Swasembada Daging Sapi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Kristoforus Bagas Romualdi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Swasembada Daging Sapi

    Oleh : Kristoforus Bagas Romualdi Kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap daging sapi yang terus meningkat setiap tahunnya harus menjadi perhatian khusus b

    Dibaca : 5.874 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

         Kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap daging sapi yang terus meningkat setiap tahunnya harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. Apalagi, permintaan daging sapi yang terus meningkat tersebut ternyata tidak diimbangi dengan peningkatan produksi dalam negri.  Lonjakan jumlah penduduk yang diperkirakan akan terjadi dalam waktu 5 sampai 15 tahun ke depan bisa jadi akan berdampak pula pada semakin tingginya permintaan terhadap daging sapi, dan jika tidak dibuat langkah untuk mengantisipasi hal tersebut maka Indonesia harus bersiap untuk menghadapi kelangkaan daging sapi. Dengan kata lain, masyarakat Indonesia harus bersiap – siap dengan harga daging sapi yang meroket tajam ke atas akibat daging sapi menjadi langka.

        Memang, pada akhirnya pemerintah memberikan solusi untuk mengantisipasi melonjaknya harga daging sapi melalui impor daging sapi. Akan tetapi, perlu dicatat pula bahwa pada seminar nasional bisnis peternakan ASOHI di Jakarta pada 18 November 2015 lalu membeberkan data pada tahun 2015 kemarin, konsumsi daging sapi nasional perkapita mencapai 2,56 kg/tahun, atau sebanyak 653.980 ton dimana dipasok dari lokal sebanyak 416.090 ton (64%) setara dengan sapi hidup 2.447.000 ekor, sedangkan untuk impor 237.890 ton (36%) setara dengan sapi hidup 1.400.000 ekor. Dari jumlah impor tersebut dalam bentuk sapi bakalan sebanyak 720.000 ekor, sedang dalam bentuk daging beku setara dengan jumlah sapi hidup sebanyak 680.000 ekor sapi. Impor sapi bakalan yang digemukkan di feedlot bertujuan untuk memenuhi kebutuhan di pasar tradisional yang ada di Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat, sedang daging impor beku untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan daging, restoran, hotel, dan pasar modern.

         Khusus tahun 2016, konsumsi daging sapi diproyeksikan sebesar 2,85kg/tahun perkapita penduduk atau mengalami kenaikan 10% dari tahun sebelumnya. Artinya, diperlukan ketersediaan daging 738.025 ton atau setara dengan 4.341.323 ekor sapi hidup. Lokal diprediksi memasok sebanyak 469.235 ton daging atau setara dengan 2.760.000 ekor sapi (62%). Artinya diperlukan pasokan dari impor sebanyak 268.790 ton atau setara dengan 1.581.117 ekor sapi (38%). Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, maka devisit daging mengalami kenaikan sebesar 12%. Dari jumlah pasokan impor tersebut bisa dibagi dua, yaitu impor sapi bakalan sebanyak 800.000 ekor dan dalam bentuk daging sapi beku, setara dengan 781.117 ekor sapi.

          Prediksi kebutuhan daging nasional 2016 mengalami kenaikan 10%. Kenaikan pasokan lokal hanya mampu sebesar 8% sedangkan devisit akan ditutup dengan impor yang mengalami kenaikkan 12%. Untuk impor porsinya semakin besar yang mana sebelumnya, yakni pada tahun 2015 hanya 36% sedang pada tahun 2016 naik menjadi 38%. Dengan demikian, untuk memenuhi kebutuhan daging nasional, jelas terlihat semakin besar ketergantungan negara kita akan daging sapi impor.

       Impor daging sapi memang beberapa tahun belakangan selalu menjadi alternatif untuk menekan harga daging sapi dalam negri. Akan tetapi, impor daging sapi sejatinya hanyalah solusi jangka pendek. Jika dilakukan terus menerus justru akan memberikan dampak yang buruk terutama dalam proses perkembangan usaha peternakan sapi nasional. Oleh karenanya, satu – satunya jalan yang harus ditempuh untuk mengatasi dilema harga daging sapi yang mendera setiap tahunnya adalah dengan merealisasikan program swasembada daging sapi. Swasembada daging sapi yang terealisasi dengan baik maka dengan sendirinya akan menjadi salah satu faktor besar yang mendorong terwujudnya program kedaulatan pangan yang selama ini dicanangkan oleh pemerintah.

         Akan tetapi, perwujudan swasembada daging sapi tidak bisa terealisasi dengan baik jika pembibitannya hanya mengandalkan hasil produksi dari peternakan rakyat atau peternak tradisional. Hal tersebut dikarenakan peternak tradisional sangat lemah dalam pemodalan, teknologi, skala usaha, dan sistem logistik dalam transportasi. Hal tersebut pun dibuktikan dengan kegagalan swasembada daging sapi yang sebelumnya juga pernah digagas. Pemerintah harus berani mentransformasi orientasinya dengan menggunakan perusahaan peternakan sebagai wadah untuk merealisasikan swasembada daging sapi bekerjasama dengan BUMN/D yang merupakan perseroan pemerintah yang bergerak di sektor pertanian atau peternakan. Peternak rakyat atau tradisional bisa dialihkan untuk melakukan kegiatan usaha penggemukan bukan pembibitan. (Rochadi Tawaf dalam majalah Infovet)

         Dengan demikian, diharapkan swasembada daging sapi bisa terlaksana dengan optimal sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi permasalahan melonjaknya kebutuhan masyarakat Indonesia akan daging sapi. Indonesia ke depannya bisa mempunyai stok daging sapi yang sangat melimpah, sehingga harganya pun bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia.

     

    Oleh                : Kristoforus Bagas Romualdi

    Pekerjaan        : Mahasiswa FKIP Sejarah Universitas Sanata Dharma. Biro Presidium Pendidikan dan Kaderisasi PMKRI DPC Yogyakarta. Email : kristoforusbagas@hotmail.com

     

    Ikuti tulisan menarik Kristoforus Bagas Romualdi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.