x

Dokumentasi Pribadi

Iklan

fiezu himmah

Penulis Indonesiana yang gemar jalan, dan menyelami pengalaman hidup melalui karya seni.
Bergabung Sejak: 8 Juli 2023

Rabu, 13 September 2023 08:52 WIB

Tajamnya Kekuatan Janda dan Maritim Indonesia di Pertunjukan Malahayati

Para janda bersatu mengguncang panggung teater. Krisis laki-laki terjadi di abad 16 Kesultanan Aceh. Inong Balee yang dibentuk Laksamana Malahayati, dengan gagah menyeka tangisnya. Suami yang telah syahid, tak menggentarkan mereka mempertahankan hegemoni Aceh dari Belanda dan Portugis. Bagaimana perempuan di abad itu bisa begitu tangguh?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

TNI Angkatan Laut menggelar pertunjukan teater berjudul Jalasena Laksamana Malahayati, di Graha Bhakti Budaya (GBD), Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 8 dan 9 September 2023. Acara digelar dalam rangka HUT ke-78 TNI AL. Berkolaborasi dengan Marcella Zeilanty selaku produser sekaligus pemeran Malahayati, dan Iswadi Pratama selaku penulis naskah serta sutradara. Sebanyak 67 orang terlibat sebagai pemain, sembilan di antaranya prajurit Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL).

 

Luhurnya Syafakat

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pertunjukan enam babak ini dimulai dengan video mapping benteng Inong Balee, dan Kapal Perang KRI Malahayati bertuliskan 362. Gambar-gambar memudar, berganti sketsa perahu yang dinaiki seorang lelaki paruh baya, bersama anak kecil di tengah laut. Iringan suara terompet, serunai, dan ombak, menambah hadirnya sisi emosional yang kuat. Kecerdasan pembuka panggung yang mendebarkan. 

Sejarah tak patut mengaburkan sosok Malahayati. Pertunjukan menyingkap perjuangannya menghadapi situasi penuh konflik di Aceh, usai suaminya gugur dalam perang. Belum sempat ia menghibur dukanya sendiri, belas kasih pada perempuan sesamanya terlampau agung. Suara isak tangis para janda menggema di panggung. Mala tak sanggup melihat cinta-cinta yang baru bersemi harus terhenti. Bayi-bayi dalam kandungan tak punya ruang dan waktu untuk ditimang ayahnya. Mala merasakan sakit bertubi sehingga ingin membalas dendam pada Portugis.

Tercatat, sejak kecil Malahayati suka berlatih ketangkasan. Ia pun mendapat gelar Laksamana Perempuan Pertama di Dunia. Itulah mengapa, sketsa pembuka panggung teater bergambar anak kecil menaiki perahu. Sosok itu manifestasi Mala. Darahnya mewarisi semangat juang ayahnya, seorang laksamana angkatan laut Kesultanan Aceh. Ia membentuk Inong Balee atas izin Sultan berjumlah 2000 orang, atau “Armada Janda”. Inong berarti wanita, sedangkan Balee janda. Masa belajarnya di sekolah militer bernama Maqdis, menjadi bekal melatih mereka. Sebuah dedikasi demi membangun kekuatan militer Aceh di abad 16. 

 

Kisah-Kisah yang Tak Usai

Keberanian Mala melibas penindasan asing yang mengganggu Aceh, terdengar bak dongeng mustahil. Cut Mini sebagai aktor yang memerankan karakter Meurah, Ibu Malahayati, juga menyoroti sosok penting ini, “Ia seorang perempuan yang gigihnya hampir sama dengan laki-laki, malahan melebihi,” ujarnya. 

Kegigihan Mala mengukir namanya dalam sejarah pejuang perempuan maritim Indonesia. Ia membimbing pasukannya dengan hati dan penuh strategi. Mereka berhasil mengalahkan kapal Belanda yang membawa kabur lada, hasil bumi Aceh. Mala membunuh Cornelis de Houtman dengan rencongnya.

Desas-desus pelayaran liar pun tak kunjung reda. Hal serupa yang terjadi, kabar illegal fishing di media sosial kembali mencuat, termasuk di pekan-pekan terakhir. Keamanan perairan Indonesia adalah tugas yang perlu komitmen pemimpin seperti Malahayati. Bukan hanya demi melawan asing, tapi juga internal. Pembuangan sampah dan limbah di laut, serta praktik pungli di pelabuhan masih dilakukan masyarakat lokal. Pertunjukan heroik ini harus lebih dari sekadar inspirasi. Ia harus mempertanyakan tindakan nyata. Bagaimana konsistensi dan strategi pihak berwenang mengatasi masalah maritim Indonesia terkini? Bagaimana pula perlakuan mereka terhadap masyarakat pesisir?

 

Harmonisasi Kelompok

Representasi perempuan tangguh tak akan memukau tanpa hadirnya Inong Balee. Menariknya, Inong Balee tak hanya tampil sekadar jadi pengisi latar belakang. Mereka justru memiliki kontribusi signifikan dalam perkembangan plot cerita. “Ya, karena memang Inong Balee adalah core pertunjukan, sebagai pasukan Mala,” ungkap Iswadi.

Mala dan Inong Balee terlahir dari tujuan bersama, yaitu melindungi Aceh. Mala tak akan menyala terang tanpa mereka. Begitu pun mereka tanpa Mala. Sebuah definisi pemimpin dan anggota yang penuh saling percaya, memberi dan setia. 

Keaktoran Inong Balee sungguh kompleks dan mendalam. Terampil dalam bergerak, menari, silat, serta memahami formasi militer dan menggunakan rencong. Tubuh lenturnya menjelmakan nilai-nilai batin melalui gerakan yang tepat. Tempo, ritme, dan wicara tak seperti demonstrasi meski sebagai prajurit. Walau beberapa gerakan aktor terlihat sedikit tertinggal atau lambat pada beberapa adegan, mereka tetap solid sebagai satu kesatuan.

Upaya peralihan emosi pun nampak mengagumkan. Ada empat kali yang paling berkesan. Pertama, kesedihan dan beban saat gugurnya suami mereka. Kedua, kegembiraan saat berhasil menyerbu Teluk Hari. Ketiga, kekecewaan dan kehancuran saat Mala, pemimpinnya dibawa ke penjara. Keempat, yang paling membius mata saat Mala kembali, mereka bersatu semakin kuat untuk menyerang Belanda dan Portugis. 

 

Kapal Sebagai Sebuah Peristiwa

Replika kapal Belanda yang mendominasi panggung, melahirkan peristiwa mengejutkan. Inong Balee menyusup, memanjat buritan kapal dengan perahu kecil. Kejutan lain di babak akhir, yakni munculnya dua kapal perang besar rancangan Jay Subyakto berikutnya. Kapal-kapal itu bukan hanya megah, ia menyertai puncak peristiwa dahsyat. Inong Balee berperang di laut, kapal Portugis rubuh, terbakar, dengan cepat tepuk tangan penonton bergemuruh. Sebuah adegan yang membahayakan jika tanpa berlatih keras.

Elzan Aziz bagian dari aktor Inong Balee yang melakukan aksi melompat menggunakan tali tambang, menceritakan sedikit prosesnya. “Tantangan adegan di dua kapal besar, lebih pada hal-hal teknis penyesuaian dengan para Inong Balee lainnya, serta adaptasi di lapangan. Itu karena kami baru H-2 mulai latihan di panggung full set. Mas Is (sutradara) mengarahkan agar kami belajar menakar energi, dan tetap fokus dalam kondisi apapun, bertanggung jawab atas peran, serta selalu memberi ruang untuk karakter dalam setiap kesempatan,” ujarnya

Ia juga menyampaikan bahwa latihan Inong Balee didukung tim yang solid. Mulai dai koreografi silat oleh Gandi Maulana, Teater Satu Lampung, koreografi komposisi blocking oleh Uni Tati, dan tim stage management yang kooperatif. 

Pemain Inong Balee tak semua berasal dari aktor teater. Beberapa bahkan mengaku ini debutnya. Namun, dari sudut duduk penonton di bagian paling belakang tribun, mereka tetap terlihat saling melengkapi, dan bekerja sama untuk menciptakan karya seni yang autentik. Ini menjadi iktibar berharga, karena tak semua aktor mampu. Obsesi untuk memenangkan peran utama sering mengaburkan konsep kerja tim. Bahkan, mungkin hingga lupa tentang fleksibilitas tubuh aktor dan mengesampingkan kualitas diri.

Kembalinya Malahayati ke atas panggung mengajarkan nilai kolaborasi, empati,  dan dukungan antar anggota kelompok, yang menjadi elemen-elemen penting dalam menciptakan masyarakat harmonis. Entah apakah itu dalam konteks maritim Indonesia yang masih berliku,  janda yang kerap mendapat stigma negatif, atau situasi konflik apapun. Inilah pengingat, bahwa bersatu menyelesaikan segala hal yang belum usai adalah tanda keberanian yang sejati. 

 

Terima kasih untuk seluruh tim pertunjukan.

Saksikan secara virtual melalui youtube TNI Angkatan Laut.

 

Referensi: 

Pameran Dinas Sejarah Angakatan Laut, di Graha Bhakti Budaya (GBD), Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 9 September 2023

Saifullah, Laksamana Keumalahayati, Banda Aceh: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, 2012 

https://www.metrotvnews.com/play/b3JCym7L-tni-al-gelar-teater-laksamana-perempuan-pertama-di-dunia 




Ikuti tulisan menarik fiezu himmah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB