Membaca Kembali Cita-cita Merdeka

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Membaca kembali apa yang dicita-citakan para perintis bangsa adalah cara menjaga semangat Republik ini.

 

“Kami yang kini terbaring
antara Karawang-Bekasi
tidak bisa berteriak ‘Merdeka!’
dan angkat senjata lagi.”
--Chairil Anwar

 

Seperti apakah Indonesia yang dicita-citakan oleh para pejuang bangsa dan perintis maupun pendiri Republik kita? Menengok kembali apa yang mereka pikirkan, imajinasikan, cita-citakan, dan kemudian mereka ikhtiarkan adalah cara untuk menjaga agar apa yang kita kerjakan di masa sekarang tidak menyimpang dari cita-cita pembentukan Republik ini.

Soekarno, Hatta, Tjokroaminoto, Tan Malaka, Sjahrir, Yamin, dan sebelumnya Kartini, serta sejumlah sosok lainnya telah meninggalkan pokok-pokok pikiran mereka dalam berbagai tulisan. Mereka adalah pejuang yang bukan saja aktif dalam aksi pergerakan, tapi juga secara teratur menuangkan pikiran ke dalam tulisan. Mereka menulis sendiri tanpa ghost writer seperti kelaziman tokoh-tokoh di masa sekarang.

Tulisan para pejuang itu memperlihatkan kemampuan dan kesungguhan mereka dalam merumuskan gagasan Indonesia merdeka. Bacalah, dan lihatlah keluasan bacaan mereka, persentuhan mereka dengan ide-ide global, pertautan mereka dengan persoalan di bumi sendiri sehingga tidak kehilangan konteks, dan pemahaman mereka tentang Indonesia yang mereka cita-citakan, serta semangat mereka untuk mewujudkannya.

Mereka memiliki kemampuan memahami persoalan bangsanya dan menunjukkan jalan yang harus ditempuh—kualitas yang sukar kita jumpai pada orang-orang yang terjun ke dunia politik tanah air di era sekarang, justru ketika sumberdaya pengetahuan demikian luas. Dalam keterbatasan akses ke dunia luar, para pejuang itu mampu memahami negerinya dalam konteks global; kini, dalam kemudahan akses ke dunia luar, para politikus justru bagaikan terperangkap dalam tempurung.

Tulisan memainkan peran penting dalam penyebarluasan ide-ide kemerdekaan, meskipun mungkin mereka yang mampu membaca masih terbatas. Namun, dari yang sedikit itu, tulisan mereka telah sanggup membangkitkan spirit kemerdekaan, yang kemudian menyebar melalui orasi dan organisasi. Banyak karya penting yang lahir dan menjadi menginspirasi perjuangan kemerdekaan, dan inilah sebagian di antaranya.

Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini

Ada banyak tokoh perempuan yang berjasa dalam merintis negeri ini, seperti Tjut Nyak Dien dan Dewi Sartika, tapi menulislah yang membedakan Kartini dengan mereka. Meskipun Habis Gelap Terbitlah Terang adalah kumpulan surat-menyuratnya dengan orang Belanda, Abendanons, namun di buku inilah kita mendapati pikiran-pikiran maju Kartini dan cita-citanya tentang sosok perempuan Indonesia.

Islam dan Sosialisme, H.O.S. Tjokroaminoto

Tjokro adalah sosok tempat berguru para pejuang kemerdekaan. Rumah sederhananya di Gang Peneleh, Surabaya, menjadi tempat indekos sejumlah anak muda yang kemudian berperan dalam pergerakan, seperti Soekarno, Muso, dan Kartosuwiryo—meskipun setelah kemerdekaan, masing-masing memilih jalan berbeda. Tan Malaka dikabarkan juga kerap berkunjung. Dikenal sebagai orator hebat, Tjokro juga menulis buku Islam dan Sosialisme. Ia menjelaskan bahwa prinsip-prinsip ajaran Islam dapat dijadikan fundamen bagi bangunan sosialisme yang sesuai dengan Indonesia.

Madilog, Tan Malaka

Tokoh pergerakan nasional yang lebih tua dibandingkan Bung Karno dan Bung Hatta ini produktif dalam menulis buku meskipun ia harus sering berpindah tempat dan bergerak di bawah tanah karena diburu polisi kolonial. Ia menulis dan menerbitkan tulisannya dengan nama samaran dari berbagai kota, seperti Moskow, Kanton, Saigon, Manila, dan Singapura. TanMalaka menulis sejumlah karya lainnya, seperti Menuju Republik, Dari Penjara ke Penjara, maupun Aksi Massa.

Indonesia Menggugat, Soekarno

Di balik jeruji penjara Banceuy, Bandung, Bung Karno menyusun pidato mengenai keadaan politik internasional waktu itu serta kerusakan masyarakat Indonesia di bawah kekuasaan penjajah. Pidato pembelaan itu dibacakan Bung Karno di hadapan penngadilan kolonial di Bandung pada 1930. Bung Karno mengecam kejahatan ekonomi penjajah Belanda melalui penerapan sistem VOC, tanam paksa, dan paham kapitalisme-liberalisme-imperialisme. Pidato yang diberi judul Indonesia Menggugat ini merupakan dokumen politik penting untuk memahami gagasan mengapa kolonialisme harus dienyahkan dari tanah air.

Indonesia Merdeka, Mohammad Hatta

Di hadapan pengadilan Belanda pada 1928, Bung Hatta menyampaikan pidato pembelaannya. Ia bukan hanya menggugat kekejaman pemerintah kolonial Belanda di Indonesia, tetapi lebih tegas lagi menuntut Indonesia Merdeka (Indonesia Vrij). Walaupun tercatat sebagai mahasiswa ekonomi di Rotterdam, pembelaan Bung Hatta sarat dengan pidato politik. “Kami percaya masa datang bangsa kami dan kami percaya atas kekuatan yang ada dalam jiwanya,” kata Bung Hatta dalam pidatonya.

Bung Hatta juga mengritik keras sistem kolonialisme dan imperialisme. Ia mengutip alasan pembentukan Perhimpunan Indonesia, yang beranggotakan kaum muda Indonesia yang tengah belajar di Belanda, melalui ungkapan: “Lebih suka kami melihat Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada melihatnya sebagai embel-embel abadi daripada suatu negara asing.” Hatta tergolong produktif menuliskan pikirannya, sehingga lahir Alam Pikiran Yunani, Memoir, hingga Demokrasi Kita.

Perjuangan Kita, Sutan Sjahrir

Buku kecil Sjahrir ini terbit pada 10 November 1945 sebagai kritik terhadap politik pemerintahan, pembangunan politik, maupun langkah-langkah perjuangan nasional setelah Proklamasi Kemerdekaan. Sjahrir menyerukan agar unsur-unsur kolaborasi (dengan kolonial) dilenyapkan dan para pemuda diajar mengenai prinsip-prinsip sosialisme. Ia mengritik pedas pemimpin yang bekerja sama dengan Jepang sebagai berjiwa lemah dan jadi bagian dari fasisme. Pemerintahan yang dijalankan harus demokratis dan terlepas dari bahaya fasisme dan feodalisme. ***

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua