x

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (kanan) bersama Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memberikan keterangan pers usai menggelar pertemuan tertutup di DPP NasDem, Jakarta, Rabu, 24 Juli 2019. Anies Baswedan menyatakan hanya bercerita ringan pada saat sowan dan dijamu makan siang oleh Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

Iklan

Rizky Purba

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 29 Juli 2019 08:44 WIB

3 Tahun Reshuffle, Anies Dicapreskan Surya Paloh

Gebrakan Surya Paloh mendukung pencapresan Anies Baswedan ternyata memiliki makna khusus karena bertepatan dengan 3 tahun reshuffle dari kabinet Jokowi-JK.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hari ini tepat 3 tahun Anies Baswedan di-reshuffle dari jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla. Maka bukan kebetulan jika pemberitaan media massa saat ini tengah diramaikan dengan pernyataan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh yang siap mengusung Gubernur DKI Jakarta tersebut di Pilpres 2024. Bentuk salah skenario?

Anies Baswedan lengser dari Mendikbud pada tanggal 27 Juli 2016 setelah malam sebelumnya “disudahkan” oleh Presiden Jokowi. Tidak ada alasan yang pasti mengapa mantan juru bicara pasangan Jokowi-JK di Pilpres 2014 itu mendadak dicopot.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung hanya mengatakan Anies telah bekerja dengan baik, tapi ada ekspektasi yang diinginkan Presiden dan Wapres ke depan yang mungkin berbeda. Dalam berbagai kesempatan, Anies mengatakan meski kaget, namun dirinya tidak mempersoalkan pencopotan tersebut.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tetapi rumor lain yang tidak kalah kencang berhembus saat itu menyebutkan, reshuffle itu merupakan bagian dari skenario untuk menjegal Anies agar tidak “muncul” di Pilpres 2019 maupun 2024. Karir politik Anies diharapkan redup sehingga tidak memiliki kesempatan berkiprah lebih jauh.      

Siapa sangka, jika pencopotan itu justru menjadi jalan bagi Anies untuk menapaki karir politik yang lebih bergengsi. Anies sukses memenangi Pilkada DKI Jakarta 2017. Tidak tanggung-tanggung, Anies menyingkirkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, petahana yang juga jagoan PDIP.

Reshuffle yang diduga dimaksudkan untuk “mengkotakkan” Anies, justru berbalik- melenceng dari skenario para pembisik di Istana. Ibarat Pandawa yang karena kelicikan Patih Sengkuni dibuang ke hutan dengan harapan akan menemui ajal namun justru menjadi fase penggemblengan diri sebagai ksatria sejati, demikian pula yang terjadi pada Anies. Setelah disingkirkan, karir politik Anies justru semakin berkilau.

Belum genap 2 tahun memimpin Jakarta, sejumlah gebrakan fenomenal telah dilakukan. Setelah menghentikan proyek reklamasi, dan mengambil-alih pulau-pulau yang sudah terlanjur dibangun menjadi kawasan pantai yang terbuka untuk umum, tidak lagi ekslusif seperti sebelumnya, Anies pun sukses menata pusat kota sehingga menjadi destinasi wisata unggulan.

Jakarta menjadi kota yang ramah bagi warganya. Tidak ada lagi perlakuan khusus terhadap warga elit karena Jakarta milik bersama. Tidak ada lagi jalan yang hanya dikhususkan untuk pemilik mobil, tidak ada lagi kawasan tertutup yang hanya dihuni kelompok tertentu. Konsep Bhinneka Tunggal Ika benar-benar dijabarkan dalam pembangunan sehingga memberi manfaat kepada semua golongan.

Tidak mengherankan jika keberhasilan Anies menata Jakarta mendapat perhatian sejumlah pihak, termasuk elit politik. nama Anies mulai digadang-gadang sebagai next president. Keretakan ikatan sosial akibat pertarungan politik zonder etika dalam beberapa tahun terakhir, membutuhkan figur pemimpin seperti Anies yang kebijakan politiknya senantiasa dilandasi semangat kebersamaan dan pemerataan kesempatan kepada seluruh warga bangsa. ***

Ikuti tulisan menarik Rizky Purba lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu