UNCBD COP 14: Mewujudkan Hidup Harmonis Dengan Alam - Analisa - www.indonesiana.id
x

Suasana sidang Conference of Parties (COP) 14 UNCBD, di Sharm el Sheik, Egypt yang diikuti oleh 190 negara penanda tangan Konvensi Keanekaramgana Hayati

Fachruddin M Mangunjaya

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • UNCBD COP 14: Mewujudkan Hidup Harmonis Dengan Alam

    Dibaca : 393 kali

    Dari tanggal 17-29 November 2018, Indonesia mengirimkan delegasinya untuk menghadiri konferensi negara negara penanda tangan Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati (Conference of Parties -COP 14, United Nations Biological Diversity Convention) di Sharm el Shaikh, Mesir. Diperkirakan lebih dari delapan ribu delegasi dari 196 negara penanda tangan konvensi berdialog di tempat ini. Konvensi ini juga menandai peringatan 25 tahun upaya negosiasi dan kerjasama antar negara dan tujuan bersama dengan visi 2050 “Hidup Harmonis dengan Alam-Living in Harmony with Nature.”

    Ada tiga maksud konvensi yang diratifikasi oleh Indonesia tahun 1994 ini, pertama konservasi keanekaragaman hayati, artinya bagaimana kita dapat selalu mempertahaunakan kekayaan hayati kita dan melestarikannya hingga generasi yang akan datang dapat menikmati hal yang sama dengan apa yang kita rasakan hari ini. Kedua, pemanfaatan berkelanjutan dari setiap komponen keanekaragaman tersebut: selaku makhluk yang mempunyai strategi dan akal, pemanfaatan keanekaragaman hayati tidak semestinya merusak atau menghabiskan sumber daya hayati yang ada, melainkan harus menemukan cara bagaimana pemanfaatannya dapat berkelanjutan.

    Ketiga, pemanfaatan keuntungan yang setara dari hasil-hasil temuan yang diambil dari keanekaragaman hayati, antara negara yang memiliki teknologi dengan negara berkembang yang pada umumnya kaya dengan sumber-sumber genetika keanekaragaman hayati, namun masih kekurangan ilmu dan taknologinya.

    Upaya mencapat tujuan diatas, kemudian dipacu dengan Aichi Target yang dicanangkan pada COP 10, tahun 2010, di Nagoya.

    Aichi Target memberikan pedoman 20 capaian untuk setiap negara, sehingga dari situlah kemudian negara anggota berkontribusi di level nasional atau di tingkat regionalnya masing-masing. Tahun ini, setelah dievaluasi, ternyata diperkirakan aksi itu tidak bisa dicapai, sehingga setiap anggota diminta meningkatkan ambisinya dalam mencapai target hingga 2020. Setelah itu delegasi akan bernegosiasi metetapkan peta jalan capaian global keanekaragaman hayati setelah tahun 2020.

    Dengan upaya seperti ini, semua pemerintahan akan bekerja keras untuk tetap mempertahankan keanekargaman kehidupan, mencegah kehilangnnya dan melindungi ekosistem yang mendukung adanya makanan, keberadaan air bersih serta kesehatan untuk bermilyar umat manusia.

    Indonesia sebagai Negara anggota telah berupaya memenuhi target target tersebut, misalnya dalam implementasn aichi target no 11, Indonesia telah melindungi 27, 2 juta ha kawasan konservasi di darat dan 15, 4 juta ha kawasan konservasi di laut yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan -KLHK dan Kementerian Kelautan dan Perikanan -KKP). Adapun proteksi terumbu karang yang menjadi rumah ikan dan pusat pemijahan ikan yang menjadi sumber makanan, sudah dilindungi pula keamanannya sehingga mencapai 30 persen pada tahun 2017. Indonesia juga telah memperbarui Strategi dan Aksi Nasional Keanekaragaman Hayati (IBSAP), meratifikasi Protokol Nagoya yang mengatur tentang akses pemanfaatan sumberdaya genetika serta Protokol Cartagena, yang mengatur tentang keamanan biologi (biosafety), seperti rekayasa genome dengan prinsip kehati hatian dalam merekayasa makhluk hidup tersebut.

    Penuh tantangan

    Bagaimapun, upaya melestarikan dan melindungi di tingkat kebijakan saja, tentu tidak cukup sementara implementasinya penuh tantangan, dalam praktek banyak perambahan dan pelanggaran di kawasan konservasi karena kurangnya kesadaran masyarakat, serta tidak cukupnya upaya peyadaran dan pilihan masyarakat yang ada di daerah itu terutama dalam pemenuhan keperluan dasar mereka. Kita fahami, bahkan kawasan konservasi seperti taman nasional pun, masih mengalami perambahan dan pemanfaatan yang tidak berkelanjutan. Hal penting lagi dalam implementasinya, perlu pendekatan kepada kepala-kepala daerah agar memasukkan keperdulian terhadap keanekaragaman hayati dalam kebijakan mereka. Maka dalam rencana strategis 2011-2020 dicanangkan adanya upaya memasukkan kebijakan (mainstreaming) keanekaragaman hayati di dalam sektor ekonomi—infrastuktur, pertambangan, energi dan gas, manufaktur, dan kesehatan.

    Suasana sidang umum (plenary session) kemudian menjadi hangat dengan peryataan muncul dari masing-masing negara, misalnya pernyataan dari Bolivia, tentang tantangan yang ditargetkan oleh konvensi tahun 2010 yang tidak tercapai dan target selanjutnya 2020 dengan aichi target secara global sepertinya juga akan sulit dicapai. Keinginan untuk hidup harmonis dengan alam, juga bertambah kompleks dengan semaking bertambahnya ledakan penduduk dan pertambahan populasi di Negara berkembang, populasi angkatan muda yang tentu menuntut pementuhan sumber daya alam yang harus dipertimbangkan.

    Adapun Cina memberikan opsi tentang konservasi ekologis yang terintegrasi dengan peradaban yang meyakini akan pentingnya alam, untuk itu usulnya, kita haru membuat aturan dengan tujuan menyesuaikan dari bagi keperluan dari negara masing, dilakukan juga secara bottom up dan aksi secara bersama. Selain itu, pemerintah direkomendasikan untuk membuat peraturan agar melindungi satwa liar supaya tidak punah, dan untuk itu Costa Rica mendorong adanya mobilisasi sumber daya pendanaan yang menyisihkan satu persen dari anggaran dunia untuk melindungi keanekaragaman hayati. (**)

    Fachruddin M Mangunjaya. Anggota Delegasi Republik Indonesia (DELRI) COP 14, UNCBD. Dosen Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Nasional, dalam misi ini beliau diutus oleh  Badan Restorasi Gambut (BRG). Tulisan ini merupakan pendapat pribadi, tidak mencerminkan pendapat resmi DELRI.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.