x

Iklan

indri permatasari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Piknik dan Sampah-sampah yang Bertebaran

Jika memang sudah berani menasbihkan diri sebagai manusia yang cinta alam dan lingkungan, kenapa masih saja membuang sampah sembarangan

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Siapa sih yang tidak suka piknik? Mayoritas mahluk bernama manusia seperti saya dan pastinya njenengan  akan menyukai aktivitas membahagiakan ini, terkecuali bagi para mahluk indoor sejati. Bagaimana tidak, wong dengan piknik kita bisa melihat pemandangan yang lain dari yang biasa kita lihat sehari-hari, merasakan sesuatu pengalaman yang baru, mencicipi makanan yang mungkin belum pernah kita rasakan sebelumnya, menjumpai  teman-teman yang baru kita temui saat ini bahkan kalau beruntung njenengan yang jomblo bisa nemu jodoh saat ikutan piknik. Bahasa gaulnya, piknik bisa memperkaya batin. Batin yang semula jenuh karena kebanyakan nguli, nelangsa karena ditolak cewek sampai tujuh kali atau bahkan prihatin sebab duit di dompet tinggal sekarat bisa saja terlupakan sejenak dengan berpiknik.

Lho, kalau duit saja napasnya sudah  kembang kempis mosok bisa piknik? Yo bisa to, wong piknik kan ndak sekedar jalan-jalan ke tempat yang jauh saja. Ngobrol bareng teman lama sambil ngemil rujak di bawah pohon rindang, jalan-jalan ke taman dekat rumah sambil bawa anjing atau kucing peliharaan biar dikira penyayang binatang yang peduli animal welfare padahal niatnya cuma biar bisa dilirik dedek-dedek yang gemes liat piaraan kita yang lucu juga masuk kategori piknik. Bahkan membaca, menulis atau mewarnai gambar yang sekarang lagi happening banget itu juga bisa disebut piknik. Ah tapi sekarang saya ndak mau bahas piknik yang minim budget itu, daripada kesannya saya lagi kurang duit.

Balik lagi ke acara piknik yang anak-anak muda kita sering menyebutnya travelling. Seiring dengan gencarnya provokasi di media, travelling ibarat sebuah hal wajib agar tetap eksis di dunia ini. Apalagi semenjak ada acara nge trip plus adventure an ala selebritis di televisi yang menawarkan pesona keindahan nusantara, yang memang harus diakui bisa bikin ngiler. Pokoknya njenengan mesti pergi dari rumah, bertualang, melihat keindahan alam, mau di gunung mau di pantai terserah saja. Tentunya ada hal yang tak boleh dilupakan, abadikan momen traveling itu dalam sebuah foto, disertai caption dan location yang bisa membuat prestise melambung dan diakui sebagai bagian dari para manusia pecinta alam.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Namun ternyata semua tidak berhenti di situ. Sebagian (kalau boleh saya tulis kebanyakan) manusia travelling ini hanya peduli pada ke-aku-an mereka. Seolah kalau sudah berhasil mendapatkan pose selfie terbaiknya, maka paripurna lah semua tugas kepiknikannya. Jarang sekali meninjau ulang tentang sampah yang dihasilkan dari makanan enak yang mereka bawa sebelum tamasya. Kemanakah sampah-sampah itu pergi? Apa sudah diletakkan di tempat yang semestinya, atau biarkan saja sampah-sampah itu bertebaran di tepian pantai, di atas gunung, wong yang lain juga melakukan hal yang sama dan gak ada yang negur juga, lagian apa gunanya membayar tiket masuk, nanti kasihan sama petugas kebersihan yang memang sudah dibayar untuk itu.

Sedih sih, tapi kenyataan nya memang demikian, saya pernah melihat sendiri saat serombongan pemuda pemudi pada boncengan naik motor. Dari kostum, keril dan matras gulung yang dibawanya bisa ditengarai bahwa mereka adalah pecinta alam. Mungkin saja mereka ngirit tenaga untuk persiapan mendaki, jadi tidak ada salahnya ketika tiba-tiba sekresek sampah mereka lemparkan dengan ikhlas dan sukarela ke pinggir jalan. Gimana kalau sudah begitu, lha kalau di jalan raya yang orangnya seliweran saja mereka nyantai buang sampah, apalagi pas di atas sana. Wallahualam

Terus  ada lagi, ngakunya suka hiking karena bisa sekalian belajar mencintai alam dan segala mahluk ciptaanNya. Tapi di satu waktu malah upload gambar kembang yang memang endemik hanya ada di puncak gunung dan tidak boleh dipetik apalagi dibawa pulang . Wadhuh mas, ha mbok mending njenengan balik jadi jomblo, tapi yang toleran saja daripada mesti pakek pembuktian cinta yang mbelgedez macam itu. Gimana nanti bisa mencintai dan bertanggung jawab sama pasangan, kalau berlaku adil sama alam saja masih ndak becus gitu.

Mau ndak mau ini mengingatkan kita sama kejadian tragis yang menimpa bunga bakung di pathuk gunung kidul beberapa waktu lampau. Tapi kalau boleh kurang ajar saya bilang, masih ada hikmah yang bisa diambil di balik tragedi yang meluluhlantakkan hamparan kebun bunga berwarna oranye itu hanya karena semua kebelet selfie. Berita yang menjelma semacam isu nasional itu pun akhirnya mengundang simpati dan kepedulian sehingga  setidaknya untuk musim bunga tahun depan, ada langkah-langkah antisipatif yang bisa diambil agar kejadian horror itu tidak terulang lagi. Pahit sih, tapi semua harus move on bertindak dan  tidak berhenti hanya sebatas caci maki.

Saya jadi ingat obrolan dengan kawan saat  ngglundhung di sebuah daerah pesisir kawasan timur Indonesia. Dengan mata yang masih terpukau oleh keindahan pantai yang luar biasa kerennya saya berujar

“wah enak sekali ya disini, pantainya bagus  banget, bikin hati senang”  

“kamu senang karena hanya sebentar disini, coba jadi penduduk asli. Akses kemana-mana jauh, sarana pendukung juga minim”

Mak deg, duh, benar juga apa yang dikatakannya. Kemudian saya sambung kembali

“mungkin perlu digalakkan promosinya biar banyak wisatawan yang berkunjung, jadi ekonomi masyarakat sekitar terangkat, akses, sarana prasarana pasti mengikuti”

“ah, sepertinya gak perlu. Kalau disini jadi daerah wisata, hampir pasti nasibnya jadi ngenes. Kotor karena sampah, bising karena tempat hiburan dan warga yang tergusur karena tanahnya dibeli pengusaha dari antah berantah”

Plak, saya pun langsung diam mirip kecoa yang kena pukulan smash sandal jepit.

Apakah filosofi para petualang militant untuk   “jangan meninggalkan sesuatu selalin jejak dan jangan mengambil sesuatu selain gambar” sudah dianggap kekunoan sehingga tidak layak lagi dilakukan di masa kini. Haruskah para petualang sejati tidak usah memberitahukan tempat-tempat indah yang masih eksotis ke khalayak agar kelestarian itu tetap terjaga. Saya juga ndak tahu jawabannya.

Ikuti tulisan menarik indri permatasari lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan