x

Iklan

Christian Saputro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Juni 2022

Selasa, 23 Mei 2023 07:20 WIB

Bunga Sedap Malam untuk Ita Martadinata dan Rujak Pare Sambel Kecombrang untuk Korban Tragedi Mei ‘98

“ Hidup aku menyukai , kebenaran aku menyukai juga, tetapi kalau tidak dapat kuperoleh kedua – duanya , akan kulepaskan hidup dan kupegang teguh kebenaran.” Semoga teladan Ita Martadinata, dan koraban mei 1998 menjadikan kita selalu ingat menjunjung kebenaran dalam jalan kebajikan, berkeadilan dalam kemanusiaan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Boen Hian Tong (Perkumpulan Rasa Dharma) Semarang kembali memperingati Tragedi Mei ’98 dengan menggelar Ritual Rujak Pare Sambal Kecombrang.  Kegiatan ini digelar dimarkas Boen Hian Tong, di Gedung Rasa Dharma, Jalan Gang Pinggir 31, Kranggan, Semarang, Minggu  21 Mei 2023.

Kegiatan yang dimulai pada pukul 10.00 WIB yang dipandu Asrida Ulinuha diawali dengan ritual sembahyang Tien dipimpin WS Andi Gunawan di pintu masuk Gedung Rasa Dharma hingga ke altar leluhur.  Pemasangan pita hitam di lengan kiri peserta doa, perarakan ke ruang Sinci membawa bunga sedap malam yang diringi dengan lantunan puisi bertajuk : “Sinci Ita Prasasti Kebenaran Keberanian” karya Ketua Umum MATAKIN Xs. Budi S. Tanuwibowo sebagai catatan refleksi saat peserta doa berjalan beriringan menuju sinci Ita Martadinata  di altar utama Boen Hian Tong.

Sembilan Oktober sembilanpuluh delapan

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ita Martadinata Haryono menjadi korban

Ketika usianya masih sangat muda belia

Saat mau ke Perserikatan Bangsa-Bangsa

 

Ita adalah korban kekerasan Mei yang hitam

Kala Jakarta dihantui kekerasan mencekam

Bara api membara di seantero penjuru kota

Mata beringas buas menjarah dimana-mana

 

Indonesia seperti bukan negara hukum

Jerit tangis perempuan memenuhi udara

Kekuasaan lumpuh tidak berdaya vakum

Sesama warga bangsa saling memangsa

 

 

Ini adalah salah satu catatan paling kelam

Sama kelam dengan gedung yang menghitam

Tersisa tinggal kerangka habis dimakan bara

Bara api dan kekejaman manusia tiada tara

 

Agenda Ita di PBB memberikan kesaksian

Atas kekejaman yang menimpa anak bangsa

Mewakili diri dan kaumnya yang dilecehkan

Diinjak martabatnya dikoyak kehormatannya

 

Namun langkah dan rencana Ita terhenti

Bukan sementara tetapi selamanya abadi

Ita tewas mengenaskan dengan tubuh luka

Sebelum mulutnya sempat bersaksi bersuara

 

Kini setelah duapuluh lima tahun berlalu

Ingatan kita tidak boleh pudar membeku

Catatan peristiwa Mei 1998 adalah noda

Noda yang tak boleh terulang selamanya

 

Ita memang bukan satu-satunya

Ia mewakili Ita-Ita lain tak bersuara

Keberanian memang mahal harganya

Maka penghormatan sudah selayaknya

 

Sinci Ita hanyalah sebuah wujud apresiasi

Sederhana tapi mempunyai nilai yang berarti

Mewarisi tradisi luhur generasi demi generasi

Pahlawan kemanusiaan perlu dihormati abadi

 

Semoga Ita damai bahagia di Haribaan Tuhan

Jasadnya sirna semangatnya tak kan padam

Tumbuh bergelora menyuarakan Kebenaran

Tak surut undur meski lebur dipalu digodam

 

Sesampai di depan altar para peserta doa meletakkan Bunga Sedap Malam untuk Ita dan dilanjutkan sembahyang  dipimpin ole WS Andi Gunawan dengan melangitkan doa Tragedi Mei 1998 kehadirat Tuhan.

Mei 1998 merupakan moment yang tidak mudah dilupakan, masih tidak terlupakan Tangisan suara ketidakadilan  manusia yang tenggelam dilarut oleh jaman, kecaman dari superior yang menyisakan kenangan pahit di dalam hidup, kebingungan yang masih terbayang dari wajah orang – orang yang tak berdosa tanpa tahu makna yang terjadi.

https://www.indonesiana.id/admin/foto#

“Kami berkumpul bersama di tempat ini, untuk bersama menundukan diri, menegakkan kesusilaan menghormat kepada para korban Mei 1998 , terutama sebagai simbol Sinci Ita Martadinata yang diletakkan di Gedung Perkumpulan Boen Hian Tong Semarang,” dedah Wense Andi.

Melalui asap dupa yang melambung kelangit luas, sambung Andi, semoga harapan doa kami kepada seluruh Korban tragedi Mei 1998 dapat diberikan ketenangan di alam keabadaian, bersama dengan Sang Pencipta Yang Maha Adil .

Menolak lupa sebagai bentuk tugu peringatan , melalui simbol ritual rujak pare sambel kecombrang membuat kami untuk dapat terus belajar meneladani kejadian untuk berbuat lebih baik dalam kehidupan tanpa melupakan sejarah

Seperti Kata Sang Budiman “ Hidup aku menyukai , kebenaran aku menyukai juga, tetapi kalau tidak dapat kuperoleh kedua – duanya , akan kulepaskan hidup dan kupegang teguh kebenaran.”

Semoga teladan Ita Martadinata, dan koraban mei 1998 menjadikan kita selalu ingat menjunjung kebenaran dalam jalan kebajikan, berkeadilan dalam kemanusiaan.

“Kami selalu mendoakan semoga keluarga korban yang masih dalam kepahitan semoga dapat selalu dikuatkan dan menjalani kehidupan kedepan lebih baik.Kami yakin dan percaya, Huang Tian Shang Ti senantiasa Penilik, Pembimbing dan Penyerta kehidupan kami.” pungkas Ws. Andi Gunawan mengakhiri doanya.

Ketua Panitia Peringatan Tragedi Mei “98 Tahun 2023, Jose Amadeus Krisna mengatakan, sangat mengapresiasi para undangan yang ikut dalam peringatan ini. Lebih lanjut, Jose, mengatakan, kenapa pare, itu melambangkan sejarah pahit. Jadi pahit pedas kita ikut nangis kan, melambangkan kepedihan kekerasan dan ketakutan yang dialami orang Tionghoa saat tragedi 98.

“Dan perempuan Tionghoa disimbolkan dengan bunga kecombrang. Ini untuk mengingatkan  kepada kita tragedi) jangan sampai terjadi lagi," terang Jose,

Dengan adanya Peringatam Tragedi Mei ’98 harapannya peristiwa ini jangan sampai terulang lagi. Apalagi menjelang tahun politik 2024 jangan sampai kita hanyut terbawa arus.

“Ritual rujak pare sambel kecombrang yang digelar Boen Hian Tong ini menariknya dijadikan festival oleh Komnas Perempuan untuk memperingati tragedi Mei ’98,” ujar Jose Amadeus dengan melanjutkan membaca rilis yang diterbitkan dari Komnas Perempuan.

Sementara itu, Ketua Boen Hian Tong Harjanto Halim mengatakan, pihaknya  pertama kali menggelar acara mengenang Tragedi Mei 98 dengan makan rujak Pare dan sambal bunga kecombrang pada tahun 2018. Jadi gelaran Ritual Rujak Pare Sambal Kecombrang sudah digelar enam  kali.

“Saya ingat betul  pertama kegiatan dilaksanakan hari Minggu, 13 Mei 2018 Pukul 09.00 WIB.  Pasalnya,  bertepatan hari itu dua jam sebelumnya, Pukul 07.00 WIB ada kabar bom meledak di Surabaya. Teman-teman sempat panik menanyakan bagaimana acara. Bomnya di Gereja di Surabaya, kita melaksanakan acara kan di Semarang,” ujar Harjanto mengenang.

Keputusannya, lanjut Harjanto, acara mengenang tragedi Mei 98 tetap diadakan.  Bahkan acara lebih khusyuk dan sejuk , karena peserta Ikut mendoakan para korban bom gereja di Surabaya.

Harjanto menandaskan,  gerakan ini dilakukan,  karena BHT ingin melawan lupa.  Tragedi Mei  1998 itu sebuah  tragedi yang sangat menyedihkan dan pahit sekali untuk bangsa kita.

Harjanto menandaskan  kepahitan tidak harus selalu dikenang dengan kesedihan,  tapi menjadi sebuah energi,  sebuah tenaga baru.  “Sebuah kekuatan untuk menghapuskan hal-hal yang jahat dari NKRI,” tandas Harjanto.

Dilanjutkan dengan ritual mengulek sambel kecombrang dan mencampur nasi ulam bunga telang.

Gelaran acara dilanjutkan dengan launching buku antologi Cerpen Asmaraloka, kesaksian program Estungkara Kecomrang yang menghadirkan korban kekeran yaitu; Henny Kidawati Jatmiko dan Iven. Ditutup denga  refleksi yang disampaikan dari Ketua Garpu Perak  Sukendar dan Direktur LRC KJHAM Nur Laila Hafidhoh ditutup dengan acara foto bersama.

Ikuti tulisan menarik Christian Saputro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler