x

Iklan

Fahmi Hasan Affandi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Prestasi, Bonus, dan Pembinaan

induk dari prestasi yang diraih atlet kita saat ini ada pada pembinaan, selain dengan bonus yang besar pemerintah juga harus terus meningkatkan pembinaan

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Negara kita baru saja merayakan hari jadinya yang ke 71 tahun, suka cita dirayakan untuk memperingati kemerdekaan oleh seluruh anak bangsa baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri. Tidak terkecuali para atlet yang sedang berlaga di Olimpiade, total ada 25 atlet yang terbagi dari cabang bulutangkis, panahan, angkat besi, dayung, atletik, balap sepeda. Beberapa saat sebelum pelepasan kontingen Olimpiade, Menteri Pemuda dan Olahraga mengumumkan tentang besaran bonus yang akan diberikan kepada para peraih medali. 5 miliar akan didapat oleh atlet yang mampu meraih medali emas, tentu bukan jumlah yang sedikit. Dengan nominal tersebut pasti menjadi motivasi besar pagi para atlet, setidaknya hal tersebut membuktikan bahwa atlet sudah menjadi profesi yang menjanjikan. Dari 25 atlet tersebut Indonesia hanya mampu meraih total 3 medal, 1 emas dan 2 perak. Satu dari bulutangkis dan dua dari angkat besi. Prestasi yang lebih baik dari raihan olimpiade London 2012 yang hanya mendapat 2 medali, 1 perak dan 1 perunggu. Untuk olahraga bulutangkis sudah beberapa kali atlet andalan kita memberikan medali di Olimpiade, jauh sebelum Tantowi dan Liliyana, ada Ahsan dan Hendra yang beberapa tahun terakhir ini berprestasi di kancah internasional, ada juga nama Susi Susanti, Taufik Hidayat, Ivana Lee dan banyak lainnya. Bulutangkis memang selalu menjadi andalan Indonesia di even 4 tahunan ini, setidaknya sejak tahun 1992 atlet kita belum pernah absen dalam perolehan medal.

Kita harus belajar terhadap pembinaan negara tetangga kita, atlet renang Singapur baru saja memecahkan rekor dunia. Joseph Schooling berhasil menundukan sang Raja Renang dunia asal Amerika, Michael Phelps. Pemuda berusia 20 tahun ini memecahkan rekor yang sudah lama bertahan di Olimpiade, tentu mengejutkan dunia ketika seorang pemuda asia tenggara berhasil memecahkan rekor tersebut. Padahal di seagames tahun 2015 catatan waktunya hanya terpaut 00,77 detik saja dari atlet andalan Indonesia, Glenn Victor, tetapi di Olimpiade ini rentan waktu mereka 04,13 detik. Prestasi yang didapat Schooling lahir dari proses pembinaan, dukungan orang tua, kerja keras dan bakat. Hal tersebut ditunjukan dengan seriusnya renang Singapura mempersiapkan atletnya dari setiap kelompok umur, lalu orang tua Schooling yang memasukan dia ke klub renang sejak usia dini, dan kerja kerasnya untuk berlatih yang mengorbankan waktu bermain di usia remaja nya mampu ditebus dengan prestasi yang sangat membanggakan ini.

Salah satu pembinaan yang sering diterapkan di beberapa negara maju seperti Jerman adalah 5 tahapan pembinaan usia muda yang biasa disebut Long Term Player Development, dimana atlet dibagi menjadi 5 kelompok umur dengan berbagai tujuan yang berbeda. Berikut paparan dari 5 kelompok Long Term Player Development:

1.            FUNdamental (usia 6-9 tahun)

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dimana para siswa difokuskan kepada banyak bergerak dan menyenangi cabang olahraga yang diminati.

2.            Learning to Train (usia 9-12 tahun)

Para siswa diajarkan bagaimana mereka berlatih dengan benar, dan di beri penjelasan berbagai manfaat dari latihan yang mereka jalani. Mulai dari pemanasan sebelum latihan yang baik hingga manfaat pendinginan setalah latihan. Begitupun dengan berbagai peraturan.

3.            Training to Train (usia 12-16 tahun)

Waktu dimana para siswa untuk menerapkan berbagai latihan. Seperti latihan fisik, teknik, taktik dan juga mental.

4.            Trining to Compete (usia 16-18 tahun)

Siswa mulai mengikuti berbagai kompetisi untuk menambah pengalaman dan jam terbang dalam suasana kompetisi tanpa dibebani target juara.

5.            Training to Win (usia 18 keatas)

Fase terakhir dimana para siswa dilatih untuk menjuarai di berbagai kompetisi.

Jumlah bonus yang diumbar oleh sang Menteri seakan menjadi 2 mata pisau. Bisa menjadi bentuk apresiasi terhadap perjuangan atlet, tetapi bisa juga menjadi bom waktu jika saja tidak ada pembinaan usia dini dan kompetisi yang berjenjang, karena pada dasarnya setiap manusia pasti ada masanya. Sudah kewajiban kita untuk terus mempersiapkan penerusnya, termasuk mereka pengganti para peraih medali Olimpiade 2016. Mengingat Tantowi dan Liliana tidak lagi berusia muda, bukan hal mustahil di olimpiade Jepang tahun 2020 mereka akan sulit bersaing dengan usia mereka yang sudah menginjak 30 tahun lebih. Jangan sampai prestasi dari cabang olahraga tersebut menurun seperti yang terjadi di Olimpiade London 2012. Pemberian bonus memang suatu apresiasi yang positif terhadap prestasi yang diberikan oleh atlet dan dapat menjadi motivasi para generasi muda, tetapi setelah itu harus ada tindak lanjut berupa pembinaan. Jka kita mejawab kebuntuan prestasi hanya dengan cara iming-iming bonus yang besar tanpa ada pembinaan atlet muda dan kompetisi berjenjang di berbagai kelompok umur, itu hanya akan menjadi bom waktu yang jika dibiarkan prestasi olahraga kita tidak akan berkembang dan bukan tidak mungkin akan terjadi kemunduran.

 

Penulis: Fahmi Hasan

            Magister Sport Science ITB

Ikuti tulisan menarik Fahmi Hasan Affandi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu