x

Iklan

fiezu himmah

Penulis Indonesiana yang gemar jalan, dan menyelami pengalaman hidup melalui karya seni.
Bergabung Sejak: 8 Juli 2023

Senin, 24 Juli 2023 18:28 WIB

Siapa yang Mau Menemanimu dalam Ketidakpastian?

Mana yang lebih hebat, berenang di tengah lautan atau berenang di sungai kecil? Orang lebih mudah mencari teman di ranah media sosial, tetapi apakah hal itu benar-benar bisa menciptakan hubungan yang nyata?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mana yang terlihat lebih hebat? Berenang di tengah lautan atau berenang di sungai kecil? Ini bukan sekadar tentang berenang. Ini tentang bagaimana cara manusia berinteraksi sosial di masa kini yang terus berkembang dan semakin kompleks. 

Mencari teman di era sekarang sepertinya bukan sesuatu hal yang sulit. Manusia bahkan tak perlu lagi repot-repot keluar rumah. Gambarannya cukup duduk di depan ponsel dan memilihnya lewat media sosial. Lalu apakah penemuan dengan cara demikian dapat dikatakan benar-benar menjadi seorang teman? Apa sebenarnya makna dari kata "teman"?

Fenomena yang sering terjadi akhir-akhir ini membuat saya merenung. Banyak orang sibuk mencari teman baru dengan motivasi yang berbeda, seperti demi jaringan bisnis, mempermudah mencari pekerjaan, meningkatkan karir, atau menunjang popularitas. Bahkan ada pula yang mengukur berdasarkan faktor-faktor seperti "siapa dia?", "apa pekerjaannya?", hingga "berapa jumlah followersnya?". Semua ini tampaknya lebih kompleks daripada sekadar ingin berteman.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Hebat ya dia temannya banyak," begitulah suara-suara yang pernah terekam dalam kepalaku. 

Itu sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Semua berhak mempunyai sifat realistis demi pengembangan ekonomi untuk kelangsungan hidup. Kalau menurut psikolog dan pakar persahabatan Marisa Franco, orang-orang berusia 20-an cenderung ingin membangun banyak teman, karena motif mereka adalah untuk memperluas rasa identitas diri, dan mereka dapat melakukannya melalui tipe orang yang berbeda. 

Mungkinkah orang yang mencari banyak teman demi menghindari kecemasan modern? Rasa-rasanya seperti mempunyai teman sedikit akan berdampak mengerikan, takut dianggap aneh, tidak pintar bergaul, atau tidak populer. Jika mengingat konsep Dromologi sebuah ilmu tentang kecepatan yang dikenalkan Paul Virilio, pencarian teman masa kini seolah menjadi alat untuk mempercepat memperoleh kemenangan atau kepuasan. Mencari yang menguntungkan, dan pasti. Salah satu risikonya ketakutan menjadi diri sendiri. Pola interaksi yang terjalin bukan benar-benar demi membentuk sebuah kebersamaan, atau menghayati nilai hubungannya. Mereka jadi kehilangan ruang yang nyata.

Banyak orang tau cara bersosialisasi, sampai mampu mengkotak-kotakan mana yang sebatas kenalan, teman biasa, setengah biasa atau mungkin seperempat biasa. Tapi sayangnya tidak semua paham tentang cara merawat. Inilah yang perlu dipertanyakan: apakah dengan memiliki banyak teman, pernah pula memikirkan bagaimana merawatnya? 

Ada pernyataan menarik dari Gurpreet Singh selaku konselur di Relate, organisasi nirlaba yang menyediakan jasa konseling hubungan di Britania Raya, "Tentu memiliki banyak teman bisa menjadi hal yang baik. Kekurangannya adalah, kalau kamu punya terlalu banyak teman, bagaimana kamu bisa mempertahankan hubungan berkualitas?"

Kini, saya menyadari bahwa memiliki terlalu banyak teman sebenarnya dapat menjadi hambatan. Sumber energi akhirnya terpecah, bisa menyebabkan tubuh menjadi teman yang kurang baik. Pada tahun 1990-an, psikolog evolusioner Robin Dunbar pernah menerbitkan sebuah penelitian bahwa manusia secara kognitif dapat menangani hingga 150 hubungan sosial yang bermakna (termasuk keluarga dan teman) kapan saja, dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai Angka Dunbar. Dalam sebuah konteks, ini dapat menjadi refleksi yang masih relevan dengan abad sekarang. Meskipun teman di media sosial jumlahnya ratusan hingga ribuan, atau angka kontak ponsel semakin bertambah, nyatanya tidak semua hubungan itu benar-benar mendalam, banyak yang hanya di permukaan.

Hidup bukanlah perkara banyak-banyakan teman, tetapi seberapa banyak yang benar-benar dirawat. Bukan hanya yang sering bersama di hari-hari pertama kenal, tapi yang tetap ingat dan berkomunikasi baik selama apapun tak bertemu. Kini yang dapat dibanggakan adalah bukan lagi tentang, "wah, relasinya banyak ya!" tapi justru tentang "wah, awet banget hubungannya!" Istilahnya, setia kawan.

Mempunyai teman sebenarnya anugerah yang indah, tapi memerlukan kesabaran yang ekstra untuk menjadikannya tetap indah dalam waktu yang lama. Mungkin memang ada beberapa faktor yang membuat sebuah hubungan susah untuk saling terus. Namun apapun kondisinya, hubungan pertemanan yang baik seharusnya bisa menemukan waktu dan caranya sendiri untuk kembali.

Alih-alih terus-menerus terlalu sibuk mencari teman baru, mari mengingat ke belakang. Siapa saja teman-teman lama yang sebenarnya ia sangat baik, pernah begitu nyambung pada masanya, terutama yang selalu sedia membantu saat diri membutuhkan? Bagaimana upaya diri untuk merawat keindahan itu? 

Tentu tidak semua hubungan dengan teman lama bisa benar-benar dijaga. Apalagi istilah "ghosting" kini bukan hanya tentang gebetan yang belum sempat jadi pacar. Namun sudah merambat ke dunia pertemanan juga. Bentuknya sama, teman tiba-tiba tidak lagi merespon dan menghilang tanpa kabar. Untuk itulah, penting memahami beberapa tanda yang dapat menunjukkan apakah seorang teman layak untuk dipertahankan.

Pertemanan yang sehat dan bermakna ialah mereka yang mampu menumbuhkan rasa saling percaya, dukungan emosional, saling menghargai, dan jujur. Teman yang telah membawa kebahagiaan di masa lalu, memberi banyak nilai dalam hidup, dan yang mau menemani dalam ketidakpastian menjadi beberapa tanda layak untuk diperjuangkan. Satu hal lagi yang menurutku penting, yaitu teman yang memahami afirmasi identitas, yaitu dengan tulus mendukung diri menjadi pribadi yang di-ingin, bukan menetapkan pemikiran tentang siapa seharusnya diri menjadi. 

Contohnya seperti saat momen Idul Fitri kemarin. Saya memilih tidak pulang kampung atau berkumpul dengan keluarga. Saya melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bali dan NTB, untuk menemukan sesuatu yang saya rindu dan makna lebaran dengan cara sendiri. Beberapa orang mengkritik pilihan saya, "Lebaran itu di rumah, bukan main!" "Orang lain pada mudik, kamu malah keluyuran ke kota orang". Tetapi teman-teman baik justru memahami bahwa pilihan ini ada nilai saya di dalamnya. Tentang petualangan, penelitian dan pemaknaan mendalam. Mereka mengatakan, "Pasti ada alasan dan rencana khusus di balik itu semua. Jangan lupa makan dan berkabarlah di mana pun ya. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin." Begitulah, melalui ponsel, kita tetap bisa saling menghayati hubungan.

Masalah lain yang terpikir berikutnya adalah saat kita berasumsi bahwa teman lama sudah memiliki kehidupan yang lebih menarik dan tidak membutuhkan kehadiran kita. Namun, menerka tanpa dasar sama saja dengan menyerah sebelum berperang. Selalu ada banyak alasan bagi seseorang yang enggan berusaha. Padahal, melakukan hal-hal sederhana seperti mengomentari postingan di media sosial, mengajak nonton film, atau sekadar minum kopi bersama tidaklah sulit. Yang sulit adalah niat, waktu, dan aksi

Upaya merawat hubungan dengan teman lama memang perlu diperjuangkan dan tak mudah. Memiliki banyak teman dan mendapatkan yang baru pun juga tak salah. Tapi jika caranya terus-menerus dengan memikirkan mana yang memberi keuntungan semata, bukankah itu seperti membantu memupuk kecemasan? Mengapa berteman seolah-olah harus berupa kepastian? Padahal semua kehidupan di dunia ini tak ada yang pernah pasti. 

 

Sumber: https://www.google.com/amp/s/www.vox.com/platform/amp/23130613/fewer-friends-how-many

https://www.psychnewsdaily.com/why-having-too-many-friends-makes-people-less-likely-to-friend-you/

https://www.apa.org/news/podcasts/speaking-of-psychology/adult-friendships

https://www.insider.com/what-to-do-when-a-close-friend-ghosts-you-2021-10 

Ikuti tulisan menarik fiezu himmah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan