x

Iklan

afzaal ali

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Maret 2024

Sabtu, 2 Maret 2024 14:13 WIB

Mengenalkan Islam dan Indonesia pada Mahasiswa Asing yang Berkunjung ke Pesanten Kami

Kami kedatangan mahasiswa dari Goshent University, Amerika Serikat, yang ingin untuk mengetahui kehidupan pesantren. Kami, santri-santri SMA Bumi Cendekia ditugaskan untuk menyambut tamu tersebut dengan hangat. Game seru pun kita mainkan bersama.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Berbeda

Ilustrasi Oposisi

Ilustrasi Oposisi

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pesantren Bumi Cendekia sering sekali kedatangan tamu dari luar negeri. Hal ini mencerminkan salah satu  nilai Bumi Cendekia yaitu Global Citizen yang artinya “menjadi warga dunia”. Alih-alih selalu memakai bahasa Indonesia, Pesantren kami menerapkan berbahasa inggris setiap paginya untuk menjadi warga dunia.

Kemarin, kami kedatangan mahasiswa dari Goshent University, Amerika Serikat untuk mengetahui kehidupan pesantren. Kami, santri-santri SMA Bumi Cendekia ditugaskan untuk menyambut tamu tersebut dengan hangat. Ketika mereka sampai, saya terkejut dengan salah satu bule karena tubuhnya yang tinggi, mungkin kurang lebih 2,1 meter. Batinku “ini bule kok tinggi banget, kalau masuk ke ruangan pasti harus nunduk”.

Mereka semua kami antar ke Joglo untuk beristirahat terlebih dahulu. Setelah dirasa cukup, kami mengajak mereka untuk mengelilingi pondok pesantren. Pertama, kami ajak mereka untuk melihat-lihat jajanan ala-ala santri yang berada di kantin. Setelah dari kantin, kami mengantarkan mereka untuk berkeliling asrama dan masuk ke kamar kami.

Usai mengelilingi pesantren, kami mengajak mereka masuk ke kelas untuk sharing session dengan konsep tanya jawab.  Kebetulan menurut undian, pertanyaan saya yang berbunyi “What do you know about the Islamic religion?” mendapat urutan ke 5. Saat pertanyaan saya dibacakan, “Apa yang kamu ketahui tentang Agama Islam?” salah satu dari mereka mengatakan bahwasannya  Islam adalah agama yang toleransi dan Islam juga mengajarkan  kebaikan. Saat mendengar hal itu, saya gembira dan mengatakan dalam diri saya, “ternyata Islam memang agama yang benar, buktinya saja bule yang beragama non-muslim mengakuinya”.

Hal yang saya tunggu-tunggu akhirnya tiba, yaitu sesi games seru. Game terebut meliputi Ice breaking, board game, dan game tradisional Indonesia. Pertama, kami semua, santri Bumi Cendekia dan mahasiswa Goshent University melakukan ice breaking dengan konsep menarik.

Saat ice breaking berlangsung, kebetulan saya salah gerak.  Terpaksa saya harus maju untuk nyanyi. Saya menyanyikan lagu masa kecil saat TK, yakni Twinkle-Twinkle Little Star. Saat saya nyanyi, hampir semua partisipan tertawa, temasuk para mahasiswa USA, batinku “alhamduliilah bisa membuat suasana lebih berwarna, tidak garing”.

Setelah kurang lebih 15 menit, kamu lanjut ke game selanjutnya yaitu board game dan tradisional indonesian game. Kami membagi 2 kelompok. Masing-masing kelompok berisi santri Bumi Cendekia dan mahasiswa Goshent University. Kelompok 1 akan bermain board game sedangkan kelompok 2 bermain tradisional Indonesian game. Game ini dilakukan secara bergantian.

Saya mendapatkan kelompok 2. Kami, kelompok 2 memainkan salah satu game tradisional zaman saya SD yaitu Engklek. Mereka, mahasiswa tersebut terkejut dengan permainannya, katanya baru pertama kali melihat permainan Engklek.

Permainannya sebenarnya simpel, hanya tinggal loncat dengan satu kaki. Kemudian saat loncat, tidak boleh menginjak kotak yang ada gacuk serta tidak boleh menginjak garis. Kami bermain dengan canda dan tawa. Mereka ternyata menyukai permainan yang kami buat, santri-santri SMA Bumi Cendekia.

Usai bermain Engklek, kami kelompok 2  melanjutkan ke game selanjutnya yang berada di dalam kelas yaitu board game. Konsep board gamenya sebenarnya mudah, mirip-mirip permainan ular tangga, bedanya hanya disetiap perjalanan peserta harus menjawab pertanyaan.

Saat saya mengocok dadu, saya mendapatkan 4 langkah perjalanan. Saat itu juga saya mendapatkan pertanyaan “ sebutkan 3 hal yang kamu banggakan dari negara kamu?”. Saat itu, langsung saya menjawab dengan percaya diri “  The first is culture, both is foods, and the last is destination”. Pertama budaya, kedua makanan, dan terakhir wisatanya.

Sebenarnya tujuan kami, santri-santri Bumi Cendekia membuat pemainan-permainan di atas tidak lain utuk mengenalkan Indonesia kepada mancanegara. Seperti misalnya tadi kami memainkan  game tradisional Indoensia, lalu membuat board game yang  isinya saling mengenalkan satu negara dengan negara yang lain.

Pertemuan kami ditutup dengan penyerahan sovenir dan sesi foto bersama. Tentu kami, santri-santri menyerahkan sebuah sovenir yang berbeda dari sovenir pada umumnya. Kalau biasanya sovenir berupa gelas, piagam, atau tumbler, kami memberikan sovenir berupa buku karya kami sendiri yang berjudul Dalam Labirin Identitas. Harapannya buku kami dapat bermanfaat bagi mereka.

Terakhir, kami semua foto bersama secara formal di depan Joglo. Setelah foto formal, saya bertukar instagram dengan bule 2,1 meter yang saya sebutkan diatas tadi. Rasanya dalam hati “wah aku punya temen orang luar negeri nih”.

Ikuti tulisan menarik afzaal ali lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

19 jam lalu

Terkini

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

19 jam lalu