x

Iklan

Kasdin Basri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Desember 2022

Sabtu, 5 Agustus 2023 08:20 WIB

Centang Biru, Lebih dari Sekadar Tanda Pengakuan

Baru-baru ini Meta mengumumkan langganan Centang Biru dengan biaya Rp130 ribu per bulan. Langkah ini menarik perhatian luas dan respon positif pengguna media sosial di seluruh dunia. Dalam waktu singkat fitur ini telah mengumpulkan 44 juta pelanggan aktif hanya satu hari setelah peluncurannya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam era digital yang semakin mengglobal, fenomena sosial media telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Salah satu aspek menonjol dari interaksi di platform sosial adalah rasa ingin diakui secara publik. Itulah yang mendorong Meta, perusahaan di balik jaringan sosial terkemuka, untuk meluncurkan fitur kontroversial baru: langganan centang biru. Fitur ini bukan hanya sekadar tanda pengakuan, melainkan juga mencerminkan keinginan mendalam manusia untuk dilihat dan diakui.

Meta mengumumkan pengguna bisa langganan centang biru dengan biaya Rp130 ribu per bulan. Tidak dapat disangkal, langkah ini telah menarik perhatian luas dan mendapatkan respon positif dari pengguna media sosial di seluruh dunia. Dalam waktu singkat, fitur ini telah mengumpulkan sekitar 44 juta pelanggan aktif hanya dalam satu hari setelah peluncurannya.

 Apa sebenarnya centang biru ini? Fitur ini memberikan tanda centang biru yang dicontohkan oleh selebriti dan tokoh publik kepada pengguna biasa. Di balik simbol ini terdapat kompleksitas emosi manusia: keinginan untuk diterima dan diakui oleh sesama. Dengan menawarkan tanda pengakuan ini sebagai langganan berbayar, Meta telah mengangkat esensi fundamental dari keberadaan di dunia digital.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 Fenomena centang biru juga memicu berbagai pertanyaan dan perdebatan. Beberapa berpendapat bahwa ini adalah langkah tepat dalam memberikan penghargaan kepada pengguna yang telah berkontribusi positif dalam komunitas online. Namun, ada juga yang mengkritik bahwa ini hanya merupakan cara bagi Meta untuk menghasilkan pendapatan lebih besar sambil memanfaatkan kerapuhan psikologis pengguna.

Tak bisa dipungkiri bahwa centang biru  telah menggugah perbincangan luas tentang arti pengakuan dalam era digital. Bagaimana kita menilai diri kita sendiri dalam dunia di mana simbol-simbol seperti ini memiliki dampak emosional yang signifikan? Bagaimana perusahaan teknologi seharusnya bertanggung jawab dalam mengelola perasaan dan kebutuhan psikologis pengguna?

Dan akhirnya, centang biru adalah cerminan dari dinamika yang lebih luas di dalam masyarakat digital saat ini. Sebuah pengingat bahwa di balik layar, kita semua adalah manusia yang merindukan pengakuan dan penerimaan. Namun, apakah kita memilih untuk mengadopsi fitur ini atau tidak, penting bagi kita untuk selalu mengingat nilai diri yang lebih dalam dan mencari keseimbangan dalam hubungan kita dengan dunia maya yang semakin kompleks.

Ikuti tulisan menarik Kasdin Basri lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan