Singapura Lakukan Blunder saat Terjebak Off Side Tax Amnesty

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebuah berita di harian Singapura Straits Times memuat berita sebuah Bank di Singapura melaporkan ke penegak hukum

Sebuah berita di harian Singapura Straits Times memuat berita sebuah Bank di Singapura melaporkan ke penegak hukum laporan transaksi mencurigakan nasabah asal Indonesia, yang dipicu oleh ikutnya nasabah tersebut dalam program Tax Amnesty (TA) di negara asalnya Indonesia (baca selengkapnya di sini)

Dasarnya adalah ratifikasi aturan anti pencucian uang (Anti Money Laundring) yang berlaku global dari FATF mewajibkan Bank dan Lembaga Keuangan untuk melaporkan transaksi mencurigakan nasabahnya.

Tapi, untuk kasus Singapura kali ini menurut saya lucu dan wagu (bahasa Jawa). Kenapa begitu? Sederhana saja, yang dijadikan pemicu adalah nasabah tersebut ikut TA di Indonesia, dimana dalam UU TA yang diberlakukan di Indonesia persoalan pidana perpajakan (kasus-kasus penghindaran pajak di masa lalu) diputihkan sepanjang merepatriasi dan atau mendeklarasikan aset serta membayar tebusannya.

Jadi, setidaknya ada 2 titik analisis yang membuat tingkah overacting pemerintah Singapura menjadi lucu (dengan sumsi: dalam berita disebutkan nasabah asal Indonesia, jadi nasabah itu Wajib Pajak (WP) di Indonesia sekaligus Warga Negara Indonesia)

[1] Aksi dilakukan nasabah Bank di Singapura yang melakukan perintah untuk melakukan transfer Bank di Indonesia  dengan tujuan transaksi deklarasi dan atau repatriasi PLUS uang tebusannya sesuai UU TA di Indonesia bukanlah pidana perpajakan, justru ini pengampunan perpajakan.

Adalah benar logikanya, jika nasabah itu mengakui TA berarti dia melakukan penghindaran perpajakan yang secara compliance itu termasuk transaksi mencurigakan sebagaimana ratifikasi FATF dalam aturan Singapura, bahkan juga Indonesia.

Tapi, logika itu sudah digugurkan dalam pasa di UU TA di Indonesia bahwa asal usul aset tidak akan diperkarakan dan diperiksa sebagai pidana perpajakan di Indonesia. Dengan kata lain, ratifikasi FATF dalam hal transaksi mencurigakan dari penghindaran pajak di Indonesia ditutup bukukan oleh alerting PPATK selama masa TA berlangsung.

Apa konsukuensinya? Di sinilah, lucunya Singapura.... Kalau nasabahnya mengakui melakukan penghindaran pajak di masa lalu dengan ikut TA di negara asalnya Indonesia, maka artinya indikasi penghindaran perpajakannya, kan, di Indonesia. Betul, apa betul?

Kalau di Indonesia sebagai Tempat Kejadian Perkara (TKP), maka penegak hukum anti pencucian uang di Singapura harus mengkonfirmasi transaksi perpajakannya ke TKP nya, yaitu Indonesia. Dengan kata lain, Singapura harus mengirim notice ke PPATK. Notice itu apa artinya bagi Indonesia? Karena UU TA memang mengampuni hal itu... Wagu tenan (bahasa Jawa) logika negara sok bersih kayak Singapura ini. :)

[2] poin [1] adalah dari sisi peristiwa transaksi saat arus uang keluar dari Singapura, sekarang kita ikuti logika dari sisi saat arus uangnya kemarin-kemarin masuk Bank Singapura, untuk menguji adakah sesat logika (Fallacy Logic) aksi otoritas Singapura dalam upaya anti money laundingnya.

Begini, kalau pas uang keluar begitu pedulianya terhadap asal usul uang, kenapa ketika nasbah dulu datang bawa uang tidak kirim notice ke Indonesia (PPATK) tentang kemungkinan ini terkait perpajakan?

Ok lah, sekarang Alsani (Alasan Sana Sini) baru tahu ketika nasabahnya ikut TA di Indonesia, tapi itukan udah barang basi karena di TKP nya diampuni.

Ok deh, logikanya Singapura mau tau jangan-jangan transaksi perpajakan yang dihindari juga terkait transaksi yang jadi objek pajak di Singapura. Untuk yang satu ini, upaya penyelidikan dan atau penyidikan oleh penegak hukum Singapura kan perlu transaksi perpajakan di Indonesianya. Betul apa betul? Gimana mau dapat konfirmasi, karena lagi-lagi UU TA menutup mata soal ini :)

Satu yang pasti, culasnya Singapura dibuka oleh mereka sendiri. Kalau selama ini jualan surganya simpanan uang, ternyata berita ini menunjukan nasabah Indonesia untuk berpikir ulang! Salah besar, ternyata Singapura hanya baik ketika uang masuk pada saat nasabah akan melakukan transaksi atas uangnya ternyata cerewetnya bukan main!

Bukankah, menggunakan uang yang disimpan adalah mandat penuh nasabah! Kalau nasabah jelas melakukan transaksi besar sebagai WP dan WNI yang legal dalam UU TA apa yang salah dari nasabah itu, sehingga digertak sambal dilaporkan ke penegak hukum Singapura? Ayo nasabah Indonesia, ini alert perbankan Singapura tidak sesurga yang dibayangkan. Hehehehe...

Inilah udah off side (hidup dari dana-dana nasabah Indonesia), gelandang bertahannya pun melakukan blunder dengan aksi anti money laundring yang juga off side karena itu dikecualikan dalam UU TA Indonesia.

Sekarang, kalau udah blunder ini Singapura, bisa tidak pemerintah Indonesia mengoptimalkannya untuk cetak gol sebanyak-banyaknya?

Resiko Indonesia akan diteriakin melindungi pidana perpajakan dan mengecualikan ratifikasi FATF, ya ini harusnya calculated risk kalau rating invesment kita dibully sama negara-negara “maju”. Taoi, kita juga bisa bully balik Singapura kenapa pas uang masuk tidak peduli anti money laundring? Kalau pas keluar aja, itu namanya culas, kan...?

#EnjoyAja

 

Tulisan ini diambil dari rizky.elrizky.net 

 Sumber foto; http://www.straitstimes.com/business/banking/private-banks-in-singapore-reporting-indonesians-embracing-tax-amnesty-to-police

Bagikan Artikel Ini
img-content
Yanuar Rizky

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua