x

Sumber: Instagram initempeid

Iklan

G. Yadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Desember 2022

Jumat, 25 Agustus 2023 20:06 WIB

Turis Rusia Sasar Asia Tenggara

Perang Rusia-Ukraina mengubah tujuan wisata warga negeri Beruang Merah itu. Tapi tak semua warga lokal menyambut gembira. Simak tulisan yang munculdari proyek menulis: Membaca Indonesia dalam Narasi De Telegraaf ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Berita ini ditulis oleh Annelie Langerak, seorang koresponden luar negeri beberapa media Belanda termasuk De Telegraaf yang berbasis di Thailand. Laporan yang cukup panjang ini ditempatkan pada kolom LUAR NEGERI. Tayang 19 Agustus 2023.

Merujuk pada tajuknya, secara garis besar tulisan ini mengupas bahwa perang antara Rusia dan Ukraina menyebabkan wisatawan Rusia mengubah destinasinya ke Asia Tenggara. Artinya, artikel yang ditulis Annelie tersebut tidak fokus menyinggung Indonesia saja namun juga terkait negara-negara dengan destinasi menarik di kawasan itu.

Dibalik trend ini ialah kebijakan restriksi Brussel bagi turis Rusia untuk berlibur ke daerah tujuan wisata favorit mereka di Eropa. Perubahan destinasi wisatawan dari Rusia itu telah membuka pasar wisata baru di seluruh dunia dengan nilai yang relatif besar yaitu mencapai milyaran euro.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Wisatawan Rusia yang berlibur di Asia banyak yang bermukim lama. Meskipun tamu tadi membawa uang, tapi tidak semua warga lokal yang gembira dan riang. Pergesekan sosial pertama dapat dilihat di Thailand. Misalnya, bulan Juni lalu Phuket dikejutkan oleh insiden penembakan di Boat Avenue – kawasan wisata yang sangat ramai dikunjungi turis mancanegara dan ekspat di Negeri Gajah Putih itu. Korbannya seorang wisatawan Rusia bernama Dmitry Aleynikov. Pria usia 44 tahun itu ditembak mati oleh pembunuh di depan kafe langganannya. Di siang hari yang ramai itu 4 butir timah panas menembus dadanya. Sebelum mencapai sasaran, peluru tadi melesat mengoyak kaca mobilnya. Saat itu dia sedang menepikan mobilnya di parkiran. Kontan saja khalayak ramai yang sedang lalu-lalang menjadi panik dan terguncang.

Pihak keamanan langsung melakukan pengejaran. Polisi setempat menemukan senjata api yang diduga digunakan pembunuh di sebuah rawa. Pihak kepolisian kemudian menangkap terduga pelaku di Bandara Phuket. Tersangka itu warga Kazakhstan. Dugaan sementara yang dipegang tim penyidik ialah karena motif perseteruan kepentingan antara kedua belah pihak.

Sementara itu, seorang turis perempuan asal Inggris mengungkapkan kekuatiran atas kehadiran banyak wisawatan Rusia di daerah tersebut. Bagi dia, hanya persoalan waktu situasi ini akan  berkembang dengan merebaknya tindak kejahatan. Perempuan itu menetap di Phuket bersama keluarganya. Ia cemas kalau kenyamanan serta ketenangan hidup mereka di sana terganggu atas serbuan para wisatawan tadi.

Kasus pembunuhan bayaran di Thailand sudah tidak begitu asing. Misalnya, seorang pembunuh sewaan asal Kanada, Matthew Dupre, belum lama ini dideportasi ke Thailand atas tuduhan melakukan pembunuhan terhadap gembong gangster Kanada, Jimi Sandhu di Phuket tahun lalu. Jaringan kriminal Rusia diduga cukup aktif di Phuket, diikuti kemudian oleh kawanan gangster berkebangsaan Prancis dan Inggris.

Thailand diuntungkan oleh pembatasan pengunjung dari Rusia oleh Uni Eropa. Menurut GlobalData, turis mancanegara yang berkunjung ke Phuket dalam 5 bulan pertama tahun ini mencapai lebih dari 6 juta orang. Sebagian besar dari Rusia. Mereka keluar dari negerinya karena perang. Mereka mencoba meneruka domisili baru karena kuatir dengan keadaan ekonomi di tanah airnya serta menghindari wajib militer yang sejak September tahun lalu diterapkan secara terbatas oleh Moskow.

Para wisatawan Rusia itu mayoritas anak muda atau keluarga muda bersama anak-anaknya yang masih belia. Mereka menyukai Phuket karena keindahan pantainya. Di resto d’Odessa, Annelie sempat bertanya kepada seorang turis Rusia, Vladimir Novikov, tentang rencananya di Phuket. Menurut Vladimir dia membawa keluarga ke daerah wisata di Thailand tersebut begitu Rusia menginvasi Ukraina. Tetapi dia tidak punya rencana menetap di Thailand. Kalau situasi di negerinya kembali normal mereka akan pulang kampung. Resto milik warga Ukraina itu baru buka di Phuket tahun lalu.

Menurut manajer d’Odessa, pengunjung restonya terdiri dari orang Ukraina dan Rusia. Pada dinding ruangan resto terpajang potret tokoh-tokoh besar bangsa Rusia zaman lampau seperti  Yekaterina yang Agung, Nikolai II dan penyair Aleksandr Pushkin. Tamu-tamunya membenci perang yang sedang berkecamuk tetapi pada umumnya mereka tidak membahas perihal tersebut saat menikmati hidangan dan minuman di resto tadi. Orang-orang Rusia bahkan punya kelab malam sendiri dengan penari gogo yang khusus didatangkan dari Rusia. Nama kelab itu Moscow Lounge yang berlokasi di kawasan hiburan ternama, Patong.

Namun terdapat juga sisi positif dari gempuran orang Rusia di Phuket. Kehadiran mereka membantu pemulihan ekonomi di pulau wisata ini pasca pandemi Covid-19. Banyak dari mereka menanamkan modal di Thailand. Atau membeli properti. Juga menyewa hunian jangka panjang. Seorang sales manager perusahaan makelar properti asal Rusia, InDreamsPhuket yang sebut saja bernama Anne menceritakan kepada De Telegraaf kalau klien mereka hampir semuanya bangsa Rusia. Pada puncak kedatangan orang Rusia tadi di Phuket yaitu bulan November 2022 mereka memborong semua properti yang ada.

Situasi berkembang dengan membawa dampak negatif lainnya. Kedatangan orang Rusia yang  berkantong tebal ke Phuket menyebabkan harga vila-vila mewah meroket drastis. Tingkat penyewaan hunian juga melambung 100% dibandingkan tahun sebelumnya. Perkembangan ini menyebabkan konflik persaingan dengan makelar yang tidak berbahasa Rusia. Bahkan seorang ibu berkebangsaan Jepang mengeluh bahwa mencari pengasuh anak saja menjadi sulit karena dicaplok orang Rusia yang mampu menyewa lebih tinggi daripada kemampuan para ekspat dari negara lain. Tetapi tidak semua turis tadi kaya. Untuk dapat bertahan hidup mereka rela melakukan apa saja. Para sopir taksi dan tuktuk Thailand mengeluh karena tidak sedikit orang Rusia menjadi sopir ilegal dan mengantar jemput pelanggan di pulau ini.

***

Gesekan sosial kedua terjadi di Bali. Berbeda dari Phuket yang menarik orang Rusia dan Ukraina yang berduit dan keluarga muda, mereka yang memilih ke Bali mayoritas menghindari perang dan tidak sedikit yang menimbulkan masalah di pulau wisata ternama di Indonesia itu. Berita wisatawan dari negeri-negeri tadi berjalan bugil, mabuk-mabukan hingga tindak kriminal lainnya. Gubernur Bali, Wayan Koster menenggarai bahwa semakin banyak wisatawan asing di Bali yang tidak mampu membawa diri, menghormati budaya berpakaian di tempat-tempat suci dan tempat wisata lainnya. Annelie melaporkan bahwa saat ini 20 orang Rusia ditahan di Bali yang sebagian besar terkena delik penyalahgunaan narkoba. Mengutip data resmi pemeritah Indonesia, koreponden De Telegraaf itu menulis 20% tahanan orang asing di penjara dan rumah tahanan yang ada di Bali berasal dari Rusia.

Warga Bali juga mengeluh ada kasus turis Rusia yang bekerja secara ilegal di sana. Beberapa berkendara dengan tidak memperhatikan rambu dan aturan jalanan sehingga tidak sedikit yang menyebabkan kecelakaan serta perkelahian. Sepertiga dari 101 deportan ke 31 negara dari Bali dalam 4 bulan terakhir berasal dari Rusia. Sebagian dari mereka dideportasi karena berpose bugil di tempat-tempat sakral bagi warga setempat. Seorang ‘influencer’ perempuan Rusia berusia 40 tahun, Luiza Kosykh, misalnya berpose ‘dalam upaya menyatu dengan alam’, dan blogger usia 24 tahun, Yuri Chilikin, difoto di puncak Gunung Agung dengan celana yang diturunkan sehingga terlihat bokongnya dan membagi pose itu lewat Instagram.

***

Tulisan Annelie ini dilengkapi dengan 3 gambar. Foto pertama menggambarkan suasana kawasan yang ramai dikunjungi turis di Phuket. Materi visual yang dipinjam dari Bloomberg itu dilengkapi dengan keterangan: Het eiland Phuket is een geliefd toevluchtsoord voor Russische expats.

Foto kedua menayangkan keluarga besar yang sedang menikmati hidangan di sebuah resto. Selain orang dewasa juga terlihat 3 orang anak. Spiritnya santai dengan ambiance yang khas tropis. Annelie menuliskan keterangan di bawah foto itu: Russische families op Boat Avenue in winkel- en uitgaansgebied Laguna op het Thaise eiland Phuket. Foto bersumber dari De Telegraaf sendiri. Sedangkan foto ketiga menampilkan perempuan manajer d’Odessa sedang berdiri di depan restonya. Gambar ditambah dengan keterangan: De manager van restaurant d’Odessa verwelkomt zowel Russen als Oekraïners in haar etablissement. “Iedereen haat de oorlog, maar er wordt weinig over gesproken”. Foto tersebut juga milik De Telegraaf.

Betul bahwa berwisata ke luar negeri itu pilihan dan tanggung jawab individu. Meskipun demikian, individualisme dapat dipersepsi sebagai suatu yang kolektif jika tidak dikelola dengan baik. Perlahan persepsi subyektif itu dapat berkembang menjadi stereotype. Pemicunya bermacam-macam. Salah satunya penyebabnya ialah perbuatan atau perilaku yang tidak senonoh para turis di negeri orang maka berpotensi digeneralisasi mencoreng citra atau branding negara asalnya. Isu yang diangkat Annelie ini salah satu contohnya.

Karena lahir dan tumbuh dalam budaya Minangkabau, seingat penulis, dahulu anak-anak dan remaja di kampung diajarkan dengan petuah Lauik sati rantau batuah yang secara harfiah bermakna Laut sakti, rantau bertuah. Sedangkan pemaknaan sublimatif dari pepatah tadi ialah perlu menyiapkan perbekalan yang cukup sebelum berangkat merantau dan memperhatikan tata, aturan serta kebiasaan masyarakat di perantauan agar kita bisa menghormatinya dan menempatkan diri dengan baik. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Atas tulisan Annelie Langerak ini ada 2 tanggapan yang patut berikan. Pertama, beliau tidak mencantumkan nominal uang yang dikeluarkan oleh wisatawan Rusia di luar negeri. Padahal info tersebut penting bagi pembaca atau industri pariwisata untuk pengembangan pasar baru di sektor ini. Menurut lembaga statistik yang cukup terpercaya, Statista, tahun 2021, wisatawan Rusia menghabiskan US$11,2 milyar atau setara sekitar Rp172 triliun. Secara ekonomi angka ini mewakili ceruk yang besar. Namun perlu keseimbangan antara putaran roda ekonomi dengan kenyamanan dan keamanan bagi seluruh stakeholder yang terlibat dalam sektor pariwisata ini. Barangkali perlu juga upaya edukasi oleh pemerintah di negara asal masing-masing agar warganya berperilaku wajar saat pelesiran ke luar negeri.

Catatan kedua, judul tulisan pada versi online sedikit berbeda daripada versi cetak. Edisi daring judulnya Russen nemen Zuidoost-Azië over: ‘Geen nanny meer te krijgen’, sedangkan pada versi cetak berwarna oranye dengan judul Russische tourist neemt Azië over, ditambah subjudul yang dicetak dengan huruf kapital INVASIE. THAILAND EN BALI PROFITEREN, MAAR ZIEN OOK DE SCHADUWZIJDEN. Yang menarik ialah perbandingan yang kurang setimpal pada anak judulnya yaitu komparasi antara Thailand dan Bali. Tidak apple to apple kata orang. Phuket dan Bali sepertinya lebih setara. Tetapi barangkali itu pantulan dari ketenaran Bali di luar negeri yang dinilai sepadan dengan sebuah negara. Mungkin pula itu sebuah kesengajaan seorang Annelie Langerak. Dengan perbandingan itu sebagian pembaca tersentak berpikir sejenak sehingga memicu kuriositas untuk membaca tulisannya. Berbobot.


Ikuti tulisan menarik G. Yadi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu