah seharusnya kalian sebagai orang tua menjamin keamanan anak dan bersiap menjadi tempat pulang ternyaman sewaktu-waktu sang anak membutuhkan pelukan. Bukannya malah mewajarkan perilaku abusive demi 'menguatkan' mental anak.

Ini sih sebenarnya khas asian parenting banget ya, yang gengsi minta maaf akhirnya memanipulasi si anak untuk menerima saja perlakuan buruk semacam itu demi kebaikannya di masa depan. Padahal, sejumlah riset yang mengkaji tentang kebenaran mitos ini telah menunjukkan hasil yang kontraproduktif dengan tujuan pendidikan terhadap anak.

Dilansir dari Fimela, membentak anak disebut berkontribusi membentuk citra diri negatif pada anak. Dalam jangka panjang bahkan mengakibatkan gangguan perkembangan otak dan depresi. (https://www.google.com/amp/s/www.fimela.com/amp/4683020/dapat-merusak-sel-otak-ini-bahaya-jika-orangtua-sering-membentak-anak).

Beralih ke lirik selanjutnya, 'Kubentuk dirimu menjadi engkau hari ini. Kau harus kuat, kau harus hebat'. Saat mendengar lirik ini, pikiran saya langsung tertuju kepada para orang tua yang hampir tak pernah menanyakan apa sebenarnya kemauan anaknya, tetapi terus memaksakan apa yang ia anggap baik untuk kehidupan anaknya.

Aku pribadi sangat terganggu dengan diksi 'kubentuk dirimu' dalam bait tersebut. Kesannya sangat otoritatif dan menafikan kemerdekaan si anak sebagai manusia. Ya tipikal orang tua yang kemna-mana memamerkan bahwa prestasi anaknya adalah hasil didikanya, walaupun dalam praktik sebenarnya tidak demikian adanya.

Dengan pendirian seperti di atas, bait setelah refren ini malah jadi semakin membingungkan. Begini bunyinya :

Nak... kan tiba waktu
Kau harus tentukan jalanmu
Yang mungkin tak searah dan indah di mataku
Pabila terjadi
Berjanjilah kau akan slalu menjadi dirimu sendiri

Nahloh setelah kecilnya dibentak dan dimanipulasi, dan bahkan mungkin disuruh selalu ikut pendapat orang tua, sekarang dikasih tahu kalau suatu saat si anak harus bisa menjadi diri sendiri. Gimana caranya coba? Wong sejak kecil mau berekspresi takut dibentak dan dicap nggak nurut. Wes, angel.

Bahkan pilihan judulnya pun, tak luput dari nuansa praktik parenting yang kurang terbuka dengan anak. Alih-alih menjelaskan kesalahan atau ketidaktahuan anaknya di mana, orang tuanya malah milih menimbun masalah denga bilang "ah nanti kalau udah gede kamu juga akan ngerti sendiri." Lha kalau nggak pernah dijelasin, ekspektasinya anaknya bisa ngerti dari mana? Sungguh aneh.

Hal-hal tersebut di atas sebetulnya sangat disayangkan, mengingat pada bait awal lagu ini sudah cukup optimistis dengan bilang bahwa "Dan dunia ternyata tak seperti harapanmu. Ku ada disini, menjadi rumah yang slalu menanti kepulanganmu." Tapi makin ke bawah sampai akhir lagu, malah makin kontradiktif dengan pernyataan ini.

Aku jadi punya 2 hipotesis abal-abal soal penulisan lagi ini, pertama lagu ini nggak ditulis dengan alur yang jelas. Sekadar meracau dan disusun kata-katanya. Kedua, ya memang begitulah "normal" nya orang tua di negeri ini, atau setidaknya yang dilihat oleh penulis lagu ini.

Tapi di luar dari semua itu, ini tetaplah lagu Virgoun seperti biasa, yang easy listening dan relate dengan kondisi masyarakat sehingga bisa dijadikan backsound berbagai konten~

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ikuti tulisan menarik Fatimatuz Zahra lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler