Kegigihan PAWLIPHU Melestarikan Sumberdaya Kelautan di Sulawesi Tengah

Sabtu, 24 Juni 2023 07:16 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Negeri yang dikelilingi sejuta lautan ini memerlukan kegigihan berjuang seperti ditunjukan PAWLIPHU. Kegigihannya berhasil melesatarikan sumberdaya kelautan di tingkat lokal. Di tahun 2023 ini, SATU Indonesia Awards kembali menjaring para penyelamat lingkungan hidup. Diharapkan SATU Indonesia Awards 2023 dapat memunculkan para pejuang lingkungan hidup baru seperti PAWLIPHU di Sulawesi Selatan.

Ramli A Bidullah melalui program Pengawas Lingkungan, Perairan, dan Hutan (PAWLIPHU)  berhasil mendapatkan penghargaan SATU Indonesia Awards di tahun 2022. PAWLIPHU merupakan kelompok pelestarian lingkungan Desa Tangkop Kabupaten Banggai Kepulauan yang berdiri sejak 16 Mei 2016. PAWLIPHU dibentuk untuk menampung dan mengajak masyarakat dalam kegiatan perlindungan lingkungan desa-desa di daerah pesisir pantai.

Hasil tak menghianati kerja keras, begitu kata pepatah. Hal yang sama juga dialami oleh PAWLIPHU dalam melestarikan sumberdaya kelautan di Sulawesi Tengah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Pada awalnya, kami menghadai kendala dalam merealisasikan program pelestarian sumberdaya kelautan di Banggai Kepulauan,” ujar Ramli, begitu ia akrab dipanggil kepada tim SATU Indonesia Awards, “Awalnya, kami sulit mengubah pola pikir masyarakat yang menganggap sumber daya alam bisa diambil semaunya dengan cara apa saja tanpa memperhatikan keseimbangan dan berkelangsungan sumber daya alam tersebut.”

Menurut Ramli, PAWLIPHU tak henti-hentinya melakukan Pendidikan publik kepada masyarakat. “Di setiap pertemuan desa, pesan-pesan untuk menjaga lingkungan sekitar hutan, pesisir, dan laut disampaikan, “ ujarnya, “Kami berharap masyarakat mengerti dampak dari kebiasaan perusakan alam yang secara tidak sadar mereka lakukan.”

Pemberitahuan dan pelarangan perusakan lingkungan, lanjutnya, juga disampaikan melalui spanduk yang dipasang di spot-spot pesisir dan hutang mangrove di dua desa.

“Selain edukasi, anggota PAWLIPHU bersama relawan dan masyarakat setempat juga melakukan kegiatan lain yang rutin dilakukan setiap satu bulan sekali,” ujarnya, “Kegiatan tersebut diantaranya melakukan pembersihan sumber mata air dan pantai yang sering dikunjungi orang di akhir pekan, patroli hutan dan hutan mangrove, melakukan transplantasi terumbu karang dengan metode sederhana, konservasi mangrove, melakukan promosi wisata serta menerima kunjungan dari kelompok konservasi lainnya, juga identifikasi flora dan fauna endemik di Kecamatan Liang.”

Melalui pola pendekatan yang memanusiakan manusia dalam pendidikan publik tersebut, ditambah dengan pembinaan bersama Dinas Lingkungan Hidup setempat, ungkap Ramli, kini pikiran masyarakat mulai terbuka. “Bahkan kini masyarakat mulai ikut dalam aksi pelestarian lingkungan di setiap kegiatan hariannya,” ungkapnya.

Kendala yang dihadapi dalam melestarikan sumberdaya kelautan pun tidak berhenti sampai di situ. “Kendala terberat yang kami alami dalam menjalankan program ini adalah kondisi wilayah yang terpisah-pisah antar pulau,” ungkapnya, “Daerah Banggai Kepulauan terdiri dari ratusan pulau kecil. Sarana dan prasarana sangat minim terutama kendaraan untuk melakukan pengawasan.”

Hal itu, lanjutnya, menyebabkan sulitnya melaksanakan kegiatan dan pengawasan ke hingga desa tetangga. “Saat ini PAWLIPHU hanya bisa menggunakan perahu yang dimiliki desa yang diakui sangat terbatas untuk dapat memperluas cakupan kegiatan ke wilayah lainnya.”

Berbagai kendala itu tidak menyurutkan PAWLIPHU untuk terus melestariakan sumberdaya kelautan. Hasilnya, lanjut Ramli, kini masyarakat desa tetangga justru mencari ikan di wilayah empat desa binaan PAWLIPHU. “Ini terjadi karena di daerah tersebut mungkin masih marak aktivitas pengeboman yang menyebabkan berkurangnya ekosistem laut,” jelasnya, “Desa Tangkop yang menjadi awal pelaksanaan program kini bahkan telah lolos dalam penilaian Program Kampung Iklim (Proklim). Wilayah konservasi yang dibangun juga telah dikunjungi oleh beberapa kelompok konservasi dari luar daerah hingga luar negeri.”

Negeri yang dikelilingi oleh sejuta lautan ini memerlukan kegigihan berjuang seperti ditunjukan oleh PAWLIPHU. Kegigihannya berhasil melesatarikan sumberdaya kelautan di tingkat lokal. Di tahun 2023 ini, SATU Indonesia Awards kembali menjaring para penyelamat lingkungan hidup. Diharapkan SATU Indonesia Awards 2023 dapat memunculkan para pejuang lingkungan hidup baru seperti PAWLIPHU di Sulawesi Selatan.

 

 

 

 

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Cak Daus

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler