x

painting by Genevieve Esson

Iklan

Yudha Prasetya

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 Desember 2022

Sabtu, 17 Juni 2023 16:38 WIB

Maria dan Lelaki yang Muram

Pikirannya terbelit-belit pada kenyataan dan harapan. Ibu mau membunuhku agar ia lebih mudah bergerak. Tapi di lain sisi Ibu ingin menjadi seorang ibu dan mengajarkan padaku banyak hal sehingga aku dapat tumbuh besar dan membalaskan dendamnya pada kehidupan. Ibu bercerita kepada Om tentang niatannya itu. Om itu hanya bilang: Jagalah anakmu, suatu saat ia akan berguna untukmu.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Namaku Eva Maria. Kalau malam menjelang orang-orang memanggilku sayang, kalau siang orang-orang menyapaku sundal. Aku tak masalah. Hidup menyendiri dijauhi masyarakat sudah pernah kurasakan dari kecil. Sejak dulu aku selalu akrab dengan kesengsaraan.

Awal perkenalan kami adalah ketika Ibu jatuh cinta pada Ayah. Ibu tergila-gila pada Ayah yang tampan saat muda, penuh gairah, binal, dan jahat. Ayah merayu Ibu yang tiap malam keluyuran ke kolong jembatan layang. Ibu memang cantik. Mungkin bisa disandingkan dengan Ayu Azhari. Ibu memang primadona tongkrongan saat itu. Tapi mendapatkan hati Ayah adalah suatu keistimewaan tersendiri, bahkan bagi Ibu.

Ayah senang menggoda banyak wanita. Kalau mau dihitung, jari-jari manusia tak akan cukup untuk menghitung wanita yang pernah tidur dengannya. Dan Ibu adalah primadona. Segagah apa pun Ayah, ia kepincut juga. Ibu jual mahal, Ayah banyak modal. Di tembok jembatan yang berlumut, yang tak ada cahaya apa pun yang bisa menembusnya, Ibu kalah dari Ayah. Ekstasi mengalir dalam darah mereka berdua. Masing-masing sedang tinggi. Gairah memuncak. Tanpa sadar Ayah menyelesaikannya di dalam.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ibu telat datang bulan. Ayah dihampiri dan dipaksa bertanggung jawab. Tapi Ayah menolak. Kamu 'kan tidur dengan banyak pria, mana mungkin itu anakku! Ibu marah sejadi-jadinya. Ia tetap memaksa Ayah untuk menikahinya. Saat itu Ibu mengakui bahwa hanya dengan Ayah dia melakukan seks. Namun, Ibu kalah. Saat itu selaput darahnya memang sudah pecah karena tak kuat menahan birahi pada satu waktu yang lama sebelum kejadian. Ia menggunakan jarinya sendiri. Setelah itu Ayah pergi dan tak pernah terlihat lagi.

Tak perlu waktu lama untuk kakek dan nenek mengetahui rahasia Ibu. Kakek murka sejadi-jadinya. Nenek tak bisa apa-apa. Maka di usianya yang muda, yang masih belasan menuju dua puluh, Ibu berkenalan pada kejamnya jalanan. Hanya Ibu dan aku yang masih bersarang di kandungannya. Kami berdua menggelandang di tanah ibu kota. Terus-menerus, mencari sesuap nasi sampai tempat berteduh. Semua saudara Ibu menolak mentah-mentah untuk memberikan tempat tinggal. Mereka bilang takut anaknya tertular kebodohannya, menjadi liar dan tak berpendidikan. Aku mungkin tak terlalu merasakan penderitaannya. Aku masih baik-baik saja meringkuk di dalam air ketuban. Ibu yang bercerita seperti itu padaku saat usiaku masih sangat muda. Saat aku duduk di kelas 9.

Ada waktu pula di mana Ibu ingin membunuhku yang masih berupa janin. Saat itu usiaku lima bulan dalam kandungan. Ibu diajak seorang kenalan lama, yang selalu dipanggil om oleh Ibu, orang yang dulu sering menawarkan cannabis sativa kepada anak muda seusia Ibu. Om bilang ia sedang membutuhkan 'kurir'. Ibu menyanggupi, tapi setelah beberapa minggu Ibu jadi mudah lelah. Penyebabnya adalah aku yang masih bersarang di perut Ibu. Ibu jadi gelisah. Pikirannya terbelit-belit pada kenyataan dan harapan. Ibu mau membunuhku agar ia lebih mudah bergerak. Tapi di lain sisi Ibu ingin menjadi seorang 'ibu' dan mengajarkan padaku banyak hal sehingga aku dapat tumbuh besar dan membalaskan dendamnya pada kehidupan. Ibu bercerita kepada Om tentang niatannya itu. Om itu hanya bilang, "Jagalah anakmu, suatu saat ia akan berguna untukmu."

Sejak itu Ibu membulatkan tekad untuk menjagaku meskipun tiap harinya Ibu harus bisa lari dari kejaran polisi. Pada usiaku delapan bulan dalam rahim, Om meminta Ibu untuk beristirahat lebih dahulu. Om mau Ibu melahirkan aku dengan keadaan sehat. Persalinan akan ditanggung oleh Om.

Sebulan kemudian aku lahir dengan sangat sehat. Tangisan pertamaku Ibu dengar sebagai lantunan lagu terbaik yang pernah ia dengar, begitu Ibu bercerita padaku. Dan ia juga berucap bahwa aku adalah manusia pertama yang membawa bahagia padanya. Karena itulah aku dinamakan Eva Maria. Setelahnya Om juga menjamin kehidupan kami sampai aku berusia tiga bulan. Mendengar cerita itu saat kecil, aku selalu berpikir Om adalah orang yang baik. Hingga pada saat aku mulai duduk di kelas 11, kala Ibu tertangkap dan mulai jauh dariku, Om memintaku untuk melayani beberapa pria hidung belang.

"Kamu tahu, ibumu sudah tak bisa memberikan kontribusinya. Kamu perlu bertahan hidup. Dan hal paling mudah untuk mendapatkan uang adalah memuaskan birahi laki-laki," begitu Om menghasut.

Tubuhmu adalah komoditas terbaik yang kamu punya.

Dan setelahnya Om menawarkanku pada temannya. Dengan bayaran paling mahal tentunya.

"Yang satu ini adalah perawan."

***

Selama hampir sepuluh tahun setelah menjadi sebuah komoditas demi bertahan hidup, aku masih tinggal dalam sebuah kontrakan kecil di wilayah yang kumuh. Aku sudah tidak bersama dengan Om lagi. Ia mati ditembak orang di gang yang gelap saat hendak bertransaksi. Dari yang kudengar, Om dibunuh karena telah menjadi cepu. Aku juga sudah lama tak menemui Ibu ketika ia dipindahkan ke wilayah yang semakin jauh. Sekarang aku sendiri. Atau berdua dengan kesepian. Atau malah bertiga dengan kesengsaraan.

Di malam hujan yang cukup lebat, saat jam digital menggambarkan angka 18.25, ada pesan masuk ke gawaiku. Sebuah pesanan, malam ini pukul 22 di salah satu apartemen ternama di Jakarta, lantai 20 apartemen nomor 4. Kulihat sekarang masih pukul tujuh malam. Masih ada waktu untukku bersiap-siap. Aku mulai duduk di depan cermin dengan bayangan yang terus menatapku ketika aku menatapnya. Ekor mataku yang agak mengangkat membuatku wajahku tampak oriental. Hidung mungil yang membulat masih terguyur keringat. Kuseka dengan tisu dan mulai meratakan bedak dan kosmetik ke pipiku yang agak tirus. Bibir tipis itu kuoles dengan gincu merah agar terlihat merona. Cukup lama aku bersolek hingga hujan mulai reda seakan mengizinkan aku untuk pergi. Pada pukul 20.30 aku mulai meninggalkan kamar.

Lampu kumatikan. Pintu kukunci dengan rapat. Dengan payung di tangan kanan aku masih menangkis gerimis. Tangan kiriku mengait tas kecil yang kujinjing dan menghalau dress navy yang kupakai agar tak terkena cipratan air. Melangkah pada gang kumuh memang agak rumit. Selain menghindari anak-anak yang berkeliaran, aku juga harus ditatap layaknya penjahat. Sekumpulan ibu-ibu di dekat pertigaan misalnya. Mereka terus menatapku dan salah satunya mulai berbisik seperti mengatakan, dapat pelanggan lagi dia. Atau bapak-bapak dan anak muda yang duduk di bale atau pos kamling. Matanya seperti tersangkut kail dan pikirannya berusaha menelanjangiku. Sesekali ada yang menggoda dan hanya kubalas senyuman.

Pukul 21.30 aku sampai di tujuan. Hujan sudah sepenuhnya mati. Aku pun menunggu di lobi. Tak berselang lama lelaki itu muncul.

"Maaf menunggu lama," ucap lelaki itu.

"Tidak. Aku baru saja sampai," balasku.

Lelaki itu mengajakku ke dalam dan masuk ke lift yang cukup luas.

"Perjalanannya jauh, Mbak?" tanya lelaki itu sopan.

"Tidak. Cukup dekat kok. Dan jangan panggil ‘Mbak’, ya. Panggil saja Maria. Atau kalau mau lebih intim, panggil saja Sayang," balasku genit.

Lelaki itu hanya tersenyum sambil mengangguk. Sekejap kemudian pintu lift terbuka. Ia masih mengarahkanku ke apartemennya. Langkahnya tegas dan santai. Tidak terburu-buru. Tidak terlihat seperti lelaki yang sedang birahi. Tubuhnya jangkung dan kurus. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya memiliki potongan yang rapi. Matanya terhalang kacamata minus yang sepertinya cukup tebal. Entah mengapa aku mengharapkan permainan terbaik darinya. Ketika aku asyik menerka-nerka kepribadiannya, ia membuka pintu apartemennya dan mempersilakan aku masuk.

"Silakan masuk, Maria."

"Terima kasih."

Kakiku mulai melangkah ke dalam dengan perlahan dan meletakkan payungku pada tempatnya yang tersedia di belakang pintu. Aku lihat sekeliling ruangan. Memang bukan ruangan yang besar. Apartemen itu sangat minimalis. Hanya terdapat satu ruang tamu kecil, kamar mandi, dapur kecil, dan satu kamar tidur. Tapi aku suka dengan apa yang ada di dalamnya. Banyak lukisan-lukisan indah di dindingnya. Di ujung dekat jendela, terdapat meja kerja yang minimalis juga. Laptop masih terbuka dan dalam keadaan menyala. Kulirik sedikit. Sepertinya tentang pekerjaannya. Ada buku di samping laptop itu. Kubaca sepintas judul yang tertera. Kenangan Perempuan Penghibur yang Melankolis. Itukah alasan dia birahi dan menanggilku?

"Silakan duduk. Kamu mau minum apa?"

"Apa saja yang kamu punya."

Lelaki itu melangkah menuju kulkas di dapur. Matanya yang bulat mencari-cari minuman. Sedangkan aku duduk pada sofa yang berhadapan dengan meja. Tas kecil yang kubawa kuletakkan di atas meja putih itu.

"Ah! Maaf aku belum memperkenalkan namaku. Aku Aeneas," ucapnya sambil memberikan bir kaleng kepadaku.

"Apa aku mengganggu waktumu?" tanya Aeneas.

"Tidak. Kalau kau mengganggu, maka aku tidak akan ada di sini sekarang," jawabku.

"Benar juga."

Lelaki itu duduk tepat di sampingku. Tangan kirinya mulai mengelus rambutku. Tangan kanannya masih memegang bir kaleng. Wajahnya menoleh ke wajahku. Tak ada nafsu membara dari apa yang kulihat. Tapi wajah yang tenang. Wajah yang rasanya membutuhkan kasih sayang ketimbang memuaskan nafsu belaka. Aku mencoba untuk menciumnya. Lelaki itu bereaksi namun berhenti di tengah jalan dan tersenyum.

"Tak perlu terburu-buru," ucapnya sambil menuju meja kecil di sudut ruangan itu. Sambil menaruh bir yang ia pegang di meja itu, ia berkata, "Biarkan aku selesaikan pekerjaanku dulu."

"Baiklah," ucapku sambil tersenyum dan menenggak sedikit bir yang sudah ia berikan.

Aeneas. Lelaki ini cukup menarik perhatian ketimbang laki-laki lainnya. Kepribadiannya yang tenang mampu membawaku masuk ke dalam suasana yang nyaman. Namun, aku baru beberapa menit bertemu dengannya. Dan aku tidak paham dia seutuhnya. Meski begitu aku tertarik padanya.

Aku berdiri dan mulai menatap lagi dinding yang penuh dengan lukisan yang dipajang itu. Ada satu yang menarik, yang entah membuatku merasa tenang ketika melihatnya. Lukisan yang dominan dengan warna biru tua, beberapa pulasan berwarna kuning, dan beberapa bentuk lingkaran. Di bawahnya seperti sebuah kota yang dikelilingi bukit. Seperti menggambarkan suatu malam di sebuah kota, begitu pikirku. Tapi lingkaran-lingkaran itu dan juga pulasan kuningnya membuat aku terbawa ke dalamnya. Keheningan, kesedihan, sengsara, kesendirian, ketidakmampuan aku untuk hidup seperti tergambarkan di dalamnya. Aku kurang paham seni, aku kurang paham lukisan. Tapi aku jatuh cinta saat itu.

"Semua di sini hanya imitasi. Aku hanya menjiplaknya dan memajangnya di sini. Begitulah hobiku," ucap Aeneas ketika menutup laptopnya. Sepertinya ia sudah menyelesaikan pekerjaannya.

"Oh, ya? Kamu punya bakat yang hebat, Aeneas. Mengapa tidak menjadi pelukis? Semua lukisanmu bagus meskipun hanya jiplakan."

"Tidak, tidak. Aku tidak sehebat mereka yang mampu membuat ini. Aku tidak pernah berpikir untuk membuat karyaku sendiri. Aku tidak bisa berpikir tentang apa yang hendak kuciptakan."

"Sayang sekali."

"Benar. Sayang sekali. Namun menjadi pelukis memang cita-citaku. Aku sudah menguburnya dengan sangat dalam dan mulai menerima kenyataan. Bagaimana denganmu?"

"Maksudnya?" tanyaku heran.

"Ya, bagaimana cita-citamu? Mungkin kamu juga ingin menjadi sesuatu."

"Cita-citaku adalah menjadi sundal."

Lelaki itu terdiam. Aku memang tidak bercanda. Tapi aku juga tidak seserius itu. Ia kemudian duduk kembali ke sofa dan memanggilku untuk lebih dekat lagi dengannya.

Saat baru duduk di sampingnya, dengan sekejap tangannya meremas payudaraku. Aku terkejut dan sedikit mengerang kesakitan.

"Apa kamu suka diperlakukan seperti ini oleh banyak lelaki?" ucapnya dengan wajah yang agak serius.

Sambil menepis tangannya, aku memalingkan wajah. Aku menjadi takut. Ada apa dengan laki-laki ini?

Aeneas mulai memelukku dan meminta maaf. Ia bilang tidak berniat untuk mengasariku. Ia hanya tidak senang pada orang-orang yang tidak jujur. Aku membalas pelukannya.

"Tidak apa. Aku kekasihmu malam ini," ucapku.

Aeneas hanya tersenyum. Ia berdiri dan mengambil gitar di dalam kamarnya. Entah mengapa aku selalu berpikir musik dan seks adalah paduan paling sempurna. Ketika ia membopong gitar itu, maka aku tak lama lagi akan bertugas.

"Aku ingin suasana yang santai malam ini," ucapnya. "Kamu bisa bernyanyi?"

"Ah, tidak. Aku tak pandai bernyanyi," balasku.

"Tak apa. Nyanyikanlah lagu yang kamu suka. Hanya karena kamu tidak pandai bernyanyi bukan berarti kamu tidak boleh bernyanyi."

Aku terkesima akan kalimatnya itu. Ia benar. Aku masih punya hak-hak lain dalam hidupku, termasuk bernyanyi. Ia mulai memetik gitar, mencoba memainkan nada-nada yang tak pernah kudengar. Melihat aku kebingungan, ia mulai menjelaskan bahwa musik yang dimainkannya adalah intro dari Ballade no. 1 milik Chopin. Aku bilang aku tak kenal nama itu. Dia bilang sekarang aku kenal nama itu dan salah satu musiknya. Ia pun kembali menawarkan aku untuk bernyanyi. Aku bilang aku tidak tahu. Aku tidak mengerti lagu-lagu dengan cita rasa seni yang tinggi tapi aku punya satu lagu yang selalu aku suka.

"Lagu apa itu?" tanya Aeneas.

"Forever and One."

"Kamu menyukai Helloween?"

"Aku hanya menyukai lagunya."

"Kamu punya kenangan dengan lagu itu?"

"Dulu ibuku sering mendengarkannya menggunakan kaset di radio. Dan sejak kelas 10 aku mulai sering menyanyikannya."

“Kamu dan ibumu punya selera yang bagus,” ucap Aeneas sambil mengangguk paham dan ia mulai memetik senar gitar. Seraya mendengarkan nada yang mengalun merayu telinga, bibirku mulai terbuka.

What can I do?

Lirik itu terus keluar dari napasku mengikuti nada-nada yang membelai jari-jari Aeneas. Ruangan kedap suara, lampu memijar terang mengganti bulan yang disembunyikan tirai, desir angin air conditioner muncul di sela-sela tarikan napas. Aeneas juga sesekali ikut bernyanyi. Wajahnya tersenyum. Ia berkata suaraku bagus dan cocok sebagai penyanyi. Baru pada malam ini aku merasa menjadi seseorang yang berbeda.

Menatap wajah Aeneas membuat dadaku hangat. Ada sebuah letupan yang dari dulu tak pernah aku rasakan. Dan letupan itu menyadarkan aku yang seharusnya tak boleh memiliki perasaan pada siapa pun. Tanpa disadari, mengikuti harmoni lagu ini, air mataku menyusuri pipi. Aku berhenti bernyanyi. Aeneas sempat berhenti juga. Aku buru-buru menenggelamkan wajahku ke dalam lutut yang buru-buru kutekuk dan kurapatkan. Dalam tangisku, Aeneas melanjutkan nyanyiannya.

How could you hide

your lies, your lies.

Air mata makin jatuh menyusur bibir hingga lepas ke lantai. Aku tidak ingin seperti ini.

Kudengar Aeneas meletakkan gitar itu di sampingku. Mungkin ia berdiri. Ketika kuintip dari sela-sela tangan yang melipat, jarinya yang kurus menekan saklar pada dinding. Lelaki itu mematikan lampu, lelaki itu menyalakan lilin.

Ikuti tulisan menarik Yudha Prasetya lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu