'Rujak Cingur' Pelatihan Kader Pekerja Rumah Tangga (eps 1)

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kader PRT belajar mengenai Paralegal, apa dan perannya dalam perjuangan Hak PRT.

Memperkenalkan Peran Paralegal kepada Kader PRT di Malang Raya

Perjalanan siang ini agak berbeda, kalau kemarin hanya mendengarkan radio saja, kali ini saya ditemani lima orang ibu. Spesial, pakai banget. Bagaimana tidak, saya bersama lima orang penggerak Pekerja Rumah Tangga dari 2 wilayah dampingan tim LPKP Jatim. Perjalanan yang “renyah” serenyah cerita dan kegembiraan mereka sepulang mengikuti Pelatihan Paralegal Dasar. Bagi yang belum familiar, silahkan mencari makna Paralegal dengan mbah Gugel ya, karena kali ini saya pengen cerita hebatnya para PRT yang menemani saya menuju kota Malang.

Tiga hari sudah sebanyak 27 orang Pekerja Rumah Tangga di Malang Raya berkumpul untuk menerima materi mengenai ilmu baru. Ya, ilmu mengenal apa hukum yang berlaku di Indonesia, peran yang bisa dilakukan sebagai Paralegal dan cara berkomunikasi sebagai konselor. Nah, keren-keren kan materinya. Kalau belajar di sistem perkuliahan bakalan lama deh, tapi untuk mereka, para narasumber dan fasilitator menyampaikannya dengan cara yang ringan dan melakukan beberapa simulasi. Kami paham, proses belajar tetap harus dilakukan, sehingga materi ini sebenarnya pengantar untuk mereka memperdalam di sesi belajar yang dilakukan rutin pada kelompok yang saat ini sudah terbentuk pada 5 wilayah.

Para ibu yang bekerja sebagai PRT ini awalnya bingung, takut dan kuatir bahwa proses pelatihan tidak mampu mereka ikuti karena berbagai kendala. Ketakutan bahwa mereka tidak bisa menerima materi dan kegalauan karena separuh hatinya memikirkan keluarga yang ditinggalkan (angen-angen anak dirumah). Maklum saja, hari puasa sebentar lagi, ada tradisi yang harus dilakukan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan di wilayah mereka.

Seorang ibu yang duduk di belakang bercerita bagaimana dirinya menyiasati kepergiannya untuk pelatihan dengan mempersiapkan makanan untuk keluarganya. Yang lain menimpali bahwa ijin dengan majikan juga harus dilakukan beberapa hari sebelumnya supaya tidak mendadak. Karena kalau mau ditinggal pergi, dirinya harus bekerja lebih lama untuk mengerjakan hal-hal lain, supaya pekerjaan sudah beres sewaktu dirinya ikut pelatihan. Itulah sebabnya, merancang kegiatan bagi PRT, perlu memberi ruang waktu bagi mereka melakukan persiapan diri sebelum hari H. Para kader PRT merasa mereka harus mempunyai strategi, meluangkan waktu untuk kegiatan dalam organisasi PRT tetapi juga tidak meninggalkan tugas di tempat mereka bekerja. Hebat kan pemikirannya!

Ikut pelatihan juga menjadi ajang “cenat-cenut” bagi mereka. Banyak istilah yang tidak dipahami, asing, gak ngerti apa maksudnya. Maklum, sekali lagi harus maklum, materi kali ini memang lumayan “abot” (berat). Karena itu berbagai metode dilakukan untuk memberikan kesempatan bagi para ibu menerima materi-materi itu. Dengan gambar, simulasi, bernyanyi dan permainan, para PRT diajak untuk mengolah info-info baru tersebut. Salah sekali dua kali menyebut, bahkan beberapa kali masih salah sebut juga tidak apa. Koreksi dan koreksi dijadikan pola belajar. Termasuk, membiasakan menggunakan istilah-istilah seperti: paralegal, gender, konseling, sistem peradilan, HAM dll.

Satu sesi yang menarik bagi mereka adalah memerankan situasi dalam pengadilan. Selama ini hanya mengurus rumah tangga, boro-boro paham apa peran dan dimana duduk jaksa, saksi, panitera, pengacara.... Ah, benar-benar baru kali ini ikut memerankan profesi-profesi hebat seperti tayangan dalam televisi. Para PRT belajar lho bagaimana cara komunikasi di persidangan tersebut. Dengan bimbingan ibu Umu Hilmy dan ibu Wahyu dari WCC Dian Mutiara, mereka bisa memainkan peran-peran tersebut dengan baik. Salah-salah sedikit itu wajar, yang penting mereka menikmati seluruh proses belajarnya. Benar-benar pelatihan yang tidak terbayangkan oleh mereka.

Tentu, tidak semua materi dapat mereka serap 100%. Jadi, sudah menjadi tugas para community organizer untuk mengolah materi ini di sesi-sesi pendampingan mereka. Masih ada waktu untuk mempersiapkan para kader PRT ini siap untuk berjuang dengan kekuatan kelompoknya, menyampaikan aspirasinya secara lebih luas lagi. Tujuan memperkenalkan PRT adalah profesi yang sama dengan pekerjaan lainnya dan perjuangan menuju Kerja Layak PRT harus mereka lakukan supaya kehidupan sejumlah 200 PRT yang telah bergabung secara sukarela dalam kelompok dan PRT lainnya yang belum bergabung dapat tercapai.

Ah....perjalanan ini harus diakhiri. Para ibu ini harus turun di tempat transit, dimana ada angkot yang menuju rumah mereka. Ada juga yang minta berhenti di pasar terdekat karena harus belanja mempersiapkan “megengan”, tradisi untuk persiapan puasa yang akan mulai esok hari. Semangat mereka belajar haruslah menjadi cambuk untuk saya, kami, kita agar tidak mudah putus asa mencapai tujuan, walau terasa berat. Bayangkan mereka para PRT yang berjuang untuk keluarganya, keluarga para pemberi kerja, dan terlebih dirinya sendiri tapi tetap tersenyum menjalani hari-harinya.

Terima kasih ya bu, sudah menjadi inspirasi saya hari ini. Selamat bertemu keluarga dan memasuki bulan suci puasa.

Malang, awal puasa 2017

Beti.MC

catatan: 

Paralegal: Paralegal adalah gambaran pekerjaan yang membantu pengacara dalam pekerjaannya dan istilah ini dipakai di beberapa negara. Paralegal itu sendiri bukanlah pengacara bukan juga petugas pengadilan, oleh pemerintah sendiri paralegal tidak diizinkan untuk berpraktik hukum.

Paralegal - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

https://id.wikipedia.org/wiki/Paralegal

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
JARAK STOP PEKERJA ANAK

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua