Zulkifli Hasan, Antara Umara dan Ulama

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Amanat jabatan ini sepenuhnya untuk manfaat bagi rakyat dan maslahat untuk umat. karena itu saya mohon doa dan nasihat dari para kiai dan ulama

Kunjungan Ketua MPR Zulkifli Hasan ke sejumlah pondok pesantren di Jawa Timur pada pekan lalu merupakan langkah yang patut diikuti oleh semua para pemimpin di negeri ini. Karena kehadirannya, selain bersilaturrahim, memotivasi para santri, dan yang utama adalah meminta nasihat atau masukan dari ulama.

"Amanat jabatan ini sepenuhnya untuk manfaat bagi rakyat dan maslahat untuk umat. karena itu saya mohon doa dan nasihat dari para kiai dan ulama," kata Zulkifli Hasan saat mengunjungi Pesantren Darussalam Modern, Gontor, Ponorogo pada Selasa 24 April lalu. Dia disambut langsung pimpinan pesantren Gontor KH Hasan Abdul Sahal, KH Syamsul Hadi Abdan, dan pengasuh ponpes lainnya.

Kebiasaan Zulkifli Hasan bersilaturrahim ke ulama ini sendiri mendapat pujian dari Pimpinan Pesantren Darul Lughah Wad-Dakwah, Pasuruan, Habib Segaf Hasan Baharun, yang ia temui empat hari sebelumnya. Bahkan Habib Segaf mengatakan Zulkifli Hasan contoh umara (pemimpin) yang baik karena suka mendatangi ulama.

"Negeri ini berdiri karena bersatunya ulama dan umara untuk membangun bangsa," kata Habib Segaf pada Jumat, 20 April 2018. 

Sinergitas Ulama dan Umara

Dalam salah satu tulisannya, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Nasaruddin Umar, menjelaskan bagaimana keterkaitan ulama dan umara. Keduanya sama-sama memi­liki fungsi di dalam masyarakat NKRI. Umara membutuhkan ulama untuk meligitimasi program pembangunan dan sekaligus memotivasi umat untuk mendukung program tersebut. Ulama juga membutuhkan um­ara untuk memberi dukungan legal-formal berlaku­nya hukum-hukum agama di dalam masyarakat. 

Namun, kehadiran, fungsi, dan peran ulama di dalam konteks nation state, fungsinya berbeda-beda di setiap negara. Ada negara yang memberikan fung­si pengawasan dan sekaligus penentu kebijakan secara mutlak, dalam arti rumusan kebijakan pe­merintah (umara) harus mendapatkan persetujuan dan legitimasi terakhir dari otoritas ulama. Seperti ini Iran, Afganistan dulu di bawah Taliban, dan beberapa Negara Islam lainnya. 

Untuk Indonesia, menurut Prof. Nasaruddin, peran ulama jelas dan sudah menjadi kovensi. Meskip ulama tidak dicantum­kan di dalam UUD 1945 tetapi turunan konstitusi ini dalam bentuk UU sudah memberikan pengakuan secara eksplisit kepada ulama dalam hal ini Majelis Ulama Indonesia (MUI). Antara lain terdapat dalam UU Per­seroan Terbatas, UU Perbankan Syari'ah, UU Jami­nan Produk Halal, dan lain-lain.

Selain MUI, dia menambahkan, di Indonesia kita juga mengenal Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) untuk agama Protestan, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk agama Katolik, dan majlis-majlis agama lain­nya. 

Menjalankan Perintah Nabi

Bagi umat Islam, Nabi Muhammad SAW adalah manusia agung yang harus dicontoh, terutama oleh para pemimpin. Karena Nabi Muhammad SAW sudah membuktikan kesuksesannya dalam memimpin umat dan masyarakat umumnya yang plural di Kota Madinah.

Sebagaimana disebutkan Ali Abdullah dalam buku Khotbah-Khotbah Terakhir Rasulullah SAW dalam bab Aturan Kepemimpinan, boleh dikatakan Rasulullah SAW, selain sosok sebagai Nabi, beliau adalah sosok pemimpin yang berkharisma dan patut untuk diteladani karena moralitas dan mentalitas beliau sebagai pemimpin sangat humanis dan religius.

Namun, dia menambahkan, Rasulullah SAW juga sadar bahwa beliau tidak abadi, dalam artian, beliau tidak selamanya menjadi pemimpin umat. Karena beliau juga manusia biasa yang tidak lepas dari kematian. Oleh karena itu, Rasullah SAW mewasiatkan beberapa hal tentang kepempinan dalam khotbah beliau.

"Aku berpesan kepada (setiap) khalifah (pemimpin) sepeninggalankanku untuk bertakwa kepada Allah. Aku juga berpesan kepadanya untuk selalu berbuat baik kepada kaum muslim; memuliakan yang tua; menyayangi yang muda; memuliakan orang alim dan tidak menindasnya sehingga ia tidak akan disesatkan, tidak pula berbuat jahat kepadanya sehingga ia tidak akan ditentang; serta tidak menutup pintu bagi orang muslim yang membutuhkan sehingga orang kuat akan memakan (hak) orang yang lemah dari mereka." (HR Baihaqi)

Dari Hadist di atas sangat jelas penekanan bagaimana perintah Nabi Muhammad SAW dalam memuliakan para alim atau ulama. Karena ulama, sebagaimana juga dikatakan dalam Hadist yang lain, adalah pewaris para Nabi. Sedangkan dalam Al Quran disebutkan dari kalangan hambanya hanya ulama yang takut kepada Allah.

Keberadaan ulama ini sangat penting, sebagai penuntun dalam kebaikan dan sebagai pengingat para pemimpin kalau melakukan kesalahan. Karena itu para pemimpin jangan sekali-sekali menjauhi, menghardik, memenjarakan atau bahkan ada yang sampai membunuh para ulama yang menyuarakan kebenaran.

Kebenaran yang mereka sampaikan ibarat penerang di jalan gelap dan tali pecut agar penguasa tetap berada di jalur kepemimpinan yang baik. Makanya jangan sekali-kali berpisah dengan ulama. Tapi tentu bukan ulama su' atau ulama jahat.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Putra Batubara

staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Seneng Nulis

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua