x

Iklan

Aseanty Pahlevi

journalist, momsky, writer, bathroom singer, traveler.
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Jurnalis Perempuan Diskusi Film India’s Daughter

Sejumlah jurnalis perempuan nonton bareng film dokumenter India’s Daughter, sekaligus berdiskusi masalah hak azasi manusia dan tulisan jurnalistik.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

PONTIANAK – Sejumlah jurnalis perempuan nonton bareng film dokumenter India’s Daughter, sekaligus berdiskusi masalah hak azasi manusia dan tulisan jurnalistik yang berempati.

“Film ini bercerita tentang pemerkosaan dan pembunuhan seorang perempuan di India yang dilakukan oleh sekelompok pemuda di dalam sebuah bis,” ujar Kusmalina, ketua Jurnalis Perempuan Khatulistiwa, yang menghelat acara tersebut.

Kegiatan ini, kata dia, sepenuhnya untuk mengembangkan wawasan bagaimana cara seorang jurnalis mengambil langkah dalam menulis sebuah kasus seperti ini. Kasus ini, kata Lyna, sangat jamak di kehidupan sehari-hari. Dia berharap para jurnalis mendapatkan pemahaman yang komprehensif, bahwa tulisan dengan kasus seperti ini tidak melulu mengeksploitasi kesedihan, dengan mengatasnamakan human interest.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Lyna menyatakan, diskusi tersebut terbuka untuk umum.  Kegiatan digelar pada Jumat 27 November 2015, pukul 11.00 WIB di Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat, Jalan Letjen Sutoyo, Pontianak. Lyna menekankan, diskusi tersebut tidak menjanjikan peserta yang banyak, namun hasilnya diharapkan dapat memberikan pengaruh pada cara pandang dan tulisan para jurnalis.

Film yang berdasarkan kisah nyata, Jyoti Singh (23) seorang mahasiswi kedokteran di New Delhi. Pada 16 Desember 2012, usai menonton film bersama teman prianya, Jyoti naik sebuah bus.  Teman prianya dipukuli oleh sekelompok pria, dan dia diperkosa berulang kali di belakang bus.Organ internal Jyoti terluka, dan sempat dirawat selama 13 hari sebelum akhirnya meninggal dunia.

Film ini ditayangkan pada 23 Oktober 2015 di Amerika Serikat, Inggris dan India, dalam bahasa Inggris dan Hindi. Namun, pemerintah India kemudian melarang pemutaran film ini. Pemerintah India bahkan meminta Youtube untuk memblokir film tersebut , setelah banyak yang menonton secara online. Gelombang protes terjadi secara besar-besaran di India setelah kematian Jyoti, dan kemudian diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional.(*)

Ikuti tulisan menarik Aseanty Pahlevi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu