Konstelasi Kesetaraan di Moshpit

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebuah tulisan tentang kebiasaan para metalhead yang seringkali moshing di moshpit ketika menonton konser musik cadas.

Dalam mengekspresikan suatu hal, tiap manusia tentu memiliki cara berbeda. Seperti mengapresiasi sebuah karya seni, manusia dengan subjektivitasnya memiliki cara pandang masing-masing. Menikmati sebuah lantunan musik, misalnya, semua pasti sepakat jika musik memiliki peran penting dalam mengatur mood si pendengar. Ia dapat mewakili perasaan bagi pendengar: sedih, bahagia, resah dan bahkan marah terhadap situasi sosial.

Aliran musik, tentu sangat berpengaruh. Dalam skena musik cadas, ia dapat mewakili perasaan resah hingga marah terhadap sebuah sistem yang dinilai tidak adil bagi hidup. Sebuah distorsi, dentuman drum yang kadang memekakan telinga, dipadukan dengan petikan gitar yang tak biasa, lalu disempurnakan dengan vokal yang seperti suara gemuruh ombak, tentu dalam mengekspresikannya pun sangatlah tidak biasa.

Awal 1980, di Amerika, skena cadas ini diekspresikan oleh para penikmatnya yang berada pada sebuah konser, melalui suatu tarian yang tak biasa: saling baku hantam dan saling dorong. Bahkan terkadang, saling pukul dan tendang. Tarian tersebut dikenal dengan nama moshing.

Meski sebetulnya moshing pada awalnya ditulis dengan kata mash yang beredar pada zine-zine yang ada, tetapi karena pelafalannya berubah menjadi mosh, akhirnya dibakukan menjadi kata moshing. Ditambah, band hardcore Bad Brains, pada 1982 merilis lagu berjudul “Total Mash” yang dalam liriknya ada istilah  “Put moshing on the map”, akhirnya moshing menjadi populer di kalangan skena cadas itu.

Keriuhan, ketakaturan, kekerasan, sangat kentara dan tak bisa dinafikan jika hanya dilihat dari sudut pandang yang hanya itu-itu saja. Bahkan dalam sejarahnya, moshing memang seringkali memakan korban jiwa karena gaya tariannya yang lebih aktraktif dan terkesan brutal.

Seperti tragedi duka pada 2008 di Bandung. Beberapa penonton tewas ketika menonton gelaran launching album Beside. Hal itu bukan dikarenakan moshing semata, tetapi karena kapasitas gedung yang dapat memuat 500 orang, nyatanya melebihi kapasitas. Dehidrasi dan kurangnya sirkulasi udara, ditambah para penonton yang riuh melakukan moshing, menyebabkan beberapa penonton pingsan dan tewas.

Bagi awam yang belum pernah merasakan berada di lingkungan moshpit—begitu sebutan untuk tempat moshing—dapat dipastikan memiliki kesan buruk dan mengatakan bahwa itu semua merupakan sebuah neraka. Sebuah kesia-siaan, karena melibatkan benturan fisik demi menikmati sebuah alunan musik berdistorsi kencang tanpa melihat band favoritnya bermain di atas panggung.

Namun, dibalik itu semua, ada semacam konstelasi kesamarataan, bahkan keteraturan. Ia bukan hanya sekadar keriuhan dan kegaduhan semata. Ada makna yang sangat dalam pada suasana riuh gaduh dansa di moshpit. Meski itu dinilai tidak mungkin, tetapi bagi yang pernah ikut moshing, hal itu dirasakan ketika alunan musik mulai dimainkan.

Secara serempak, baik si kaya maupun si miskin, si tampan maupun kurang tampan, si wangi maupun kurang wangi, si tua maupun si muda, bergegas membuat lingkaran wall of death—lingkaran yang biasa ditemukan ketika dansa di moshpit.

Semua atribut politik, sosial, ideologi hingga agama, harus segera ditanggalkan. Yang dipentingkan adalah bersenang-senang dan menikmati distorsi dari setiap band. Pukul sana-pukul sini, loncat sana-loncat sini, semua dinikmati dengan penuh bahagia. Namun, bukan berarti kegaduhan tersebut tak ada sedikitpun etika.

Bahkan yang terjadi, dalam suatu kegiatan moshing, ada beberapa etika tak tertulis untuk dipatuhi. Hal itu dimaksudkan untuk menciptakan sebuah kondisi keteraturan meski berada pada sebuah ketakaturan. Etika yang dimaksud adalah ketika dalam baku hantam, kemudian ada yang terjatuh, para pedansa haruslah saling melindungi dan bahkan harus membantu untuk dibangunkan.

Dendam ketika kena sikut dan terpukul? Itu menjadi hal yang dihindari. Perbuatan seperti memukul di sekitaran moshpit hanya diperbolehkan ketika musik dimainkan. Dan ketika selesai, harus segera selesai juga. Tak ada dendam. Tak ada keegoisan. Moshpit setidaknya mengajarkan sebuah kesetaraan, kegembiraan dan cinta yang sederhana dibalik pertarungannya itu, dibanding dengan pertarungan sebuah partai politik yang licik dan tak pernah berujung.

Karena moshpit menurut beberapa orang adalah tempat yang menyenangkan dan tidak menyeramkan. Ia merupakan sebuah tempat yang sarat akan pergumulan manusia yang ingin memenuhi kebebasannya. Seperti kata Seringai dalam lagu “Program Party Seringai”-nya:

Berlari keliling, dalam pusaran brutal

Ayunkan kepalan, ini heavy metal – hey!

Masuk ke dalam pit dan jangan menyesal

Bersenang? Bersenang bersama:

Seringai!

 

Bandung, 16 Mei. Muhammad Syahid Syawahidul Haq.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Muhammad Syahid Syawahidul Haq

Laki-laki yang cuma kurang kerjaan.

0 Pengikut

img-content

Musik dan Cara Merawat Ingatan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
img-content

Pendakian Cikuray: Sebuah Perjalanan Panjang

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua