Ramalan Jayabaya: Kenyataan yang Diingkari (1)

Jumat, 13 Oktober 2023 14:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ramalan Jayabaya sangat terkenal dan mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia khususnya orang Jawa. Mereka sangat mempercayai jangka atau ramalan dari Raja Kediri tersebut. Beragam perkembangan dewasa ini membuktikan kebenaran ramalan Jayabaya.

Ramalan Jayabaya sangat terkenal dan mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia khususnya mereka yang berasal dari Jawa. Mereka sangat mempercayai tentang jangka atau ramalan dari Raja Kediri yang terkenal. Raja Jayabaya dikenang karena kemampuannya meramal dan memerintah kerajaan Kediri yang berpusat di Mamenang.

Pada jaman pemerintahannya, sastra Jawa berkembang dengan sangat maju dengan melahirkan banyak karya sastra monumental dan begawan sastra yang menciptakannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Jayabaya juga dikenal sebagai nama majalah berbahasa Jawa yang terbit di Jawa Timur. Ramalan ini dipercaya terjadi di Indonesia. Terjadinya ramalan ini jika ada hal-hal berikut.

Mbesuk yen ana kreta lumaku tanpa turangga

Tanah Jawa kalungan wesi

Prahu lumaku ing ndhuwur awang-awang

Kali gedhe ilang kedhunge

Pasar ilang kumandhange

Hiya iku pertandhane tekane zaman

Kababare jangka Jayabaya wus amrepeki

Jika ramalan pupuh 117 tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi kelak jika ada kereta berjalan tanpa kuda, tanah Jawa berkalung besi, perahu berjalan di angkasa, sungai besar hilang lubuknya, pasar kehilangan gaungnya, itulah tanda-tanda akan datangnya zaman, dimana ramalan Jayabaya tengah mendekati kenyataan.

Pembaca Indonesiana.id, jika kita memperhatikan tulisan kereta berjalan tanpa kuda, kita menemukan banyaknya kendaraan yang berjalan menggunakan mesin. Lihatlah, jaman sekarang. Jalanan penuh dengan kendaraan yang tidak lagi ditarik kuda. Sepeda motor, mobil, bus, truk dan kereta api adalah jenis kendaraan yang beredar di jalanan saat ini. Tidak ada satupun yang ditarik kuda lagi. Benar-benar kereta berjalan tanpa kuda, kan?

Tanah Jawa berkalung besi. Lihatlah jaman penjajahan Belanda dan setelahnya. Mereka membangun rel kereta api. Rel yang ada di Jawa berbentuk seperti kalung yang terbuat dari besi. Kendaraan yang tidak ditarik kuda dan berjalan di atas rel, seperti kalung besi. Rel-rel dibangun di wilayah Jawa dari barat hingga ke timur. Menghubungkan wilayah-wilayah yang jauh ke berbagai kota di pulau Jawa. Benar-benar terjadi, tanah Jawa berkalung besi.

Perahu berjalan di angkasa/ awang-awang. Jaman telah berganti dan berubah. Telah diciptakan berbagai moda transportasi darat, laut dan udara. Ada kapal di laut dan ada pesawat di udara. Pesawat dengan berbagai jenisnya seperti helikopter dan jet berjalan di angkasa. Perahu tidak hanya berjalan di air tapi juga di udara. Benar-benar terjadi. Transportasi yang maju dan membutuhkan biaya besar yang menghubungkan berbagai kota dengan lebih cepat dan efisien waktu. Telah terjadi, perahu berjalan di awang-awang/ angkasa.

Sungai besar hilang lubuknya. Sekarang ini sungai-sungai sudah mengering. Sungai kini mengalami pendangkalan. Tidak ada lubuk atau bagian sungai yang sangat dalam. Biasanya bagian lubuknya ini menyimpan air yang banyak dan di musim kemarau, lubuk tetap ada airnya. Ini dikarenakan lubuk sungai adalah bagian sungai yang sangat dalam. Namun, lubuk-lubuk sekarang sudah tidak ada lagi.

Semua mengalami pendangkalan. Mengalami sedimentasi. Tidak ada lagi lubuk. Tidak ada lagi ikan-ikan berkumpul di lubuk sungai. Apalagi di musim kemarau. Sungai seolah jadi bagian daratan yang berkelon tanpa ada air di dalamnya. Seperti ular yang lapar dan kosong. Hanya terisi sampah-sampah. Lihatlah di sekitar kita! adakah sungai yang dalam lagi? Pasti tak ada. Sebab sampah menumpuk di sungai sehingga mengalami pendangkalan. Jika musim hujan tiba, siap-siap saja banjir akan terjadi di negeri ini. Siap menghadapi ramalan Jayabaya, sungai besar kehilangan lubuknya.

Pasar kehilangan gaungnya. Setelah sungai yang dangkal, sekarang timbul lagi, pasar yang kehilangan gaungnya. Di pasar tradisional sekalipun, hampir tidak ada gaung bertransaksi. Tidak ada tawar-menawar harga. Semua harga ditulis dan pas. Tidak ada gaung penawaran. Apalagi masa pandemi beberapa waktu lalu. Tidak boleh berkumpul dan tidak ada pasar. Masyarakat berbelanja secara daring atau online. Mereka memesan barang dan sudah ada harganya. Tidak ada penawaran. Transaksi tanpa bicara.

Begitu juga banyaknya ritel dan toko-toko modern yang menjual barang yang ada di pasar tradisional. Mereka menjual barang dan sudah ada harganya. Masyarakat yang berbelanja, ambil barang dan tinggal membayar. Tidak ada tawar-menawar. Hilang gaung suatu pasar. Benar-benar, terjadi ramalan Jayabaya pasar kehilangan gaungnya.

Itulah tanda-tanda akan datangnya zaman, dimana ramalan Jayabaya tengah mendekati kenyataan. Apa yang telah disampaikan, merupakan tanda kebenaran tentang ramalan Jayabaya yang akan menjadi kenyataan. Ikuti terus kelanjutan tulisan ramalan Jayabaya. Selamat membaca.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rusdi Ngarpan

Penulis Indonesiana/ Alumnus UNNES Semarang, berkarya di SMP

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua