x

Adegan dalam film Exhuma (Showbox.Movie)

Iklan

Achmad Humaidy

Seorang narablog yang menyalurkan hobi membaca dan menulisnya melalui INDONESIANA supaya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja. Kepoin blognya: https://www.blogger-eksis.my.id II IG @me_eksis II Twitter @me_idy
Bergabung Sejak: 23 Februari 2022

Senin, 18 Maret 2024 06:03 WIB

Film Korea, Exhuma Jadi Film Paling Laris di Indonesia

Bergenre horor, film Exhuma suguhkan okultisme Korea yang penuh teror.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     Butuh hiburan di bioskop yang beda dan mencekam? Film Exhuma bisa jadi alternatif tontonan yang akan beri sensasi menonton lebih mendalam. Seperti apa kepercayaan terhadap hal gaib dan sejarah Korea Selatan yang pernah terjadi di sana bakal buka wawasan. Uniknya, film Exhuma bak misteri yang sulit dipecahkan. 

     Dari judulnya saja, Exhuma menitikberatkan proses pemindahan kuburan. Kata ‘exhumation’ yang punya makna penggalian dalam bahasa Inggris membuat film ini harus suguhkan ritual lokal gali kubur yang kental budaya Korea. Tradisi memanggil arwah, menenangkan arwah, sampai ritual pemindahan energi roh jahat ke dalam tubuh hewan seperti babi bisa penonton jumpai. Sensasi horor berubah jadi atraksi gaib tanpa henti yang jarang ditemui.

     Unsur sejarah juga kental diungkap dalam film Exhuma terkait masa penjajahan Jepang di Korea. Dalam enam babak penceritaan, teror mistis yang dialami keluarga Jin-gi harus berhadapan dengan proses pemindahan kuburan leluhur. Teror suara sosok yang minta tolong sampai anak yang baru dilahirkan tak henti menangis. Ahli fengshui, ahli gali kubur, sepasang dukun pun menyelidiki teror yang dialami keluarga ekspatriat Jeon Jin-gi yang tinggal di Los Angeles, AS.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

     Jika menengok ke masa silam, buyut Jin-gi ternyata pejabat berpengaruh pro-Jepang yang percaya bahwa Asia Timur bisa makmur dalam kepemimpinan Jepang. Semasa berkuasa, Ia kerap menjual negaranya dan membunuh lebih dari seribu nyawa dengan tangannya. Kekuatan jahat tersebut menghilangkan sifat kemanusiannya. Beliau pun wafat dan bersemayam di petak terburuk karena wilayah Korea yang terpecah belah.

      Dilain sisi, Biksu Gisune muncul dan diduga punya tugas untuk melemahkan Korea dengan senjata klenik. Gisune berarti rubah dalam mitologi Korea yang mengincar hati manusia untuk dimakan. Sepasang dukun makin tak berdaya untuk melawannya. Mantra yang terucap dan tertulis di wajah juga tak bisa mengalahkan kekuatan jahat.

     Kim Sang Deok, sosok yang paham feng shui sadar bahwa yang dihadapi itu berasal dari elemen api. Buktinya sosok jahat bisa berubah jadi api untuk berpindah. Elemen logam karena pasak besi yang ditanam dalam dirinya juga bisa dicerna dengan mudah. Maka, kayu dan darah sebagai pengganti elemen air berhasil menyerang kekuatan iblis sehingga lenyap tak tersisa. Setelah siluman Jenderal binasa, kehidupan kembali berjalan normal, tapi rasa takut masih membayangi empat karakter utama.

   Seperti yang kita ketahui, penjajahan Jepang di Korea memang sudah ada dalam catatan sejarah. Tapi, latar belakang sejarah kadang sering diputar sudut pandangnya dari sisi yang berkuasa. Film Exhuma pun berani mengungkap anti-Jepang dalam pergerakan kemerdekaan Korea dengan unsur ilusi yang penuh makna dan kemasan horor yang tegang. Beberapa nama karakter dalam film ini pun sengaja dimunculkan dari para aktivis atau pejuang yang pernah melawan Jepang pada masanya.

    Keberhasilan film Exhuma juga diwarnai akting dari ansambel aktor dan aktris yang menjiwai perannya. Sebut saja Choi Min-sik, Kim Go-eun, Lee Do-hyun, dan Yoo Hae-jin memberi kemampuan akting tak hanya sebatas dialog atau kata-kata. Ada ekspresi sampai gerak tubuh yang masuk ke dalam adegannya.

  Choi Min-sik hadir sebagai pakar fengshui. Kim Go-Eun dan Lee Do-Hyun sebagai dukun muda yang saling melengkapi. Sampai Yoo Hae-Jin yang tampil nyaris cerdas sebagai penggali kubur kelas atas. Development character and storyline diantara mereka begitu mudah diikuti, meski kisah sejarah yang diungkap begitu berat untuk diresapi.

    Okultisme dan sejarah yang dikemas pada genre horor kuat menjadi bagian dari narasi visual ExHuma. Plot 6 babak yang perlahan tapi pasti membuka tabir misteri “Rubah melukai pinggang harimau”. Kalimat ini berulang terucap sebagai simbol perpecahan Semenanjung Korea dalam peta yang terlihat seperti Harimau. Sementara rubah dianalogikan dengan karakter Gisune yang dianggap sebagai biksu Jepang yang mengubur pasak besi di tanah Semenanjung Korea. Proses pemisahan Korea Utara dan Korea Selatan pun menyisakan traumatis berkepanjangan.

  Ada juga simbol angka yang sering diucapkan dukun ganteng ketika dimasuki arwah Jenderal. Angka 383417 1283289 menjadi titik koordinat lokasi pasak besi yang ditancapkan. Ini merupakan lokasi kuburan biksu tersebut bersemayam. Di atas bukit yang menjadi titik perbatasan sehingga satu per satu teka teki terpecahkan.

Cerita yang kental unsur lokal didukung akting para pemeran belum cukup membuat film Exhuma banjir apresiasi. Ragam shot dan visual CGI yang membungkus iblis menjadi bola api juga terkesan rapi. Semua bersatu padu membangun intens adegan kuat supaya penonton bisa ikut tegang akan suguhan horor tanpa setan atau jumpscare berlebihan. Layak bila Exhuma tampil sebagai box office di Indonesia sebagai film horor terlaris dari Korea sejak tayang pada 28 Februari 2024 lalu karena sudah ditonton lebih dari 1.700.000 penonton per Sabtu (16/3). Selamat!

.

     

Ikuti tulisan menarik Achmad Humaidy lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler