Obrolan di Warung Kopi, Delapan Sebab Ganjar-Mahfud Kalah Pilpres 2024

Senin, 11 Maret 2024 06:38 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pemilu sudah lewat. Pasangan Capres-cawapres Ganjar-Mahfud kalah dalam pilpres 2024. Ada delapan sebab ala warung kopi di balik kekalahan pasangan Ganjar-Mahfud MD.

Pemilu sudah lewat. Penghitungan hasil pemilu terus diperdebatkan keabsahannya. Dilaporkan pemilu penuh kecurangan, ada intimidasi atau apapun itu saya tidak mengetahuinya. Yang jelas di daerah saya, pemilu berjalan damai, aman dan lancar. Tidak ada gangguan kecuali petugas KPPS yang kelelahan sebab bekerja dari jam 6 pagi hingga jam 12 malam. Bahkan ada yang lebih dari itu. Sungguh melelahkan. Maka tidak mengherankan jika ada petugas KPPS yang jatuh sakit hingga meninggal dunia. Berita terbaru ada yang dikirim ke rumah sakit jiwa. 

Teman saya saja hingga harus dirawat di rumah sakit selama seminggu. Jika dipikir-pikir secara mendalam, honornya untuk berobat tidak cukup. Justru nombok, alias menambah sendiri.

Kali ini saya pun mengobrol bersama beberapa teman di warung kopi seperti biasa. Dalam obrolan sebelum pemilu, saya menuliskan 10 alasan Prabowo-Gibran menang pilpres kali ini. Eh, ternyata pasangan Prabowo-Gibran memang menang pilpres. Namun, ada saja yang mempermasalahkan kemenangan pasangan tersebut dan partai politik yang kalah pun mencoba mengusung hak angket. Ya tidak masalah, biar anggota dewan yang terhormat bekerja. Tapi kali ini saya tidak membahas hal itu. Saya membahas kekalahan pasangan Ganjar-Mahfud.

Dari obrolan di warung kopi, saya merangkum ada delapan alasan mengapa pasangan Ganjar-Mahfud kalah dalam pilpres 2024 padahal partai pendukung utamanya yaitu PDIP menang pemilu secara nasional. Apa saja alasannya, berikut penjelasannya.

1. Faktor huruf O di nama capres

Dalam sejarah kepresidenan negeri ini, Indonesia dipimpin oleh presiden yang memiliki huruf O di namanya. Sebut saja SOEKARNO, SOEHARTO, SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, JOKO WIDODO. Sementara yang bukan ialah BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarno Putri.

Dalam pilpres yang dipilih rakyat secara langsung telah dilakukan kelima kali. Saat pertama kali, Susilo Bambang Yudhoyono disingkat SBY, dua kali memenangkan pilpres dan dua kali juga Joko Widodo disingkat Jokowi menang pilpres. SBY dan Jokowi memenangkan pilpres, selain faktor lain juga faktor huruf O. Keduanya memiliki huruf O lebih banyak dibandingkan calon lainnya. Sama saat Jokowi berhadapan dengan Prabowo Subianto. Jokowi memiliki huruf O jumlahnya 4, bandingkan dengan Prabowo yang hanya punya 3.

Tidak berbeda dengan pilpres 2024 ini. Prabowo memiliki 3 huruf O dan Ganjar Pranowo memiliki 2 huruf O. Jadinya, Prabowo menang atas Ganjar.

2. Pemilu dilaksanakan pada hari Rebo Legi

Memang pemilu dilakukan di hari Rabu, 14 Februari 2024. Bagi masyarakat Jawa, menentukan hajatan seperti sunatan, mantenan, mendirikan rumah dan lain-lain, dilakukan pemilihan hari yang baik. Nah, hari baik itu ternyata baik untuk Prabowo-Gibran bukan Ganjar-Mahfud atau Anis Baswedan-Muhaimin. Masyarakat Jawa menyebutnya Rebo dan pasarannya Legi. Jika diambil suku belakangnya menjadi BOGI. Nah, cocoknya lagi BOGI itu kependekan nama Prabowo-Gibran. Lha rak tenan. Alasan satu dan dua ini berdasarkan ilmu kecocokan alias cocokologi. Kami biasa menywbutnya otak atik gatuk.

3. Keberhasilan dan kegagalan saat jadi gubernur Jawa Tengah

Ganjar Pranowo menjadi gubernur Jawa Tengah selama dua periode alias 10 tahun. Apa sajakah keberhasilannya? Sebagai warga negara, seorang pemimpin memiliki keberhasilan dan juga kegagalan. Tinggal mana yang lebih besar. Keberhasilan atau kegagalan.

Keberhasilan seberapa besar tidak dianggap jika memiliki kegagalan. Orang akan mengingat kegagalan daripada kesuksesan. Oleh karena itu, keberhasilan memimpin tenggelam oleh kegagalannya. Mana yang diekspos, sukses atau gagal?

Masyarakat akan membesarkan kekurangannya seperti jalan yang rusak, banjir yang sering melanda, daratan yang berubah menjadi laut di Demak, tanah banyak berubah menjadi rawa dan gagalnya beberapa pembangunan di Jawa Tengah. Hal tersebut secara otomatis menggerus suara Ganjar-Mahfud dan beralih ke calon lain.

4. Arogansi saat debat capres dan para elit parpol

Beberapa kali debat capres, terlihat arogansi. Bagaimana menyerang personal lain dan buka programnya. Memang itu tidak masalah, tetapi pemirsa akan menilai bagaimana seorang pemimpin bersikap. Jika terus menyerang pribadi seseorang, bagaimana jika dia diperlakukan yang sama? Sakit dan masyarakat tidak ingin melihat tontonan debat seperti itu.

Selain itu, saat debat terakhir dan tidak ada debat lagi, capres lain tidak menyampaikan permintaan maaf. Hanya capres Prabowo yang menyampaikan permintaan maaf kepada semuanya. Ini tampak lebih santun dan pemirsa pun akhirnya memilih calon presidennya. Kesantunan menentukan keterpilihan dalam pilpres.

5. Ganjar-Mahfud kurang disukai masyarakat bawah

Tanpa mengurangi rasa hormat, saya sampaikan bahwa masyarakat itu butuh makan yang cukup, butuh pendidikan yang layak, bukan sekedar janji. Ganjar-Mahfud memang didukung elit pendidikan, tetapi pemilih di Indonesia kebanyakan bukan masyarakat berpendidikan tinggi. Sehingga mereka butuh pemimpin yang memberinya kecukupan kebutuhan terutama pangan. Tidak lebih.

Apalagi ada anggapan jika Ganjar menang maka bantuan yang selama ini diterima rakyat miskin akan dicabut. Akibatnya, rakyat pun berbondong-bondong memilih yang menjanjikan bantuan kesejahteraan. 

Bukan hanya itu, masyarakat jenuh dengan pilpres yang berlarut. Masyarakat menginginkan pilpres sekali putaran. Alasannya sederhana. Uang yang digunakan untuk putaran kedua, bisa dimanfaatkan untuk rakyat dengan membangun jalan dan sarana lain.

6. Pilpres bukan tentang partai, tapi calon presiden dan wakil presiden

Memang partai mengusung capres dan cawapres, tetapi saat proses pemilihan rakyat memilih calon bukan partai. Tidak peduli partainya apa, presidennya suka-suka. Contoh seorang pemilih memilih caleg DPRD 2 dari Gerindra, caleg DPRD 1 dari partai PKB dan caleg DPR dari PDIP. Kok beda semua? Ya, sebab ssmuanya tetangganya. Masalah capres, urusan lain. Jadi jangan heran jika elit partai di pusat kebingungan. Itulah gambaran pemilu kali ini. Tidak bisa diprediksi. Karena pilpres bukan tentang partai pengusung tapi tentang calon presiden dan wakil presiden.

7. Mengecewakan pecinta sepakbola di Indonesia atas penolakan Israel di Piala Dunia U-20

Ganjar, gubernur Bali, PDIP dan beberapa partai dan tokoh menolak kehadiran timnas Israel di Indonesia untuk berpartisipasi di Piala Dunia U-20. Akibatnya, Indonesia gagal menjadi tuan rumah dan timnas gagal tampil di piala dunia walau U-20.

Penolakan ini menjadikan pecinta sepakbola merasa kecintaannya menonton timnas Indonesia tampil di perhelatan tingkat dunia gagal. Kecewa berat sih pokoknya. Bukan hanya itu, keluarga, tetangga dan orang sedaerah anggota timnas kecewa dengan kegagalan tampilnya timnas Indonesia dan mereka kecewa pada orang-orang yang menolak timnas Israel berlaga. Kebanggaan keluarga, desa, kota dan daerah asal pemain timnas sirna. Bisa dipastikan bagaimana mereka kecewa. Akibatnya mereka yang awalnya pro Ganjar akhirnya meninggalkan dan memilih capres lain.

8. Asal daerah pemilih mempengaruhi pilihan capres dan cawapres

Tidak bisa dipungkiri, rasa kedekatan baik keluarga dan daerah asal mempengaruhi hati pemilih dalam memilih capres. Rasa kesukuan juga mempengaruhi hal itu. Bagaimanapun, asal daerah tetap memiliki pengaruh. Misalnya saja, pemilih memiliki asal daerah yang sama dengan Ganjar, ya akan memilih pasangan Ganjar-Mahfud. Jadi, asal daerah capres-cawapres berpengaruh pada pemilihnya. Begitu sebaliknya.

Demikian 8 alasan pasangan Ganjar-Mahfud kalah dalam pilpres 2024 menurut obrolan di warung kopi dekat rumah. Semoga bermanfaat dan mencerahkan pikiran kita. Tetap semangat dan bersatu menjaga negeri ini menuju negeri yang lebih baik dan rakyatnya sejahtera. Terima kasih.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rusdi Ngarpan

Penulis Indonesiana/ Alumnus UNNES Semarang, berkarya di SMP

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua