Kota Bengawan Berbenah - Analisis - www.indonesiana.id
x

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kota Bengawan Berbenah

    Infastruktur awal yang menunjang kehidupan kota Solo

    Dibaca : 3.037 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tuntutan sebagai sebuah kota yang mulai tumbuh dan menggeliat sejak awal abad XX menjadikan Surakarta (Solo) mulai berbenah. Modernitas teraktualisasi dalam pembangunan, yang awalnya mengacu pada konsep kosmologis, bermigrasi ke konsep ekologis. Kebutuhan akan kenyamanan sebuah kota yang terbebas dari banjir tahunan, akses jalan sebagai penghubung, maupun listrik guna penerangan menjadi fokus yang diusahakan.

    Keraton sebagai pusat jagad ageng (makrokosmos) secara kosmologis terletak diantara dua sungai besar, Pepe dan Bengawan Solo. Keadaan ini mengakibatkan banjir tahunan tak terelakkan. Mengatasi banjir yang seringkali mampir, pihak keraton Surakarta (Kasunanan) bekerja sama dengan pemerintah kolonial dalam usaha menciptakan sebuah kota yang terbebas dari banjir. Kanal maupun sungai baru digali. Ancaman 2.000 m3/detik air yang datang dari aliran Bengawan dicegah dengan membangun bendungan di sebelah selatan dan timur kota. Sungai baru guna menghubungkan kali Jene dengan Bengawan digali agar kota tak banjir di musim penghujan.

    Sebuah keputusan penting diambil, ketika dibangunnya bendungan sepanjang lima kilometer, 1902, yang akan menghubungkan Kali Pepe dan Bengawan Solo. Keputusan ini diambil oleh pihak Kasunanan dan pemerintah kolonial mengingat pada awal 1902, kali Pepe menenggelamkan kota. Kampung Kebalen, Mangkunegaran, Krapyak, serta Balong menjadi layaknya sungai pada Januari. Bulan berikutnya, banjir menggenang lagi, kali ini pemukiman Eropa di sekitar benteng dan jalan utama di Purwasari ikut terdampak.

    Kota mulai terbebas dari banjir ketika bendungan rampung pada 1910. Dengan sekitar 500 orang pekerja yang dibayar 30-40 sen/hari, bendungan selesai dibangun dalam tempo hampir sedekade. Dalam masa pembangunan tersebut banjir masih seringkali melanda kota, tepatnya 1903 dan 1906.

    Melengkapi fasilitas jalan yang sudah cukup mumpuni di pemukiman Eropa, seperti Residencylaan sepanjang 595 m yang membujur dari Gladak sampai Purbayan, maupun Voorstradt sepanjang 370 m yang menghubungkan Pasar Kliwon dengan Societeit Harmonie, dibangun jembatan Jurug pada 1910 yang dibiayai oleh Kasunanan, Mangkunegaran, serta pemerintah kolonial. Jembatan dipoles dengan konstruksi logam pada 1903 dan di penghujung tahun tersebut diresmikan dengan sebuah perayaan spesial. Para pejabat penting turut menghadiri acara peresmian yang juga dimeriahkan oleh gamelan serta orkestra dari Kepatihan yang semakin mempermanis acara tersebut. Sunan, Raja Mangkunegaran, Residen, Patih, serta pejabat tinggi lainnya nampak hadir. Tamu dari Yogyakarta, Sri Pakualam dan Pangeran Notodirojo dari Pakualaman turut pula hadir.

    Jembatan lain yang tak kalah penting keberadaannya adalah Jembatan Bacem, diresmikan pada 8 Januari 1915, yang menjadi titik konjungsi antara kota dengan wilayah sebelah selatan seperti Wonogiri dan Pacitan. Pihak Kasunanan menghabiskan dana 50.000 gulden yang didapat dari kredit pemerintah kolonial. The United States Steel Product Co. dilibatkan untuk menghadirkan konstruksi logam dengan biaya sejumlah 23.000 gulden. Jembatan ini rampung dalam jangka watu sekitar tujuh tahun dan setelah diresmikan, bagi perorangan yang ingin melintas harus membayar 1 sen sementara yang berkendara harus membayar 1 gulden layaknya jalan tol.

    Sementara, usaha untuk menghadirkan listrik bagi kota Surakarta diawali ketika pemerintah kolonial mengizinkan Solosche Electriciteits-Maatschppij mendirikan perusahaan pada 1899, dibawah pengawasan Firma Maintz & Co. di Batavia. Guna memperlancar usaha ini dibentuk komisaris yang terdiri dari Adipati Sosroningrat, J.A.C. de Kock van Leeuwen, Be Kwat Koen, dan S.J.W. van Buuren yang sepakat untuk memulai proyek ini pada 12 Maret 1901 dengan biaya 70.000 gulden. Konsumen awalnya adalah orang-orang Eropa serta masyarakat kelas atas yang mampu membayar 20-30 sen/lampu tiap bulannya. 19 April 1902 atau setahun berselang, kota Solo mulai menikmati penerangan dari masuknya instalasi listrik. Konstruksi yang dibutuhkan untuk listrik telah seluruhnya rampung pada 1 Januari 1906 yang ditandai pula dengan relokasi kantor pengurus kelistrikan dari Slier Hotel ke sebuah bangunan di Purwasari. Meski instalasi telah rampung, namun Sunan belum mampu menghadirkan lampu-lampu bagi penerangan jalan karena biaya yang terlampau membumbung tinggi. Jalan masih begitu gelap pada malam hari sehingga menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna jalan.

    Infrastruktur awal yang dihadirkan oleh pihak Keraton Surakarta bekerja sama dengan pemerintah kolonial guna menunjang kehidupan sebuah kota, mampu mengubah kota Surakarta menjadi lebih nyaman. Paling tidak, Surakarta sedikit terbebas dari ancaman banjir, akses ke luar Surakarta juga dipermudah lewat dibangunnya jembatan, serta nyala lampu yang mulai menerangi kota di malam hari. Di sisi lain, pihak kolonial tentu ingin menghadirkan wajah kota yang mirip dengan kota-kota nenek moyangnya di Belanda dengan berbagai fasilitas penunjang agar rasa tercerabut dari akarnya tak begitu kentara. Insfrastruktur yang dibangun seabad lalu, rasa manisnya masih dapat kita cicipi hingga kini.

     

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

     

    Referensi:

    Kuntowijoyo, “Making An Old City A Pleasant Place to Stay for Meneer and Mevrouw: Solo, 1900-1915”, Humaniora, Vol. XII, No. 2/2000.

    Kuntwijoyo, “The Making of A Modern Urban Ecology: Social and Economic History of Solo, 1900-1915”, Lembaran Sejarah, Vol. 3, No. 1. 2000.

    Sumber Gambar: media-kitlv.nl

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.