x

Jebakan Finansial

Iklan

Ronald Hutasuhut

Jurnalis
Bergabung Sejak: 1 April 2024

Selasa, 2 April 2024 19:05 WIB

Rupiah Kian Tak Berdaya Lawan Dollar AS

Rupiah menyentuh angka terendah melawan Dollar AS dalam 4 tahun terakhir hari ini, Selasa 2/4/2024. Rupiah pada posisi hampir menyentuh Rp. 16.000 per Dollar AS. Angka tersebut juga mendekati level terendah Rupiah pada era COVID tahun 2020, yakni Rp. 16. 738 per Dollar AS.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Rupiah menyentuh angka terendah melawan Dollar AS dalam 4 tahun terakhir hari ini, Selasa 2/4/2024. Rupiah pada posisi hampir menyentuh Rp. 16.000 per Dollar AS. Angka tersebut juga mendekati level terendah rupiah pada era Covid tahun 2020, yakni Rp. 16. 738 per Dollar AS.

Dampak pelemahan (depresiasi) nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS adalah inflasi, dimana biaya produksi meningkat dan menyebabkan harga-harga naik juga. Biasanya tanpa diiringi dengan penyesuaian pendapatan masyarakat seperti gaji.

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, pelemahan nilai tukar Rupiah dikarenakan kenaikan nilai Dollar AS. Pernyataan tersebut tampaknya tidak sesuai dengan komparasi teknikal antara Rupiah dan USD.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dollar AS sendiri sedang mengalami kebimbangan karena isu ketidakpastian penurunan suku bunga oleh Federal Reserves. Hal ini terlihat dari US Dollar Index yang meneruskan pola konsolidasi sejak awal 2023. Sementara, Rupiah terus mengalami pelemahan melawan Dollar AS.

Pelemahan nilai Rupiah saat ini dapat disebabkan beberapa faktor lain.

Pertama, Investor asing tercatat menjual Surat Utang Negara. Kuartal pertama tahun ini saja mencapai 1,7 miliar Dollar AS. Angka tertinggi sejak kuartal III-2020. Capital Outflows masih terjadi dengan jumlah besar.

Tampaknya para investor masih menunggu kepastian putusan MK mengenai sengketa Pilpres 2024. Jika sengketa itu dimenangkan kubu Prabowo pun, investor pasti akan menunggu berbagai kebijakan yang akan dijalankan.

Faktor pelemahan Rupiah yang lain adalah bahwa masyarakat Indonesia masih berketergantungan terhadap Dollar AS untuk transaksi jual-beli. Bank Indonesia sudah mengimbau masyarakat untuk mengurangi penukaran uang (konversi) ke Dollar, walaupun belum jelas dampak imbauan tersebut.

Bahkan, BI menemukan adanya transaksi rutin menggunakan mata uang asing di daerah perbatasan. Contohnya penggunaan Ringgit untuk transaksi jual-beli di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Hal ini jelas merugikan nilai Rupiah.

Faktor lainnya adalah bahwa masyarakat, terutama kategori pengusaha menengah ke atas, masih cenderung menyimpan uangnya dalam bentuk Dollar AS. Salah satu penyebabnya tidak lain adalah karena nilai Dollar AS jauh lebih tinggi.

BI telah melakukan berbagai usaha untuk meninggalkan Dollar AS, salah satunya adalah penggunaan instrumen Local Currency Transaction (LCT). 

Instrumen LCT tidak menggunakan Dollar AS untuk transaksi, melainkan mata uang masing-masing negara. Indonesia bekerjasama dengan Jepang untuk memanfaatkan LCT, rencananya akan melebar ke China, Korsel dan negara-negara ASEAN.

Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan "LCT posisi akhir 2023 tercatat sebesar US$ 6,3 miliar dan peningkatan 53% dibandingkan periode sebelumnya di tahun 2022 sebesar US$ 4,1 miliar," di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu (21/2/2024).

Menurutnya itu merupakan peningkatan yang drastis dalam hal transaksi tanpa Dollar AS. Tapi ternyata hal tersebut belum cukup untuk memperkuat nilai Rupiah.

Ikuti tulisan menarik Ronald Hutasuhut lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler