x

Spanyol Menang Susah-Payah

Iklan

Burhan Sholihin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Euro 2016: Magis atawa Pragmatis

Siapa yang Anda jagokan dalam Piala Eropa? Spanyol? Anda tak salah.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Siapa yang Anda jagokan dalam Piala Eropa? Spanyol? Anda tak salah. Gaya permainan tiki-taka Spanyol yang magis-realis memang sulit dikalahkan. Gaya itu terbukti membuat Barcelona-klub Spanyol-mampu mendikte sepak bola dunia. Brasil, yang kerap dijuluki sebagai negeri dewa sepak bola, pun sering bertekuk lutut di hadapan Spanyol.

Dalam soal ketangguhan, pemain Spanyol juga tak diragukan lagi. Kehidupan keras para matador penakluk banteng hanyalah secuil gambaran betapa orang-orang Spanyol rela mati demi kejayaan. Malaikat maut, yang mereka sebut La Muerte, selalu dekat dengan kehidupan orang-orang Spanyol. "Spanyol merupakan satu-satunya tanah di mana orang tidak bisa membayangkan hidup tanpa kematian," begitu kata sastrawan negeri itu, Garcia Lorca.

Jika tampil dengan semangat "La Muerte", skuad berjulukan La Furia Roja ini bisa mencetak sejarah di Piala Eropa. Juara bertahan ini akan membukukan hat-trick, tiga kali menjadi juara berturut-turut. Itulah yang ditunggu para fan tim Matador.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Namun, misi meraih tiga gelar juara beruntun itu tak akan mudah. Pendukung tim Spanyol mesti ingat, dalam kehidupan sering berlaku pepatah: "Jika Anda menginginkan segalanya, Anda akan kehilangan segalanya."

Bayang-bayang pepatah itu kini sepertinya mulai terlihat. Setelah kepergian sejumlah pemain generasi emas seperti Xavi Hernandez dan Xabi Alonso, gaya tiki-taka model Spanyol atau Barcelona menjadi membosankan, mudah ditebak. Itulah sebabnya, sihir Barcelona bisa ditekuk oleh gaya pragmatis Atletico Madrid dalam Liga Champions.

Tak konsistennya permainan Spanyol membuat berbagai prediksi yang muncul pun tak menempatkan La Furia Roja sebagai favorit juara nomor satu. Justru Prancis yang disebut memiliki peluang lebih besar menjadi juara Piala Eropa 2016.

Prediksi ini datang bukan dari si gurita cenayang atau burung beo peramal abal-abal. Perkiraan itu merupakan hasil perhitungan serius fisikawan Prof Dr Michael Feindt, yang pernah bekerja di lembaga riset nuklir CERN. Lembaga inilah yang menemukan partikel Tuhan setelah menabrakkan atom-atom.

Prediksi Prof Michael ini memasukkan aneka algoritma yang njelimet, termasuk semua hasil laga internasional yang dilakoni tim peserta Piala Eropa. Hasilnya, ada 94 miliar kemungkinan dalam pertandingan Piala Eropa 2016. Namun, bukan Spanyol yang paling diunggulkan, melainkan Prancis dengan peluang juara 34,1 persen. Probabilitas skuad Les Bleus itu 2,5 kali lebih besar daripada tim Matador, yang hanya memiliki peluang juara 13,4 persen, dan Inggris di peringkat ketiga dengan peluang juara 11 persen. Jerman berada di posisi keempat dengan probabilitas 9,8 persen.

Melihat laga Prancis melawan Rumania beberapa hari lalu, penampilan tim asuhan Didier Deschamps itu memang belum meyakinkan. Ketajaman Olivier Giroud, Paul Pogba, dan Dimitri Pavet belum teruji. Tapi, bukan Deschamps bila tak optimistis. Dia yakin pasukan mudanya bisa mengulang rekornya saat merebut Piala Eropa 2000.

Tentu saja, Prancis tak akan dibiarkan melenggang begitu saja. Tim belia Inggris juga sedang naik daun. Gaya permainan pragmatis dengan pola 4-3-3 menjadikan Inggris jauh berbeda. Kombinasi maut top scorer nomor satu dan dua Liga Primer Inggris, Harry Kane (25 gol) dan Jamie Vardy (24 gol), menjadi ancaman serius. Belum lagi daya dobrak Raheem Sterling dan Delle Alli, yang membuat Jerman pun tunduk.

Dengarlah kengerian Manajer Wales Chris Coleman melihat ujung tombak Inggris, Jamie Vardy. "Vardy telah menyuntikkan dimensi lain dalam pola serangan tim Roy Hodgson," kata Coleman. "Yang dia inginkan hanyalah terus berlari. Kalau Anda adalah bek terbaik di planet ini, Anda tak ingin (Vardy) berlari di belakang Anda sepanjang waktu," ujarnya.

Sejarah bola tak mudah diringkas dalam definisi gaya magis-realis atawa pragmatis. Siapa pun yang bisa mengendalikan chaos di lapangan rumput, dialah yang bakal menang.

Ikuti tulisan menarik Burhan Sholihin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu