x

Iklan

I. Mumajjad Muslih

Peminat cerita-cerita
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Kenangan Taeko, Cinta Toshio (Catatan tentang Film Animasi 'Only Yesterday')

Film bukan semata hiburan, ia mampu menghadirkan ragam cara pandang terhadap kehidupan. Dalam 'Only Yesterday', kita bisa melihat bagaimana kelindan antara manusia dengan alam, kenangan, liku hidup keluarga, dan cinta.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sawah selalu memukau saya. Dibanding hutan, saya lebih suka sawah. Jika ditanya alasannya, saya bisa bilang: di sawah terkandung riwayat kerja keras, kesabaran, dan pada titik tertentu, kepasrahan manusia pada Sang Pencipta. Adapun hutan, selain bagi saya agak menakutkan, juga merupakan ‘hasil kerja’ Tuhan sepenuhnya. Bagi saya, hutan kurang mengandung drama.

Sawah bukan sesuatu yang asing bagi saya. Saya terlahir di keluarga petani. Bapak saya mengolah sawah dan beberapa petak kebun cabe rawit, ubi jalar, kacang panjang, jagung, dan aneka tanaman lainnya. Semasa kanak sampai remaja, saya acap membantu bapak. Yah, meski tenaga saya lemah, setidaknya saya ikut meramaikan lahan saat nyambut (membajak), ngagaru (meratakan lahan), tandur (menanam padi), ngarambet (mencabuti rumput liar), hingga panen. Mengenakan topi laken, kemeja dan celana panjang, serta bertelanjang kaki, saya mondar-mandir menginjak lumpur di bawah terik matahari. Sesekali berlari menangkap belut, belalang, atau gaang.

Kenangan saya tentang sawah khususnya, dan lahan-lahan pertanian pada umumnya, kuat menyeruak, saat saya menonton film animasi ‘Only Yesterday (Omohide Poro Poro)’ karya sutradara Isao Takahata. Film keluaran Studio Ghibli tahun 1991 ini antara lain menghadirkan kisah tentang kenangan masa kecil, obsesi terhadap kehidupan pedesaan, dan liku hidup petani.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Film ini berpusat pada kisah tokoh utama Okajima Taeko yang mendambakan kehidupan pedesaan. Keluarganya sudah turun-temurun tinggal di Tokyo. Saat masa kanak-kanak, sekira tahun 1966, Taeko kerap iri pada teman-temannya yang pergi liburan ke rumah nenek mereka di desa. Ia pun merengek pada ibunya agar bisa liburan ke desa. Rengekannya tak berguna sebab ibunya punya jawaban: ‘nenek tinggal bersama kita’ dan ‘kakek sudah meninggal dunia’.

Tujuh belas tahun kemudian, saat ia berusia 27 tahun pada sekira tahun 1983, ia sudah menjelma menjadi gadis pekerja kantoran. Untuk memenuhi obsesinya terhadap kehidupan pedesaan, ia mengajukan cuti 10 hari untuk bervakansi. Ia pun menumpang kereta malam menuju kampung halaman salah satu anggota keluarga kakak iparnya di Yamagata.

Perjalanan Taeko (juga selama kunjungannya di Yamagata) diiringi oleh kenangan masa kecil yang silih berganti hadir dalam ingatannya. Bukan hanya soal rengekan ingin berlibur ke desa, tapi juga liku hidup keseharian Taeko kecil beserta keluarga dan teman-teman sekolahnya: Cinta monyetnya dengan Hirota, anak kelas sebelah yang jago main baseball; ketidakmampuannya menyelesaikan soal-soal matematika sampai dicurigai ‘tidak normal’ oleh kakak dan ibunya; imajinasinya yang kerap dianggap berlebihan sampai harus ‘dibatasi’ oleh ibu guru yang disukainya; ketakutannya terhadap haid pertama setelah mendapat pendidikan reproduksi; pukulan pertama (dan terakhir) dari ayahnya sebagai hukuman karena ia tidak bisa menepati kata-katanya sendiri; percekcokan khas anak-anak dengan Yaeko, kakak yang usianya paling dekat dengannya; kegagapan keluarga Taeko saat harus makan nanas, buah tropis yang dianggap aneh; dan serba-serbi kehidupan sehari-hari lainnya.

Menjelang fajar, Taeko (dewasa) pun tiba di stasiun kereta api Yamagata. Ia dijemput Toshio, sepupu dari suami kakaknya. Mereka naik mobil sedan kecil keluaran lama milik Toshio, memasuki kota lantas keluar menyusuri jalan sempit berkelok-kelok di antara sawah, kebun, ladang penggembalaan, sungai, dan permukiman. Diiringi musik petani (begitu Toshio menyebutnya) dari Hungaria yang diputar di tape mobel Toshio, mereka sedikit demi sedikit bertukar cerita dari soal haiku karya sastrawan Matsuo Basho sampai reformasi pasar pertanian Jepang yang menyulitkan para petani. Toshio berujar bahwa pertanian di Jepang mungkin akan gulung tikar pada suatu hari, tetapi kesulitan apapun harus dihadapi oleh kerja keras karena tiap manusia hidup untuk pekerjaan yang dicintainya. Pemuda yang usianya sedikit di bawah Taeko ini lantas mengucap bahwa ia adalah petani yang meskipun harus bekerja 24 jam sehari, tetap merasa senang karena ia memelihara makhluk hidup, bukan hanya beberapa binatang tapi juga padi, apel, dan buah cherry. Kalau kita memelihara mereka dengan baik, maka mereka akan memberikan yang terbaik bagi kita.

Sejatinya Toshio belum lama menjadi petani. Pada mulanya ia adalah pekerja kantoran seperti Taeko, namun kemudian memutuskan untuk menjadi petani lantas bergabung dengan temannya mengelola pertanian organik, yang menurutnya tidak mengandalkan bahan-bahan kimia, melainkan keringat, darah dan air mata. Meski keputusan ini kerap dicibir orang, Toshio tak menyesalinya. Taeko sempat gelagapan ketika ditanya oleh Toshio, apakah ia mencintai pekerjaannya. Taeko hanya bisa bilang bahwa ia tidak hidup untuk pekerjaannya tapi juga tak membenci pekerjaannya itu.

Matahari masih mengintip di balik punggung gunung saat mereka tiba di ladang bunga safflower milik keluarga Kazuo, kakak ipar Taeko. Taeko sengaja mengambil kereta malam agar langsung bisa ikut memetik safflower, bunga yang biasa diolah menjadi pewarna lipstik dan serat kain itu. Dengan mengenakan sepatu bot, topi lebar, dan celana kerja petani yang bahkan gadis-gadis setempatpun sudah jarang memakainya, Taeko bergabung dengan segenap anggota keluarga Kazuo. Dalam kurungan gerimis dan kabut, tangan-tangan mereka memetik bunga satu per satu lantas memasukkannya ke wadah yang diikatkan di depan perut. Matahari perlahan tampak. Kuning sinarnya menyirami ladang bunga. Lebah hinggap dari satu putik ke putik lain. Kupu-kupu sewarna salju menari-nari. Dalam khusyuk, beberapa anggota keluarga menghadap matahari, menangkupkan tangan di depan dada, menundukkan kepala. Taeko melakukan hal yang sama.

Begitulah, Taeko memulai kehidupan pedesaan yang selama ini didambakannya. Setelah memetik bunga, ia turut membantu pengolahannya: mencuci, menggiling, menyimpannya dalam kotak  fermentasi, dan menjemurnya. Pikiran Taeko melayang. Ah, andai kesempatan ini bisa ia lakukan semaca kecil dulu. Mungkin esai tugas sekolahnya akan jadi lebih bagus dan mendapat labih banyak pujian lagi.

Taeko menikmati kesehariannya. Ia menjalin pertemanan erat dengan gadis kecil anak tuan rumah berusia 11 tahunan. Ia pun tak menolak ketika Toshio mengajaknya jalan-jalan ke Zao, daerah yang terkenal dengan pemandangan indahnya sehingga dikunjungi banyak wisatawan. Obrolan di antara merekapun semakin merambah banyak hal. Dalam sebuah obrolan mereka membicarakan tentang betapa kuatnya dominasi cara yang ditentukan oleh pihak-pihak tertentu sehingga harus diikuti oleh banyak orang. Dalam kenangan Taeko, ia pernah dipaksa untuk mengikuti rumus pembagian yang tidak dimengerti olehnya, meski ia punya cara lain yang menurutnya lebih mudah dan hasilnya benar. Sementara Toshio merasa gerah dengan cara yang dipaksakan oleh ‘orang-orang kota’ dalam melakukan pertanian, sehingga ia memutuskan untuk kembali pada cara lama dalam bertani, yakni tanpa menggunakan bahan-bahan kimia atau pestisida.

Kenangan masa kecil yang hadir silih berganti, kerinduan terpendam terhadap kehidupan pedesaan, dan percakapan yang menyenangkan membuat Taeko merasa semakin dekat dengan Toshio. ‘Aku suka caranya memandang dan menyikapi kehidupan,’ begitu gumam Taeko dalam hati. Meskipun begitu, ia terkejut bukan main, saat pada malam terakhirnya di Yamagata, Sang Nenek, anggota tertua dalam keluarga yang ditumpangi Taeko, memintanya untuk tinggal saja di Yamagata dan menikah dengan Toshio. Permintaan sekaligus pertanyaan ini mendapat reaksi beragam dari anggota keluarga lain. Aneka perasaan bergulung dalam dada Taeko. Merasa tersudut, Iapun tak kuasa mengendalikan emosinya. Taeko berjingkat lalu berlari menuju pekarangan. Dengan kepala tertunduk dan dipenuhi aneka pikiran, ia melangkah menyusuri jalan desa.

Lantas bagaimanakah keputusan akhir yang diambil Taeko? Apakah kecintaannya terhadap kehidupan pedesaan bisa ia buktikan dengan tinggal di pedesaan dan meninggalkan karirnya di kota? Ataukah itu semua hanya romantika masa kecil belaka? Apakah Toshio telah benar-benar mengisi hatinya? Dibimbing oleh kenangan masa kecil dan kehadiran Toshio sendiri, Taeko akhirnya mengambil keputusan.

Sebagaimana film-film animasi keluaran Ghibli, ‘Only Yesterday’ menyajikan tokoh, cerita, dan gambar yang detail dan kadang ‘iseng’. Nenek yang jarang bicara tapi penuh wibawa. Ayah yang pendiam, tegas, dan kadang menyeramkan. Ibu yang lembut tapi banyak mengatur. Taeko kecil yang suka berkhayal. Taeko dewasa yang terus dibayangi kenangan, berhati lembut, tapi menyimpan hasrat pemberontakan. Toshio yang bangga menjadi petani tapi kadang berpikir bahwa antusiasmenya yang tinggi pada pertanian mungkin karena ia belum lama menjadi petani.

Kitapun disuguhi gambar-gambar pemandangan yang memukau: sawah menghijau, ladang bunga menguning, air sungai yang jernih, pohon yang rindang atau gunung-gunung berkabut yang tampak bikin sejuk. Adegan-adegan hidup oleh detail dan keisengan Takahata yang kadang mengundang tawa. Kucing lewat di ‘depan kamera’ dengan santainya, tiba-tiba muncul logo ‘Puma’ karena ada anak yang merengek kepada ibunya agar dibelikan sepatu merek itu, kodok hijau kecil yang meloncat dari tangkai bunga, dan sebagainya. Bila kita sudah menonton beberapa film produksi Studio Ghibli lain, kita mungkin akan bergumam, ‘wah, ini Ghibli banget.’ 

Selain itu, hal lain yang patut diacungi jempol adalah musik pengiring. Takahata piawai memilih lagu dan musik yang membangun suasana sehingga adegan terasa sangat menyentuh. Sebagai contoh, saat adegan panen bunga di pagi hari yang diselingi dengan penghormatan terhadap matahari, mengalun lagu yang meski saya tidak mengerti liriknya, membuat saya terhanyut oleh suasana khusyuk dan syahdu dari proses panen yang bukan melulu pekerjaan memetik bunga. Bagi petani, panen adalah ujung perjalanan yang dibangun oleh langkah penuh kesabaran, kepasrahan, dan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta.  

Begitulah kehidupan. Apa yang kita alami sekarang tak terpisah dari masa lalu. Kenangan pun kadang datang kembali, menyusup dalam ingatan. Terserah kita, mau menjadikannya sebagai bahan rujukan, ajang nostalgia belaka, atau mengabaikannya begitu saja. Namun yang pasti, kenangan akan selalu ada. Taeko telah membuktikannya.

----------

Ikuti tulisan menarik I. Mumajjad Muslih lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu