x

Iklan

Yopi Ilhamsyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 Juli 2019

Senin, 22 Juli 2019 11:11 WIB

Ratu Kidul, Tsunami, Fishing Ground

Artikel ini membahas mitos Nyi Roro Kidul terkait dengan ombak besar bahkan Tsunami di pesisir selatan Jawa. Ombak besar terkait dengan hembusan angin muson tenggara yang membangkitkan upwelling (taikan massa air) pesisir yang berpotensi melimpahnya ikan pelagis kecil dan besar di perairan ini seperti terjadi di Bali. Cerita Ratu Kidul bisa menjadi kearifan lokal untuk mengindikasikan fenomena upwelling pada musim Timur di pesisir selatan Jawa dan Bali

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Satu pekan terakhir viral beberapa berita tentang pesisir selatan Jawa mulai dari fenomena terdamparnya ikan Lemuru di Bali, gempa tektonik bermagnitudo 8,8 Skala Richter diikuti Tsunami setinggi 20 meter dan ajakan ke pantai Parangtritis di Yogyakarta menggunakan pakaian hijau guna menantang Nyi Roro Kidul. Walaupun keberadaan Nyi Roro Kidul ini masih merupakan mitos dalam masyarakat Jawa dan Bali, namun menarik untuk menyimak bagaimana mitos ini berkembang dari cerita rakyat menjadi kearifan lokal (dalam tulisan ini) dan bagaimana kearifan lokal ini dikaitkan dengan mitigasi Tsunami serta hubungannya dengan kelimpahan ikan bila ditinjau dari interaksi atmosfer-osean di pesisir selatan Jawa.

Saat kita mendengar pantai selatan Jawa, nalar kita langsung mengarah ke cerita Nyi Roro Kidul, sang penguasa laut selatan. Sang Ratu yang misterius ini semakin menambah kemisteriusan laut selatan Jawa yang sebenarnya menyimpan potensi perikanan yang besar.

Pada masa perang Jawa, Belanda mendramatisir mitos ini dengan menghembuskan cerita-cerita horor tentang Ratu Kidul yang murka di laut selatan. Selidik punya selidik ternyata lewat jalur selatan ini pasukan Diponegoro memperoleh bantuan senjata dari kesultanan Turki karena jalur utara dikuasai Belanda. Cerita Ratu Kidul sengaja dibumbui dengan kesan mistis agar masyarakat takut dan menjauhi pantai selatan Jawa sebagai upaya memutus suplai senjata dari Turki untuk perjuangan Diponegoro.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pada masa kolonial, pantai selatan tidak berkembang sebagaimana mana pantai utara Jawa dikarenakan kondisi lautan yang sering dilanda gelombang besar diakibatkan angin kencang dari Samudera Hindia sehingga kurang mendukung untuk bersandarnya kapal. Hasil Bumi Priyangan diangkut melalui kereta api menuju pelabuhan Cirebon di utara. Namun untuk efisiensi, Belanda kemudian mengembangkan pelabuhan alam di Cilacap Jawa Tengah yang berhadapan dengan pulau Nusakambangan, pulau ini berperan sebagai penghalang angin kencang pembangkit gelombang penghambat kegiatan bongkar-muat pelabuhan. Jalur niaga selatan menjadi ramai, namun cerita kemistisan Ratu Kidul tetap ada.

Kearifan lokal
Secara geologi, laut selatan Jawa berada pada pada zona subduksi, tercatat beberapa kejadian Tsunami pernah menghantam kawasan pesisir selatan ini. Masyarakat lokal mengaitkan bergoyangnya daratan diikuti ombak besar dengan kemunculan Ratu Kidul seperti diungkap oleh Peneliti LIPI yang menyelidiki kaitan Tsunami ratusan tahun silam dengan cerita rakyat tentang kemunculan Roro Kidul di pantai selatan Jawa. Tidak hanya ombak Tsunami namun juga ombak yang dibangkitkan oleh hujan badai di lautan juga dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul.

Terlepas dari kontroversinya, cerita Ratu Kidul boleh jadi suatu bentuk kearifan lokal dalam upaya mitigasi bencana. Saat terjadi gempa Bumi atau saat langit gelap menjelang hujan, masyarakat menjadi siaga dan mengambil inisiatif untuk menjauhi pantai. Karena wilayah selatan rentan terhadap Tsunami dan angin badai serta masyarakatnya yang tanggap bencana, kawasan pemukiman lambat laun akan beralih lebih ke dalam daratan. Kawasan pantai dapat kembali dihijaukan dengan suksesi tanaman bakau, pohon cemara, kelapa serta vegetasi pantai lainnya yang berfungsi untuk meredam kecepatan angin bahkan gelombang Tsunami.

Produktifitas laut
Angin kencang yang melanda pesisir selatan Jawa sebenarnya sangat mendukung terhadap pembentukan fenomena taikan massa air (coastal upwelling). Pada musim timur (Juli hingga September), angin tenggara bertiup menyisir pantai selatan, gesekan angin ini mengakibatkan massa air permukaan terdorong ke lepas pantai. Pada kondisi inilah sering terjadi musibah orang hanyut karena tergulung ombak menjauhi pantai dan ini sering dikaitkan dengan hilangnya orang diambil Nyi Roro Kidul!. Kembali kepada pemahaman oseanografi, untuk mengisi kekosongan kolom air di permukaan, massa air laut dalam yang dingin naik dengan membawa unsur-unsur hara seperti klorofil, nitrat, fosfat dan silikat menuju pantai. Itulah mengapa daerah taikan massa air ini identik dengan wilayah tangkapan ikan (fishing ground) karena didukung oleh kesuburan perairan yang tinggi. Di laut selatan kawasan ini mencakup perairan Nusa Tenggara, Bali, Jawa hingga lepas pantai Bengkulu. Melimpahnya ikan Lemuru di Bali dikarenakan faktor taikan air ini. Dari citra satelit terlihat suhu laut dingin mencapai -1 derajat Celcius. Kondisi laut yang dingin membuat ikan Lemuru senang berada di permukaan. Klorofil dengan konsentrasi tinggi di dekat pantai (citra satelit MODIS AQUA) menjadi makanan utama ikan Lemuru menjadikan populasi Lemuru melimpah di pesisir Bali.

Laut selatan Jawa juga sebagai lokasi medan temu suhu (thermal front) di mana arus dingin khatulistiwa selatan bertemu dengan arus hangat dari utara. Medan temu suhu ini identik dengan kolam air hangat yang menjadi habitat ikan Tuna mata besar. Karena banyaknya fito dan zooplankton sebagai interaksi unsur-unsur hara di lokasi taikan air sehingga menjadi makanan bagi ikan-ikan pelagis kecil yang selanjutnya menarik Tuna mata besar menuju pesisir guna memburu pelagis kecil ini. Inilah mengapa taikan massa air di pesisir selatan Jawa sering dikaitkan dengan daerah tangkapan Tuna mata besar.

Selain mitigasi Tsunami, kearifan lokal Ratu Kidul dapat digunakan untuk mengamati indikasi/petunjuk alam terkait awal masuk musim taikan air yang berimplikasi terhadap tangkapan ikan pelagis kecil dan besar di pantai selatan Jawa. Pada musim timur di awal Juli, saat angin tenggara mulai bertiup kencang dan ombak mulai membesar yang biasanya dikaitkan dengan kemunculan Ratu Kidul, inilah momen taikan massa air dan musim panen ikan seperti Tuna mata besar di pantai selatan Jawa. Cerita Ratu Kidul yang sebelumnya berkonotasi negatif dapat beralih sebagai pembawa kabar positif terkait implikasinya dalam bidang perikanan tangkap. Dengan demikian, bangunan pemecah ombak untuk proteksi pelabuhan dapat dibangun pemerintah, pelabuhan pendaratan ikan menjadi intens beroperasi, pesisir selatan Jawa semakin ramai, perekonomian masyarakat meningkat dan nelayan semakin sejahtera.

Dosen Meteorologi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh sedang menyelesaikan Doktoral di Klimatologi Terapan IPB

Ikuti tulisan menarik Yopi Ilhamsyah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB